PROSA.ID, Yogyakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyoroti lemahnya kemampuan teori dalam menjelaskan realitas politik.
Ia mengingatkan pentingnya pendekatan kontekstual agar ilmu tidak terjebak pada konsep yang jauh dari kondisi nyata.
Menurutnya, adanya kesenjangan antara teori dan realitas dalam kajian ilmu politik yang dinilai semakin kompleks.
Haedar menilai, ilmu pengetahuan kerap belum mampu menjelaskan realitas secara utuh, sehingga pemahaman terhadap persoalan politik sering kali bersifat parsial.
“Setiap peristiwa atau masalah memiliki kebenarannya sendiri. Namun, ilmu pengetahuan sering kali belum mampu memahami, bahkan gagal menjelaskan realitas tersebut secara konstruktif sebagaimana adanya, karena adanya jarak antara teori dan realitas,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Haedar menjelaskan, dalam ilmu politik terdapat berbagai pendekatan seperti sistem politik, budaya politik, dan perilaku politik. Namun, jika tidak dikembangkan secara integratif, pendekatan tersebut tidak mampu memberikan gambaran menyeluruh.
“Jika tidak berjalan secara integratif, kita akan tetap parsial dalam melihat fenomena politik. Dalam sistem terdapat aktor, struktur, nilai, dan budaya yang saling berkaitan,” jelasnya.
Ia menekankan, pentingnya pendekatan deep description agar ilmuwan dapat memahami realitas secara lebih mendalam dan kontekstual. Dengan begitu, ilmu tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga relevan dengan kondisi masyarakat.
Selain itu, Haedar juga menyinggung perbedaan pendekatan ilmu politik di Barat. Ia menyebut Amerika Serikat lebih menekankan metodologi dan pragmatisme, sementara Eropa kuat pada aspek filsafat dan epistemologi.
Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan akademisi agar tidak serta-merta mengadopsi teori dari luar tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya Indonesia.
“Kita tidak bisa serta-merta mengambil teori dari Amerika atau Eropa untuk diterapkan begitu saja. Kita harus memahami realitas kita sendiri. Jika tidak, kita hanya akan terjebak dalam ‘menara gading’,” tegasnya.
Haedar juga menyoroti kecenderungan dunia yang semakin pragmatis, di mana banyak keputusan diambil tanpa pijakan nilai dan visi jangka panjang.
“Banyak pihak hanya berpikir secara praktis dan pragmatis. Padahal, kehidupan berbangsa dan bernegara memerlukan arah, peta jalan, dan nilai yang jelas. Tanpa fondasi nilai yang kuat, upaya membangun pemahaman bersama dalam kehidupan berbangsa berpotensi memicu konflik,” pungkasnya. (Ken).
