Home » Hanung Bramantyo Bongkar Makna ‘Tujuh Setan Desa’ di Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Cerita Horor

Hanung Bramantyo Bongkar Makna ‘Tujuh Setan Desa’ di Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Cerita Horor

Sutradara film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo, saat memberikan keterangan kepada awak media di Yogyakarta, Senin (21/9/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta — Sutradara Hanung Bramantyo membawa isu sejarah, kekuasaan, dan ketimpangan sosial ke dalam film terbarunya, Lobang Buaya. 

Film horor tersebut tidak sekadar mengandalkan teror, tetapi juga mengangkat kembali istilah ‘Tujuh Setan Desa’ yang muncul dalam propaganda politik Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang peristiwa 1965.

Hanung menjelaskan, kisah dua tokoh yang mengalami kesurupan dalam film tersebut bukan cerita nyata. 

Namun, latar sosial-politik yang menjadi pijakan ceritanya berangkat dari konteks sejarah yang menurutnya pernah terjadi.

“Jadi sebenarnya intinya adalah sebelum peristiwa 30 September 1965, sebelum terjadi tujuh jenderal yang dimasukkan dalam Lubang Buaya, ada sebuah kisah,” kata Hanung di Yogyakarta, Senin (21/9/2026). 

Ia kemudian mengaitkan cerita film dengan propaganda ‘Tujuh Setan Desa’ yang berkembang sekitar 1963–1965. 

Istilah itu digunakan untuk menyebut kelompok yang dianggap mengeksploitasi dan menindas masyarakat desa.

Hanung: Tujuh Setan Desa Bukan Sekadar Tokoh dalam Film

Menurut Hanung, kelompok yang disebut ‘Tujuh Setan Desa’ antara lain dikaitkan dengan tuan tanah, kapitalis birokrat, rentenir, tengkulak, pengepul, serta kelompok penguasa.

Dalam konteks film, Hanung menggambarkan bagaimana kelompok yang semestinya memiliki fungsi melindungi masyarakat justru dapat melakukan tindakan kriminal atau melindungi kepentingan tertentu.

“Yang harusnya melindungi warga, melindungi rakyat, justru melakukan tindakan kriminal dan melindungi si tuan tanah,” ujarnya.

Hanung kemudian menarik isu tersebut ke kondisi sosial hari ini. 

Ia menilai, sejumlah bentuk kekuasaan dan praktik ekonomi yang dulu disebut dalam istilah ‘Tujuh Setan Desa’ dapat ditemukan dalam bentuk yang berbeda.

“Tujuh Setan Desa itu ternyata masih ada sekarang. Cuma namanya saja diganti,” katanya.

Ia mencontohkan tuan tanah yang menurutnya kini dapat hadir dalam bentuk korporasi. 

Sementara istilah kapitalis birokrat ia kaitkan dengan pejabat yang membuat kebijakan yang dinilainya lebih memudahkan korporasi daripada masyarakat.

Rentenir juga ia analogikan dengan praktik pinjaman online yang dinilainya dapat membebani masyarakat. Sedangkan tengkulak dan pengepul dikaitkan dengan persoalan harga hasil pertanian.

‘Tujuh Setan Desa’ dan Kritik terhadap Sikap Diam

Bagi Hanung, persoalan tersebut tidak berhenti pada siapa yang memiliki kekuasaan atau modal. 

Ia juga menyoroti sikap masyarakat ketika melihat ketidakadilan.

“Yang paling parah adalah warga desanya diam saja,” ujar Hanung.

Ia menggambarkan kondisi tersebut melalui persoalan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam. 

Ia menyebut, masyarakat juga dapat berada dalam posisi hanya menyaksikan ketika terjadi kerusakan lingkungan atau konflik kepentingan.

Karena itu, Hanung berharap Lobang Buaya tidak hanya ditonton sebagai film horor, tetapi juga dibaca melalui kondisi sosial yang berlangsung saat ini.

“Saya berharap film ini bisa dibaca sesuai dengan kondisi sekarang ini. Jadi sebenarnya siapa sih Tujuh Setan Desa?” paparnya.

Hanung Ingin Buka Lagi Diskusi Sejarah 1965

Hanung juga menyebut film Lobang Buaya sebagai upaya membuka ruang diskusi mengenai sejarah 1965.

Ia menjelaskan, pembahasan mengenai peristiwa tersebut saat ini banyak berlangsung melalui berbagai kanal digital, tetapi menurutnya belum mendapat perhatian yang sama dengan konten hiburan lainnya.

“Sekarang ini cerita tentang peristiwa ’65 hanya muncul di YouTube dan itu viewers-nya cuma sedikit,” tandasnya.

Hanung mengatakan pernah memiliki proyek untuk membuat film remake yang berkaitan dengan peristiwa G30S/PKI. 

Skenario proyek tersebut bahkan telah disiapkan dan dukungan pendanaan telah tersedia, tetapi proyek itu akhirnya tidak dilanjutkan.

“Kita bikin aja film horor seperti ini,” ungkap Hanung.

Ia menambahkan, Lobang Buaya merupakan karya fiksi. 

Namun, film tersebut menggunakan latar dan persoalan sejarah sebagai bagian dari konstruksi ceritanya.

Bukan Pembelokan Sejarah

Terkait kemungkinan tudingan bahwa film tersebut membelokkan sejarah, Hanung menolak anggapan tersebut.

“Pembelokan sejarah? Mana? Apa yang saya belokkan dalam sejarah ini? Nggak ada yang saya belokkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, peristiwa 30 September 1965 dan pembunuhan sejumlah jenderal merupakan bagian dari sejarah yang diketahui publik. 

Sementara kisah mengenai seorang perempuan yang menjadi korban sebelum peristiwa tersebut digunakan sebagai bagian dari cerita film.

“Apakah itu benar atau tidak, kita semua tidak ada yang tahu,” jelasnya.

Hanung menambahkan, dirinya belum menerima intimidasi dari kelompok tertentu terkait film tersebut. 

Lobang Buaya dijadwalkan tayang di bioskop pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan peristiwa G30S/PKI. 

Dari Seven hingga Ghayat al-Hakim

Selain sejarah 1965, Hanung menggabungkan sejumlah referensi lain dalam film tersebut. 

Salah satunya film Seven karya David Fincher yang dibintangi Brad Pitt.

Hanung mengakui Seven merupakan salah satu film favoritnya. 

Ia kemudian mencoba melokalkan pendekatan cerita tersebut dengan memasukkan konsep tujuh dosa ke dalam konteks budaya dan kepercayaan yang menjadi bagian dari film.

“Jadi saya kepengin melokalkan film Seven,” imbuhnya.

Film tersebut juga mengangkat Ghayat al-Hakim, sebuah teks yang dalam sejarah dikenal berkaitan dengan praktik magis dan kemudian dikenal di Eropa dengan nama Picatrix.

Hanung menghubungkan konsep tersebut dengan gagasan budaya Jawa tentang Manunggaling Kawula Gusti, sekaligus menjadikannya bagian dari konstruksi fiksi film.

Lobang Buaya Jadi Horor Keempat Hanung

Bagi Hanung, Lobang Buaya bukan pengalaman pertamanya menggarap film horor. 

Ia sebelumnya pernah menyutradarai sejumlah film bergenre horor, termasuk Trinil, Lentera Merah, dan Legenda Sundel Bolong.

“Ini adalah horor keempat saya sebetulnya,” katanya.

Hanung menyinggung pengalaman filmnya di Rotterdam. Menurut dia, seorang distributor internasional sempat menanyakan apakah dirinya memiliki film horor berikutnya.

Hanung menceritakan, distributor tersebut hanya tertarik membeli film horor, bukan drama. 

Ia menggunakan pengalaman itu untuk menunjukkan bahwa film horor memiliki pasar internasional.

“Genre horor itu tidak hanya laku di Indonesia, tapi juga laku di internasional,” ujarnya.

Meski demikian, Hanung belum memastikan film apa yang akan digarap setelah Lobang Buaya. 

Ia membuka kemungkinan melanjutkan cerita film tersebut apabila mendapat respons pasar yang baik.

“Kalau film ini laku, ya saya lanjutkan film ini. Kan ini tadi belum selesai,” imbuhnya.

Dengan jadwal tayang pada 1 Oktober, Hanung berharap Lobang Buaya tidak berhenti sebagai tontonan horor. 

Film itu ingin ia jadikan pintu masuk untuk mengajak penonton melihat kembali sejarah 1965, sekaligus mempertanyakan bagaimana relasi kekuasaan, masyarakat, dan ketimpangan sosial hadir dalam kehidupan hari ini. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *