Home » Ditempa Duka dan Kemiskinan, Rani Lolos UGM dengan UKT Gratis 100 Persen

Ditempa Duka dan Kemiskinan, Rani Lolos UGM dengan UKT Gratis 100 Persen

Francisca Rani Indira bersama sang ibu. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Duka kehilangan ayah hanya 11 hari sebelum ujian tidak mematahkan semangat Francisca Rani Indira (18).

Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, gadis asal Bantul itu justru membuktikan bahwa kerja keras mampu mengalahkan keadaan.

Berkat ketekunan belajar, Rani berhasil lolos ke Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia lolos melalui jalur UM UGM CBT sekaligus memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100 persen.

Perjalanan Rani menuju kampus impiannya tidak berlangsung mudah.

Rani harus menghadapi ujian hidup yang datang bertubi-tubi.

Mulai dari kondisi ekonomi keluarga yang terbatas hingga kehilangan sosok ayah yang selama ini menjadi penyemangat terbesar dalam hidupnya.

Belajar di Rumah Sakit demi Mengejar Mimpi Kuliah di UGM

Rani mengawali perjuangannya dengan menemani sang ayah menjalani perawatan di rumah sakit.

Di sela-sela menjaga ayahnya, ia tetap membawa buku dan mengerjakan latihan soal untuk menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Namun, situasi itu membuat konsentrasinya sering terpecah. Ia akhirnya gagal lolos melalui jalur SNBT.

Rani tidak larut dalam kekecewaan. Ia segera menyusun kembali targetnya dan langsung mempersiapkan diri menghadapi UM UGM CBT.

“Waktu itu bapak dirawat di rumah sakit, jadi buat belajar juga susah fokus. Setelah nggak keterima SNBT, aku langsung belajar lagi buat UM UGM,” ujarnya dikutip Minggu, (26/7/2026).

Kehilangan Ayah, Hanya Punya Waktu 11 Hari Persiapan

Cobaan terbesar datang ketika ayahnya meninggal dunia menjelang pelaksanaan ujian mandiri UGM.

Saat itu, Rani hanya memiliki waktu sekitar 11 hari untuk mempersiapkan diri.

Alih-alih menyerah, ia memilih bangkit. Rani menghabiskan sebagian besar waktunya belajar di Perpustakaan Daerah Bantul hingga malam hari.

Setiap hari, ia menargetkan menyelesaikan antara 100 hingga 200 soal latihan agar semakin siap menghadapi ujian.

“Aku seringnya belajar di Perpusda. Selama sekitar 11 hari aku mengerjakan 100 sampai 200 soal setiap hari,” kenangnya.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Nama Rani tercantum sebagai mahasiswa baru UGM setelah dinyatakan lolos di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM.

Persembahkan Kelulusan untuk Mendiang Ayah

Kelulusan tersebut bukan sekadar keberhasilan akademik. Rani mempersembahkannya untuk sang ayah yang sejak lama bercita-cita melihat putri semata wayangnya mengenakan jaket almamater UGM.

Kini, Rani tinggal bersama ibunya, Yuani (48), di rumah sederhana di Dusun Suren Wetan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul.

Sebagai anak tunggal, Rani ingin menjadi alasan kebahagiaan ibunya sekaligus mewujudkan harapan terakhir sang ayah.

“Aku pengen banget ngebahagiain ibu karena sekarang tinggal punya ibu. Terus bapak juga dulu pengen banget anaknya bisa masuk UGM. Bapak yang dari dulu mengantar aku sekolah, menemani ambil rapor, sampai menyemangati aku dalam belajar,” ungkapnya.

Ibu Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Sejak suaminya meninggal dunia, Yuani bekerja sebagai buruh di sebuah rumah produksi keripik tempe untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Penghasilannya terbatas. Meski begitu, ia tidak pernah meminta putrinya mengubur mimpi berkuliah.

Yuani mengaku sempat khawatir memikirkan biaya pendidikan. Namun, ia dan almarhum suaminya selalu sepakat untuk mendukung Rani melanjutkan kuliah.

“Senang sekali. Dari kemarin bapaknya juga ingin anaknya bisa masuk UGM. Enggak tahu nanti biayanya bagaimana, diurus nanti sambil jalan,” ungkapnya.

Dapat UKT Gratis, Beban Keluarga Berkurang

Kabar baik akhirnya datang setelah Rani tidak hanya diterima di UGM, tetapi juga memperoleh subsidi UKT hingga 100 persen.

Bantuan tersebut membuat Rani dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa membebani ibunya yang kini menjadi orang tua tunggal.

Yuani berharap putrinya tetap rendah hati, rajin belajar, dan mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu.

“Semoga diberikan kelancaran kuliahnya, dipermudah urusannya. Rajin belajar ya, nak, biar orang tua juga semangat,” tuturnya.

Aktif Organisasi dan Riset Sejak SMA

Prestasi Rani tidak hanya terlihat di bidang akademik. Selama bersekolah di SMAN 2 Bantul, ia aktif mengikuti berbagai organisasi.

Sejak kelas 10, Rani bergabung dalam tim riset sekolah.

Ia pernah meneliti kehidupan para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

Ia juga dipercaya menjadi Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR), aktif mengelola perpustakaan melalui organisasi Prapanca Muda, serta mengikuti berbagai kegiatan kerohanian.

Berbagai pengalaman itu membentuk karakter Rani menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah.

Proses Lebih Penting daripada Kemenangan

Rani meyakini setiap proses memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil akhir.

Prinsip itu ia pegang sejak aktif mengikuti penelitian di sekolah.

Ia menyebut, guru-gurunya selalu mengajarkan bahwa keberhasilan lahir dari ketekunan menyelesaikan setiap tahapan, bukan semata-mata dari kemenangan.

“Guruku pernah bilang, di riset itu menang adalah bonus. Yang paling berharga itu ketika kita bisa menyelesaikan prosesnya sampai selesai,” katanya.

Kisah Francisca Rani Indira menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi, kehilangan orang tercinta, dan berbagai kesulitan hidup tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.

Dengan tekad, disiplin, dan dukungan keluarga, Rani membuktikan bahwa mimpi besar tetap bisa diwujudkan. (Frista).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *