Home » Berkat Kolaborasi Nasional yang Apik, Akhirnya Indonesia Trail Run Series Terwujud

Berkat Kolaborasi Nasional yang Apik, Akhirnya Indonesia Trail Run Series Terwujud

Race Owner Trail Run bersepakat untuk menggelar ajang Indonesia Trail Run Series untuk semakin memposisikan olahraga lari trail. Kesepakatan itu tercapai pada momentum 1 dekade Coast To Coast Night Ultra Trail Run 2026 di Pantai Selatan Yogyakarta beberapa waktu lalu. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Di tengah riuh rendah dan peluh pelari yang menembus jalur pesisir hingga perbukitan dalam rangkaian ajang Coast to Coast Ultra – Yogyakarta yang berlangsung 14–15 Februari 2026 lalu, sebuah langkah strategis bagi dunia olahraga alam Indonesia resmi dimulai.

Pada Sabtu, 14 Februari 2026, lima race owner trail run Indonesia menyepakati untuk membentuk Indonesia Trail Run Series, kolaborasi nasional yang bertujuan memperkuat ekosistem trail run sekaligus mendorong Indonesia sebagai destinasi sport tourism kelas dunia.

Lima event penggagas tersebut adalah Coast to Coast Ultra – Yogyakarta; Bali Trail Run Ultra – Bali; Dieng Caldera Race – Wonosobo; MANTRA116 – Pasuruan; dan Siksorogo Lawu Ultra – Tawangmangu.

Lima panggung alam berbeda yang selama bertahun-tahun, akhirnya tumbuh bersama komunitas dan kini memilih bersatu dalam satu payung kolaborasi.

Perwakilan Coast to Coast Ultra, Ikhsan Sitaryadi menuturkan, Indonesia Trail Run Series lahir dari diskusi panjang para penyelenggara berbasis komunitas yang melihat potensi besar trail run Indonesia jika dikelola dalam sistem terintegrasi.

Selama ini, kolaborasi berjalan dalam bentuk dukungan jejaring komunitas dan partisipasi silang. Namun, tanpa struktur nasional, dampaknya belum optimal—baik bagi atlet, sponsor, maupun destinasi.

“Kolaborasi ini bukan sekadar simbolik. Kami ingin membangun sistem yang berkelanjutan, yang memberikan arah jelas bagi atlet dan standar bersama bagi penyelenggara,” ujar Ikhsan, Senin (23/2/2026).

Dalam kerangka Indonesia Trail Run Series, salah satu kategori dari masing-masing event akan dilabeli sebagai bagian dari series.

Perwakilan Bali Trail Run Ultra, Agus Yudha menyebut, sistem poin akan digunakan, sehingga performa pelari dapat terukur secara objektif dan berjenjang.

“Dengan format series, pelari tidak lagi hanya berkompetisi dalam satu lomba, tetapi dalam satu musim. Ini menciptakan dinamika baru—lebih kompetitif, lebih strategis, dan lebih profesional,” ungkapnya.

Agus Yudha juga menekankan pentingnya narasi destinasi. Menurutnya, Indonesia memiliki gunung, hutan, dan lanskap yang unik.

“Jika dikelola bersama dalam satu series, kita bukan hanya menjual lomba, tetapi menjual pengalaman dan cerita destinasi,” katanya.

Dengan sistem series yang terjadwal sepanjang tahun—Februari di Yogyakarta, Mei di Bali, Juni di Wonosobo, Juli di Pasuruan, dan Desember di Tawangmangu—Indonesia Trail Run Series secara tidak langsung menciptakan kalender sport tourism nasional yang berkesinambungan dan sehat bagi kompetisi para atlet Trail Run Indonesia.

Sementara perwakilan MANTRA116, Ivan menambahkan, dengan adanya Indonesia Trail Run Series maka diharapkan pertumbuhan olahraga lari trail semakin berkembang sehat.

“Kami ingin memastikan pertumbuhan yang sehat, baik untuk atlet, sponsor, maupun penyelenggara,” ucapnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, Indonesia Trail Run Series memposisikan diri sebagai penggerak sport tourism. Setiap event anggota berlangsung di destinasi dengan karakter geografis dan budaya yang kuat.

Mulai dari pesisir pantai dan perbukitan di Yogyakarta, lanskap tropis di Bali, kaldera Dieng, pegunungan Pasuruan, hingga lereng Lawu di Tawangmangu.

Perwakilan Dieng Caldera Race, Mahendradatta menyebut, trail run memiliki efek berganda bagi ekonomi lokal sebab peserta tidak datang sendiri. Mereka membawa keluarga, komunitas, dan menginap beberapa hari.

“Hotel, homestay, UMKM, transportasi lokal, semuanya bergerak,” ujarnya.

Mahendradatta mengungkapkan, berdasarkan data internal penyelenggara menunjukkan bahwa mayoritas peserta ultra trail berasal dari luar kota, bahkan luar negeri. Mereka rata-rata tinggal 2-4 malam, memanfaatkan akomodasi lokal, kuliner daerah, serta destinasi wisata sekitar race venue.

“Dalam konteks ekonomi daerah, event trail run berkontribusi pada perputaran ekonomi yang signifikan, khususnya di wilayah pegunungan dan dataran tinggi yang bukan pusat industri,” jelasnya. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *