PROSA.ID, Yogyakarta – Band rock alternatif Marsmolys menghadirkan pendekatan berbeda dalam memperkenalkan karya musik mereka.
Melalui pameran bertajuk Post-Renaissance di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, Marsmolys menggabungkan musik, seni rupa, dan ekspresi visual dalam satu ruang kreatif yang terbuka bagi publik.
Gagasan pameran ini berawal dari respons publik terhadap artwork album Marsmolys.
Gitaris dan backing vokal Marsmolys, Yoga Bhakti mengatakan, setelah album dirilis, banyak pendengar justru memberikan perhatian besar pada visual album yang dibuat secara manual dalam bentuk lukisan sebelum didigitalisasi.
“Respons terhadap artwork ternyata sangat besar. Dari situ muncul ide untuk mengembangkan karya visual tersebut menjadi sebuah pameran,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
Marsmolys kemudian mengajak sejumlah seniman untuk memberikan respons kreatif terhadap album mereka.
Hasilnya, sekitar 16 hingga 18 seniman ikut berpartisipasi dalam pameran ini dengan menghadirkan karya yang terinspirasi dari lagu-lagu Marsmolys.
Marsmolys Dokumentasikan Perjalanan Kreatif dalam Ruang Pamer
Selain menampilkan karya para seniman, pameran ini juga menghadirkan ruang khusus yang mendokumentasikan perjalanan Marsmolys.
Band tersebut memamerkan berbagai perlengkapan manggung, album, serta sejumlah artefak yang merekam proses kreatif mereka.
Gitaris sekaligus vokalis Marsmolys, Antino Restu Aji menjelaskan, album yang menjadi dasar pameran ini berangkat dari pengalaman nyata yang mereka alami selama proses berkarya.
“Kami tidak pernah merencanakan album ini akan bercerita tentang apa. Kami hanya merekam apa yang benar-benar kami alami selama proses menuju album tersebut,” jelasnya.
Berbagai pengalaman personal, mulai dari tekanan ekonomi, kesibukan sehari-hari, hingga kejadian tak terduga saat proses rekaman, kemudian mereka tuangkan ke dalam lagu maupun artwork album.
Antino menyebut, album mereka terinspirasi oleh artwork album Dangerous milik Michael Jackson yang dikerjakan seniman Mark Ryden.
Mereka kemudian menerjemahkan berbagai pengalaman, emosi, dan dinamika perjalanan band ke dalam visual album yang penuh simbol dan metafora.
Rekam Keresahan Sosial Lewat Musik
Marsmolys juga memasukkan berbagai keresahan sosial dalam karya mereka, salah satunya melalui lagu Enerslave.
Lagu tersebut merefleksikan pengalaman mereka menghadapi kenaikan biaya produksi akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya harga berbagai kebutuhan industri musik.
“Kami merasakan langsung dampaknya. Harga senar gitar naik, biaya produksi meningkat, dan banyak kebutuhan kreatif menjadi lebih mahal. Keresahan itu kami masukkan ke dalam lagu,” kata Antino.
Galeri RJ Katamsi Apresiasi Keberanian Marsmolys Menembus Batas Medium Seni
Direktur Galeri RJ Katamsi, Nano Warsono, mengapresiasi keberanian Marsmolys yang melampaui batas-batas konvensional sebuah band musik.
Menurutnya, Marsmolys berhasil membangun dialog antara seni musik dan seni rupa melalui sebuah kerja kebudayaan yang kolaboratif.
“Marsmolys menunjukkan bahwa seni musik dan seni rupa tidak perlu dipisahkan. Keduanya dapat saling memengaruhi, saling menginspirasi, dan berkembang bersama dalam ruang yang cair,” ujar Nano saat pembukaan pameran.
Nano menilai, Marsmolys memiliki kedekatan dengan dunia seni rupa sejak lama.
Sebelumnya, band tersebut juga pernah menggelar sesi pertunjukan langsung di lingkungan Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta.
Melalui pameran ini, Marsmolys kembali menegaskan komitmennya untuk mengeksplorasi hubungan antara audio dan visual.
“Pameran ini menjadi contoh bagaimana kerja kebudayaan dapat tumbuh melalui kolaborasi lintas disiplin seni,” ungkapnya.
Kurator: Seni Hari Ini Semakin Melebur dan Menembus Sekat
Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah berani yang mempertemukan dua dunia kreatif sekaligus, yakni musik dan seni visual.
“Ketika Marsmolys mengajak saya terlibat dalam pameran ini, saya sadar ada risiko besar. Namun justru keberanian mengambil risiko itulah yang membuat proyek ini penting,” katanya.
Suwarno menjelaskan, pameran tersebut mencerminkan perkembangan seni kontemporer yang semakin menghapus sekat antar-medium. Seni tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkelindan dalam berbagai bentuk ekspresi.
“Seni hari ini melebur. Musik bisa dilihat, seni visual bisa didengar. Marsmolys berhasil memperlihatkan bagaimana batas-batas itu dapat ditembus,” jelasnya.
Ia menambahkan, seni memiliki peran penting dalam menyuarakan realitas sosial.
Musik, menurutnya, mampu menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan kritik, keresahan, maupun refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan.
“Melalui pendekatan tersebut, Marsmolys berusaha menghadirkan karya yang lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar cerita yang dibuat-buat. Mereka merekam berbagai dinamika kehidupan sehari-hari dan menerjemahkannya ke dalam musik maupun karya visual,” tandasnya.
Ruang Baru Kolaborasi Musik dan Seni Rupa
Melalui Post-Renaissance, Marsmolys tidak hanya menawarkan pengalaman mendengarkan musik, tetapi juga mengajak publik memasuki ruang visual yang merekam perjalanan kreatif mereka.
Pameran ini menjadi bukti bahwa musik dapat hadir dalam berbagai bentuk ekspresi dan membuka kemungkinan kolaborasi yang lebih luas di masa depan.
Pameran tersebut sekaligus menegaskan bahwa batas antara seni musik dan seni rupa semakin cair.
Marsmolys menghadirkan keduanya dalam satu ruang yang saling melengkapi, sehingga publik dapat melihat, mendengar, dan merasakan karya secara lebih utuh. (Ken).
