Home » Dari Kota Kecil Menuju Sinema Epik: Imajinasi Syrian tentang Soundtrack Film Kolosal Indonesia

Dari Kota Kecil Menuju Sinema Epik: Imajinasi Syrian tentang Soundtrack Film Kolosal Indonesia

Grup band Syrian bersama Bonita. (istimewa).

PROSA.ID, Salatiga – Bagi banyak musisi, mimpi untuk terlibat dalam produksi film besar mungkin terdengar seperti sesuatu yang jauh.

Namun bagi band asal Salatiga, Syrian, gagasan itu justru menjadi bagian dari visi kreatif mereka sejak awal.

Band ini secara terbuka mengakui bahwa banyak inspirasi musikal mereka datang dari dunia sinema, khususnya film-film epik berskala besar.

Dalam sebuah wawancara, gitaris Syrian, Doni, mengatakan bahwa film kolosal seperti Dune memberi pengaruh besar terhadap cara mereka membayangkan musik.

“Kami selalu terinspirasi dari film-film kolosal semacam Dune. Saat ini industri film di Indonesia belum sampai di titik untuk memproduksi film-film kolosal yang megah. Suatu saat kalau industri film kita sudah siap, kami ingin sekali musik kami menjadi soundtrack film-film semacam itu,” katanya dalam rilis yang diterima prosa.id, Rabu (11/3/2026).

Bagi Syrian, musik bukan sekadar medium hiburan, tetapi juga ruang untuk membangun lanskap imajinasi. Mereka melihat bagaimana dalam film-film epik, musik mampu memperluas dunia cerita menciptakan atmosfer, menegaskan emosi, dan memberi kedalaman pada narasi visual.

Namun Doni juga menyadari bahwa mimpi tersebut, setidaknya untuk saat ini, masih terasa seperti sesuatu yang hampir sureal.

“Mungkin kalau sekarang semuanya terasa seperti sureal, apalagi untuk kami yang hanya band dari kota kecil, tidak punya koneksi ke arus utama industri ini,” jelasnya.

Syrian memang datang dari ekosistem musik yang jauh dari pusat industri. Tidak berada di Jakarta atau kota-kota besar yang menjadi pusat produksi hiburan membuat perjalanan mereka terasa berbeda. Tetapi justru di situlah mereka menemukan cara memandang situasi ini dengan perspektif yang lebih santai bahkan sedikit humor.

Menurut Doni, mimpi tentang film epic kolosal di Indonesia sebenarnya juga masih berada dalam wilayah imajinasi.

“Berhubung gagasan film epik kolosal di Indonesia juga masih sureal, jadi kesamaan kita dengan para pelaku industri film adalah kita berangkat dari titik yang sama yaitu titik sama-sama masih berimajinasi,” kelakarnya.

Alih-alih melihat keterbatasan sebagai penghalang, Syrian justru memanfaatkannya sebagai ruang untuk mempersiapkan sesuatu sejak dini.

Mereka mulai membangun karakter musikal yang lebih sinematik melalui karya-karya mereka, termasuk single ‘Muasal’ yang menampilkan kolaborasi dengan penyanyi Bonita.

Lagu tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana Syrian mencoba menghadirkan atmosfer yang lebih luas dan dramatis sebuah pendekatan yang sering ditemukan dalam musik latar film.

Sebab bagi mereka, proses ini adalah semacam investasi kreatif untuk masa depan.

“Nanti ketika industri film kita sudah siap, mereka nggak perlu repot lagi nyari soundtrack. Kita juga sudah siapkan,” ujar Doni.

Pernyataan itu mungkin terdengar seperti gurauan, tetapi di satu sisi menyimpan optimisme yang menarik.

Di tengah keterbatasan akses dan jarak dari pusat industri, Syrian tetap memilih untuk membayangkan kemungkinan besar bagi musik mereka.

Karena bagi mereka, semua hal besar selalu dimulai dari sesuatu yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *