Home » Gelar Open House, KB Gantari Kampanyekan Penggunaan Gadget yang Bijak dan Kenalkan Pendidikan Ramah Anak

Gelar Open House, KB Gantari Kampanyekan Penggunaan Gadget yang Bijak dan Kenalkan Pendidikan Ramah Anak

KB Gantari menggelar Open House 2026, di YAKKUM Yogyakarta, Jumat (12/6/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Kelompok Bermain (KB) Gantari menggelar Open House 2026 di Kompleks Rehabilitasi YAKKUM, Yogyakarta, Jumat (12/6/2026).

Melalui kegiatan ini, KB Gantari tidak hanya menampilkan hasil belajar siswa, tetapi juga mengampanyekan penggunaan gadget secara bijak sekaligus memperkenalkan konsep pendidikan usia dini yang berfokus pada tumbuh kembang anak.

Kegiatan tersebut menghadirkan 31 siswa, 40 orang tua dan wali murid, anggota komite sekolah, serta calon orang tua peserta didik.

KB Gantari juga membuka ruang interaksi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Tampilkan Karya dan Pentas Seni Anak

KB Gantari membuka kegiatan dengan berbagai penampilan seni yang dibawakan para siswa.

Anak-anak menampilkan kemampuan mereka melalui tarian, musik, dan pertunjukan kreatif yang mereka pelajari selama proses pembelajaran.

Selain pentas seni, sekolah juga memamerkan berbagai karya siswa sebagai bentuk apresiasi terhadap proses belajar anak.

Pengunjung dapat melihat langsung hasil kreativitas anak yang lahir dari berbagai aktivitas pembelajaran berbasis eksplorasi dan pengalaman.

Pada kegiatan tersebut, sekolah juga menyediakan sejumlah kegiatan interaktif seperti messy play, claydate, serta berbagai aktivitas sensori yang memungkinkan anak-anak belajar sambil bermain.

Kenalkan Sistem Pembelajaran Berbasis Tumbuh Kembang Anak

Kepala KB Gantari, Sri Rejeki, menjelaskan bahwa Open House menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah tersebut.

Menurutnya, KB Gantari merancang seluruh proses pembelajaran sesuai tahapan perkembangan anak sehingga mampu mendukung pertumbuhan motorik, sensorik, sosial, emosional, dan kreativitas secara seimbang.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa sistem pembelajaran di KB Gantari sangat mendukung tumbuh kembang anak. Ada kegiatan sensori, motorik, kreativitas, hingga interaksi sosial yang menjadi fondasi penting sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).

Sri Rejeki menyebyut, pihaknya sengaja mengundang masyarakat sekitar agar semakin mengenal keberadaan KB Gantari.

“KB Gantari ini sebagai ruang belajar yang ramah anak dan mendukung perkembangan anak secara optimal,” jelasnya.

Soroti Dampak Penggunaan Gadget Berlebihan

Pada Open House 2026, KB Gantari mengangkat tema penggunaan gadget dalam Parenting Class.

Menurut Sri Rejeki, tema ini sangat sesuai dengan kondisi anak di era saat ini.

Ia menilai, semakin banyak anak usia dini yang mengalami hambatan tumbuh kembang akibat penggunaan gawai yang tidak terkontrol.

“Kami ingin mengembalikan fitrah anak-anak, yaitu bermain, bereksplorasi, mengembangkan motorik dan sensorinya. Semua itu menjadi bekal penting bagi mereka untuk belajar dan bersosialisasi di masa depan,” kata Sri Rejeki.

Ia menegaskan,  sekolah terus mendorong anak untuk belajar melalui pengalaman langsung, permainan aktif, serta interaksi sosial yang sehat.

“Sekolah mengajak orang tua untuk memahami pentingnya membatasi screen time dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak,” ungkapnya.

Parenting Class Bahas Bahaya Ketergantungan Gadget

KB Gantari menutup rangkaian Open House dengan Parenting Class bertema ‘Meminimalisir Gadget dan Memilih Tontonan Sehat serta Ajakan Bermain Alternatif’.

Dalam acara itu, sekolah menghadirkan dokter anak, psikolog, dan guru KB Gantari sebagai narasumber.

Ketiganya menyoroti pentingnya pendampingan orang tua dalam penggunaan gadget serta perlunya menyediakan alternatif aktivitas yang lebih bermanfaat bagi anak.

Salah satu narasumber yang berprofesi sebagai Dokter Anak, dr. Margareta Yuliani menjelaskan, masa balita merupakan periode emas perkembangan otak yang membutuhkan stimulasi aktif melalui bermain dan interaksi sosial.

“Sekitar 90 persen pertumbuhan otak manusia terjadi pada usia di bawah lima tahun,” ungkapnya.

Menurut dr.Margareta, jika ingin mengoptimalkan potensi kecerdasan anak, masa ini sangat penting.

Sebab, anak membutuhkan stimulasi, bermain, interaksi dengan orang tua, serta teman-temannya.

“Bermain menghadirkan komunikasi dua arah, sedangkan gadget pada dasarnya hanya memberikan komunikasi satu arah,” jelasnya.

dr.Margareta menilai, penggunaan gadget tanpa pendampingan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi dan mengembangkan kemampuan sosial maupun emosional.

“Anak akan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar ketika mereka bermain, berlari, berbicara, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Orang Tua Rasakan Manfaat Pembelajaran di KB Gantari

Salah satu wali murid, Monica Trisna mengaku melihat perubahan yang sangat signifikan pada putranya, Josear Selam, sejak mengikuti kegiatan belajar di KB Gantari.

Ia mendaftarkan anaknya saat berusia dua tahun dua minggu. Setelah hampir satu tahun mengikuti pembelajaran, Josear menunjukkan perkembangan yang lebih baik dalam kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungan.

“Anak saya masuk sekolah sini saat umur dua tahun dua minggu. Saat ini usianya sudah hampir tiga tahun. Sejak bersekolah di sini, saya melihat perkembangan yang sangat baik, terutama dalam keberanian, interaksi sosial, dan aktivitasnya sehari-hari,” ungkap Monica

Ia menilai, berbagai program sekolah seperti berkebun, berenang, bermain musik, permainan sensori, hingga pengenalan profesi membantu anak memperoleh pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan.

Monica juga menerapkan aturan yang ketat terkait penggunaan gadget di rumah.

Ia lebih sering mengajak anak bermain di luar ruangan, bermain tanah, membuat kreasi dengan clay, serta mengeksplorasi lingkungan sekitar.

“Kalau memegang HP sangat dibatasi dan diawasi. Saya lebih memilih mengajak anak bermain aktivitas fisik karena di sekolah juga banyak kegiatan sensori yang mendukung tumbuh kembangnya,” tuturnya. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *