Home » Efisiensi Disuarakan Lewat Komik, Jogja Komik Weeks 2025 Buktikan Seniman Tak Berhenti Berkarya

Efisiensi Disuarakan Lewat Komik, Jogja Komik Weeks 2025 Buktikan Seniman Tak Berhenti Berkarya

Pengunjung sedang menyaksikan pameran Jogja Komik Weeks 2025 di Sonobudoyo Yogyakarta, Jumat (10/10/2025). (Foto: prosa/Ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Kebijakan efisiensi anggaran yang diberlakukan pemerintah, termasuk Dana Keistimewaan DIY, menjadi isu yang masih menjadi sorotan. Di kalangan seniman, isu ini justru diangkat menjadi sebuah karya apik yang menjadi media dalam menyuarakan kegelisahan.

Lewat Jogja Komik Weeks (JKW) 2025 dengan tema ‘Efisiensi Literasi’, sebanyak 30 seniman menghadirkan karyanya di Sonobudoyo pada 10-19 Oktober 2025.

Kurator JKW 2025, Terra Bajraghosa mengatakan, efisiensi memiliki arti bukan hanya sekedar pemangkasan atau penyederhanaan yang dangkal saja. Efektivitas pengiriman makna dan isi pesan yang mampu dipahami oleh pengguna dengan usia, latar belakang pendidikan, dan pengalaman beragam dapat dicapai dengan kreasi visual yang mengolah garis, gambar, tipografi dalam suatu komposisi dan balutan narasi.

“Sebagai karya yang merefleksikan kebudayaan di sekitarnya, komik terus berkembang dan semakin membuktikan perannya dalam literasi visual yang efektif,” katanya dalam pembukaan Jogja Komik Weeks 2025 di Sonobudoyo Yogyakarta, Jumat (10/10/2025).

Terra mengungkapkan, komik memiliki sifat menghibur yang dipertahankan. Namun seiring perkembangan waktu, saat ini mulai didapati komik yang menyampaikan gagasan-gagasan, personal, pengetahuan, kisah sejarah, biografi, jurnalisme dan komik yang menantang.

Pameran JKW 2025 dihadirkan sebagai upaya memahami dan sekaligus mempresentasikan bagaimana medium komik dapat menyampaikan pesan, makna dan suatu gagasan secara ringkas, tepat, dan efektif bagi audiens.

“Tema kuratorial Efisiensi Literasi ini ditawarkan kepada seniman untuk kemudian diinterpretasikan, ditafsirkan, ditantang, ditawar ataupun dikritik melalui karya masing-masing, baik yang telah ada maupun yang baru,” jelasnya.

Ketua Penyelenggara JKW 2025, Yudha Sandy menyebut, melalui acara ini para komikus Yogyakarta tengah berbicara tentang keresahan mereka tentang ancaman pengurangan anggaran besar-besaran untuk kegiatan seni dan budaya. Ia mengaku merasa ada sedikit kekhawatiran, meski juga menjadi tantangan.

“Ya ada rasa sedikit khawatir, tapi ini juga jadi tantangan. Kalau dana dari pemerintah berkurang, bukan berarti berhenti berkarya. Tapi kebijakan ini jelas memaksa kami untuk cari jalan lain, sponsor atau kolaborasi, apapun. Komikus Jogja tidak akan diam,” imbuhnya.

Tema Efisiensi Literasi yang diangkat dalam JKW 2025, lanjut Sandy, dimaknai sebagai kritik sosial terhadap arah kebijakan pemerintah. Kritik itu dibawa dengan bentuk bahasa komik.

“Komik itu efisien, cepat, tepat, dan emosional. Tapi ketika efisiensi dijadikan alasan untuk memangkas kebudayaan, itu jadi ironis,” ungkapnya.

Menurut Sandy, pemangkasan anggaran ini juga berdampak pada regenerasi komikus muda yang rutin diselenggarakan melalui program Kukuruyug. Program tersebut menyasar siswa siswi SMA di seluruh DIY yang dikemas dalam bentuk pelatihan dan lomba komik.

“Sebelum efisiensi dulu pesertanya bisa sampai 100 orang, sekarang berkurang jadi 80 orang. Padahal setiap tahun ada talenta-talenta muda yang harus dibina,” jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menambahkan, efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah temasuk dalam kegiatan kebudayaan memang berdampak. Meski demikian, ekosistem seni di Yogyakarta memiliki daya hidup yang khas dan tidak mudah tumbang.

“Komik menjadi jembatan yang efisien untuk merawat ingatan dan mengajarkan nilai budaya dengan cara yang dekat dan menyenangkan. Alhamdulillah, Yogyakarta ini istimewa. Komunitas seni dan budaya di sini tumbuh secara organik. Kami hanya memperkuat dari sisi dukungan,” katanya.

Dian menyebut, sebagai bagian dari Pemda DIY, pihaknya terus berupaya menjaga ruang bagi seniman agar tetap dapat berekspresi meski di tengah efisiensi.

“Kami punya aset yang bisa dipakai bersama, kami fasilitasi kegiatan, kami dorong kerja sama lintas komunitas. Substansi ini tidak boleh hilang hanya karena dana berkurang,” pungkasnya. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *