PROSA.ID, Yogyakarta — Semangat gotong royong kembali menghidupkan perayaan kemerdekaan di Kampung Dipowinatan, Kota Yogyakarta.
Warga menggelar Pesta Rakyat pada 18 Agustus 2026 dengan mengangkat filosofi Golong Gilig sebagai kekuatan bersama dalam menjaga kehidupan kampung.
Tradisi tahunan tersebut tidak sekadar menjadi pesta rakyat.
Warga menjadikannya ruang untuk merawat kebersamaan, mengenalkan budaya kampung, sekaligus memaknai kemerdekaan melalui kerja kolektif.
Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho mengatakan, masyarakat perlu terus mempertahankan nilai Golong Gilig sebagai identitas warga Yogyakarta.
“Makna Golong Gilig adalah gotong royong, saling membantu dan bersama-sama masyarakat. Sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin,” kata Agus, Selasa (18/8/2026).
Filosofi Sapu Lidi Jadi Simbol Kekuatan Bersama
Agus menjelaskan, filosofi Golong Gilig tergambar melalui sapu lidi.
Satu batang lidi tidak memiliki kekuatan untuk membersihkan kotoran.
Namun, ketika banyak lidi disatukan dan diikat, kekuatannya berubah menjadi besar.
Menurutnya, filosofi tersebut menggambarkan kekuatan masyarakat ketika bersatu menghadapi persoalan.
“Kalau sapu lidi berdiri masing-masing, dia tidak akan memiliki kekuatan untuk menyapu kotoran. Tetapi ketika ditalikan menjadi satu, Insyaallah kotoran itu akan mudah tersingkirkan,” ujarnya.
Agus menyebut, nilai tersebut harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta.
Ia juga mengaitkannya dengan sejarah perjuangan bangsa.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia, kata dia, lahir dari kekuatan masyarakat yang bergerak bersama.
Semangat serupa juga terlihat dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Saat itu, masyarakat dan para pejuang menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada.
Peristiwa tersebut kemudian ikut memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan diplomasi hingga pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar.
“Bukan karena seseorang yang hebat, tetapi seluruh masyarakat bersama-sama bersepakat untuk memperjuangkan kemerdekaan,” jelas Agus.
Gotong Royong Teruji Saat Pandemi
Agus menjelaskan, semangat Golong Gilig kembali terlihat ketika masyarakat Indonesia menghadapi pandemi Covid-19.
Ia mengungkapkan, masyarakat menunjukkan solidaritas melalui berbagai bentuk bantuan sederhana.
Warga saling berbagi makanan dan kebutuhan sehari-hari untuk membantu tetangga yang membutuhkan.
“Yang punya sayur dicantelkan di pagar rumah sebagai bentuk kegotongroyongan. Itu tidak terpisahkan dari kehidupan sesama warga masyarakat,” ungkapnya.
Karena itu, Agus mengajak warga untuk menjadikan Golong Gilig bukan sekadar simbol dalam sebuah acara, tetapi sebagai sikap yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap, semangat tersebut mampu membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Semoga dengan semangat Golong Gilig, semangat gotong royong ini, kita mampu menjawab semua tantangan zaman,” jelasnya.
Golong Gilig Jadi Tradisi Sejak 2015
Pengurus Kampung Dipowinatan, Mahadeva Wahyu menambahkan, warga rutin menggelar Golong Gilig setiap 18 Agustus sejak 2015.
Tradisi tersebut menjadi salah satu puncak rangkaian perayaan kemerdekaan di Kampung Dipowinatan.
“Manifestasi kemerdekaan itu berangkat dari gotong royong. Tahun 1945 kita merdeka, banyak cerita tentang kegotongroyongan,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, warga menggunakan simbol sapu lidi untuk menggambarkan filosofi Golong Gilig.
Satu lidi mudah patah, tetapi banyak lidi yang dirangkai menjadi satu akan memiliki kekuatan jauh lebih besar.
“Pada saat lidi itu banyak dan dirangkai menjadi satu, maka lidi itu tidak akan mudah patah dan bisa menyapu dengan bersih,” katanya.
Kirab Budaya Buka Rangkaian Acara
Golong Gilig tahun ini dimulai dengan Kirab Budaya pada pukul 14.00 WIB.
Warga membawa gunungan bakpao dan arem-arem berkeliling kampung dengan iringan Bregada Dipo Satrio.
Warga yang aktif dalam kegiatan seni dan budaya juga ikut terlibat.
Sedikitnya empat kelompok kesenian tampil dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Selain Bregada Dipo Satrio, warga menampilkan kelompok tari dan berbagai pertunjukan budaya lainnya.
Pada sore hari, panitia menampilkan fragmen Sang Dipo Winoto.
Pertunjukan tersebut mengangkat kisah cikal bakal berdirinya Kampung Dipowinatan.
Fragmen itu menceritakan penggabungan dua kampung, yakni Kampung Numbak Anyar dan Kampung Bintaran, yang kemudian menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Kampung Dipowinatan.
Warga Swadaya Gelar Bulan Kemerdekaan
Mahadeva menambahkan, seluruh rangkaian perayaan kemerdekaan berlangsung melalui swadaya masyarakat.
Warga menyumbangkan dana dan sumber daya untuk menggelar berbagai kegiatan selama hampir satu bulan.
Rangkaian Bulan Kemerdekaan dimulai pada 2 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 29 Agustus 2026 melalui pentas seni.
Golong Gilig dan Pesta Rakyat pada 18 Agustus menjadi salah satu dari dua puncak kegiatan perayaan kemerdekaan di wilayah Kampung Dipowinatan.
“Alhamdulillah kita dengan swadaya. Warga berdonasi, sehingga kita bisa menggelar acara satu bulan penuh untuk merayakan kemerdekaan,” imbuhnya.
Pesta Rakyat Bagikan Kuliner Gratis
Semangat gotong royong juga terlihat dalam pesta rakyat.
Warga membawa makanan yang mereka miliki untuk kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Mahadeva mengungkapkan, kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur warga atas kehidupan kampung yang aman, rukun, dan tenteram.
“Pesta rakyat ini bagian dari wujud warga kami bersukaria dan bersyukur atas kehidupan yang bisa akur, tenteram di sini,” katanya.
Selain memperkuat kebersamaan, pesta rakyat sekaligus menjadi sarana mengenalkan potensi kuliner Kampung Dipowinatan.
Warga membuka ruang bagi masyarakat luar kampung untuk mengenal dan menikmati beragam kuliner yang tersedia.
Mahadeva berharap, kegiatan tersebut dapat memperkuat posisi Dipowinatan sebagai kampung wisata berbasis budaya, seni, kuliner, dan gotong royong.
Bagi warga Dipowinatan, kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni.
Mereka menerjemahkannya melalui kebersamaan, berbagi, berkesenian, dan menjaga hubungan antartetangga.
Semangat Golong Gilig pun terus mereka hidupkan sebagai kekuatan bersama untuk menjaga identitas kampung dan menghadapi tantangan zaman. (Ken).
