PROSA.ID, Yogyakarta – Dua seniman, Hasan dan Helmi Fu memamerkan karya seninya di ARTOTEL Suites Bianti Artspace Yogyakarta.
Mengangkat judul ‘Freedom’, judul ini memiliki arti yang sangat luas. Namun bagi kedua seniman tersebut, kebebasan bukan sekadar tema belaka, melainkan sebuah metodologi dalam praktik artistik untuk mengekspresikan diri, berimajinasi, dan melakukan eksplorasi.
Salah satu seniman, Hasan mengatakan, proses berkarya adalah proses membebaskan imajinasi dalam menciptakan bentuk, warna, dan goresan. Ia menanggalkan berbagai standar dan prinsip seni rupa yang bersifat akademis demi menghadirkan visual yang lebih bebas dan tanpa beban. Bahkan, dirinya berani mendobrak pakem yang ada dalam proses berkarya.
“Karya saya banyak bercerita tentang alam, dimana saat ini banyak terjadi eksploitasi yang masif. Sudah banyak alam yang rusak karena keserakahan manusia,” katanya, Sabtu (14/2/2026).
Hasan menyebut, salah satu karyanya yang berjudul Grateful and Caring, ia ingin mengajak semua umat manusia bersyukur atas alam yang ada.
“Sepatutnya kita menjaga kekayaan alam yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Manusia bisa mencontoh alam, tidak saling merusak, harmonis, dan penuh keberagaman,” ujarnya.
Menurut Hasan, ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa syukur dan kepedulian terhadap alam melalui tindakan-tindakan positif dan inisiatif bermakna yang membantu melestarikan lingkungan.
“Dengan demikian, kita memastikan bahwa manfaatnya dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang,” ungkapnya.
Sementara seniman Helmi Fu menambahkan, karya-karyanya berangkat dari kegelisahan tentang cara manusia memandang satu sama lain. Di sisi lain, ia juga menyoroti makna pada usia, identitas, dan pengalaman.
“Karya ini lahir dari ketertariksn pada ruang di antara apa yang terlihat, dirasakan, dan disimpulkan,” jelasnya.
Melalui pendekatan visual yang cenderung abstrak dan kontemporer, Helmi bebas menggunakan berbagai media atau material dalam berkarya.
Helmi menilai, kertas merupakan medium yang sangat personal, baik itu kertas berwarna, majalah lama, maupun poster yang ditempel di dinding kota. Baginya, kertas adalah sesuatu yang sangat pribadi.
“Teks jadi objek utama dalam karya saya. Pengulangan teks secara psikologi bisa menjadi healing, menjadi seni melepaskan,” imbuhnya.
General Manager ARTOTEL Suites Bianti, Reza Farhan mengungkapkan, meski dengan dua bahasa visual yang berbeda, pameran ini mengajak pengunjung menyaksikan pembebasan jiwa kreatif.
“Kami selalu memberi ruang (untuk seniman), selebar-lebarnya. Memberi kebebasan berekspresi. Ambience warna tone di lobi sendiri, warna provokatif yang menarik perhatian. Ruangan bisa jadi ambience sendiri karena ide bisa datang dari keadaan,” pungkasnya.
Pameran yang digelar hingga 30 Mei 2026 ini menantang pengunjung untuk merenungkan dan menemukan ruang eksplorasinya sendiri. (Ken).
