Home » Film Baby Udon Ungkap Kisah Hajime Kondoh dan Fanny Kondoh, Denny Sumargo: Saya Beruntung Dipilih Cerita Ini

Film Baby Udon Ungkap Kisah Hajime Kondoh dan Fanny Kondoh, Denny Sumargo: Saya Beruntung Dipilih Cerita Ini

Para pemain bersama penonton usai screening film Baby Udon di Yogyakarta, Senin (17/8/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Film Baby Udon membawa kisah nyata Hajime Kondoh dan Fanny Kondoh ke layar lebar.

Film yang digarap sutradara Fajar Bustomi ini mengangkat perjalanan pasangan tersebut dengan berbagai persoalan kehidupan.

Digarap selama 18 hari, film ini mengisahkan tentang perjuangan memiliki keturunan, penyakit kanker, hingga persoalan restu dalam hubungan.

Aktor sekaligus produser Denny Sumargo memerankan karakter Hajime Kondoh dalam film tersebut. 

Menariknya, Denny mengaku sejak awal bukan dirinya yang diproyeksikan untuk memerankan karakter tersebut.

Denny justru bergabung sebagai pemeran setelah proses pencarian pemain berlangsung cukup panjang. 

Kondisi produksi yang molor dari rencana awal membuat Denny akhirnya mengambil keputusan untuk memainkan karakter Hajime.

“Dari awal memang harusnya bukan saya yang main,” kata Denny, Senin (17/8/2026).

Menurut Denny, tim produksi sebelumnya sudah menawarkan karakter tersebut kepada sejumlah nama besar di dunia perfilman Indonesia. 

Namun, beberapa kandidat tidak bisa menerima tawaran karena persoalan waktu, sementara sebagian lainnya tidak memberikan respons.

Kondisi itu membuat produksi Baby Udon yang semula ditargetkan berlangsung tiga bulan mengalami kemunduran hingga sekitar delapan bulan.

“Sudah molor sekitar lima bulan. Dari yang harusnya tiga bulan jadi sudah delapan bulan. Maka saya enggak punya pilihan selain saya harus main,” ujarnya.

Denny Sumargo Merasa Beruntung Dipilih Kisah Hajime dan Fanny

Denny mengatakan, keterlibatannya dalam Baby Udon tidak bermula dari keinginannya memilih cerita Fanny Kondoh. 

Ia justru merasa mendapatkan kesempatan karena kisah tersebut datang kepadanya.

“Sebenarnya bukan saya memilih, saya beruntung dipilih oleh cerita beliau,” jelasnya.

Sebelumnya, kisah Fanny Kondoh sempat mendapat perhatian setelah hadir dalam podcast Denny Sumargo. 

Sejumlah rumah produksi kemudian tertarik mengangkat cerita tersebut menjadi film.

Namun, Fanny akhirnya memilih bekerja sama dengan Denny.

Denny pun tidak ingin Baby Udon hanya menjadi film yang mengadaptasi kisah nyata tanpa menghadirkan pesan yang kuat. 

Ia melihat perjalanan Hajime dan Fanny sebagai cerita yang memiliki banyak sisi kehidupan.

“Kayak kamu ketemu jodohmu ya tiba-tiba di satu tempat dan terjadilah kisah ini,” ungkapnya.

Caitlin Halderman Perankan Fanny Kondoh

Caitlin Halderman mendapat tantangan besar ketika memerankan Fanny Kondoh. 

Salah satu tantangan tersebut muncul ketika ia harus menggunakan logat Jawa yang medok.

Bahkan, Caitlin harus mempertahankan logat tersebut ketika karakter Fanny berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Caitlin mengungkapkan, dirinya tidak menjalani latihan khusus untuk mempelajari logat Jawa. 

Ia lebih banyak mengandalkan observasi terhadap cara bicara Fanny Kondoh.

“Aku punya lumayan gampang meniru aksen-aksen orang. Cara ngomong orang tuh aku lumayan gampang menangkap,” paparnya.

Ia juga sering berinteraksi dengan Fanny untuk mendapatkan karakter suara dan gaya bicara yang sesuai.

“Karena ngobrol sama Kak Fanny terus aku perhatiin medoknya Kak Fanny tuh seberapa, cara ngomongnya tuh gimana,” jelas Caitlin.

Fanny Kondoh: Baby Udon Menjadi Legacy untuk Anak

Bagi Fanny Kondoh, Baby Udon memiliki makna personal yang sangat besar. 

Ia menyebut film tersebut sebagai legacy atau warisan cerita untuk anaknya, Kazuki.

“Film ini tuh adalah legacy buat anak saya Kazuki,” tandasnya.

Fanny berharap, film tersebut dapat menjangkau penonton dari berbagai latar belakang karena cerita yang dibawa memiliki banyak persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ia menyebut, perjuangan memiliki keturunan, perjuangan menghadapi kanker, hingga persoalan restu pasangan sebagai bagian dari cerita yang dapat membuat penonton merasa terhubung.

“Filmnya menurut aku bisa nyangkut ke banyak segmen,” imbuhnya.

Fanny juga ingin penonton membawa pulang satu pesan utama setelah menyaksikan Baby Udon, yakni harapan.

“Semoga kalian bisa mampir ke bioskop ngerasain ini dan bisa merasakan pesan yang bisa dibawa pulang, yaitu harapan,” lanjut Fanny.

Baby Udon Tayang 3 September 2026

Para pemain kemudian mengajak masyarakat menyaksikan Baby Udon di bioskop mulai 3 September 2026.

Caitlin Halderman meminta penonton mengajak keluarga, teman, dan orang-orang terdekat untuk menyaksikan film tersebut.

“Jangan lupa ya, nonton tanggal 3 September di bioskop,” ujar Caitlin.

Denny Sumargo juga mengajak masyarakat ikut menyebarkan informasi mengenai film tersebut melalui media sosial.

“Jangan lupa bagikan kepada setiap orang supaya film ini menjadi sesuatu. Karena kalau enggak karena kalian, film ini akan berhenti di situ aja,” sambung Denny.

Ia berharap, kisah Hajime Kondoh dan Fanny Kondoh dalam Baby Udon mampu menyentuh hati penonton sekaligus menghadirkan pesan tentang perjuangan, cinta, keluarga, dan harapan.

“Semoga kisah ini akan bisa menghangatkan hati setiap warga Indonesia,” pungkas Denny. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *