Home » MBG Prasmanan Muhammadiyah Ajarkan Siswa Disiplin dan Bertanggung Jawab

MBG Prasmanan Muhammadiyah Ajarkan Siswa Disiplin dan Bertanggung Jawab

Muhammadiyah kembangkan MBG model prasmanan. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Muhammadiyah mengembangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi siswa. 

Melalui model prasmanan, Muhammadiyah juga ingin mengajarkan kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab kepada peserta didik.

Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) mulai menguji coba model prasmanan di 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Program ini menjangkau enam provinsi, yakni Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara.

Direktur BPPGM, M. Nurul Yamin menjelaskan, model prasmanan menggabungkan pemenuhan gizi dengan pendidikan karakter. 

“Melalui kebiasaan makan bersama, siswa dapat mempraktikkan keterampilan sosial atau soft skill dalam aktivitas sehari-hari,” katanya dikutip Jum’at (30/10/2026). 

MBG Prasmanan Mengajarkan Kedisiplinan Siswa

Yamin mengatakan, sistem prasmanan membantu petugas mengawasi kualitas makanan dan proses penyajiannya. 

Pada saat yang sama, pola makan bersama memberikan ruang bagi siswa untuk belajar menerapkan kebiasaan positif.

“Model prasmanan ini tidak hanya memperhatikan kualitas pangan yang disajikan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan. Melalui praktik makan bersama, siswa dapat belajar budaya antre, menaati aturan, bertanggung jawab, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta membangun kebersamaan,” jelas Yamin, Rabu (28/10/2026).

Menurut Yamin, siswa dapat mengembangkan banyak keterampilan sosial melalui kebiasaan sederhana tersebut. 

Mereka belajar mengantre, mengambil makanan sesuai kebutuhan, menjaga ketertiban, dan menghargai orang lain.

Kebiasaan mengambil makanan secukupnya juga mengajarkan siswa untuk menghindari pemborosan. 

“Dengan demikian, kegiatan makan bersama tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga membentuk perilaku positif,” ungkap Yasmin. 

Muhammadiyah Sesuaikan Model Prasmanan dengan Kondisi SPPG

Meski menawarkan manfaat pendidikan, BPPGM tidak akan menerapkan model prasmanan di seluruh SPPG Muhammadiyah.

Yamin menjelaskan, setiap SPPG menghadapi kondisi lapangan dan kebutuhan penerima manfaat yang berbeda. 

Selain itu, sistem prasmanan membutuhkan perlengkapan tambahan yang harus memenuhi standar tertentu.

Karena itu, BPPGM mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan karakteristik penerima manfaat sebelum mengembangkan model tersebut di setiap lokasi.

Muhammadiyah sebenarnya telah lama mengenal tradisi makan bersama dengan sistem prasmanan. 

Sejumlah pesantren, sekolah berasrama (boarding school), dan lembaga pendidikan Muhammadiyah lainnya telah menjalankan pola tersebut.

“Pengalaman itu menjadi modal bagi Muhammadiyah untuk mengembangkan pelayanan MBG yang menggabungkan pemenuhan gizi dan pendidikan karakter,” tandasnya.

BPPGM Kembangkan Enam Skema Pelayanan MBG

Selain menguji model prasmanan, Muhammadiyah mengembangkan enam skema pelayanan MBG sesuai kebutuhan penerima manfaat.

“Dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah mengembangkan beberapa skema pelayanan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan penerima manfaat. Skema tersebut meliputi pelayanan berbasis sekolah (school kitchen), pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, serta layanan umum,” imbuh Yamin.

Melalui enam skema tersebut, Muhammadiyah dapat menyesuaikan pola pelayanan dengan lingkungan dan kebutuhan masing-masing penerima manfaat.

BPPGM juga memperkuat koordinasi dan konsolidasi pengelolaan program. 

Langkah ini mencakup pengawasan kualitas bahan pangan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.

Yamin menegaskan, Muhammadiyah ingin membangun sistem penyediaan makanan bergizi yang terkoordinasi dengan baik. 

Pengembangan berbagai skema pelayanan menjadi bagian dari upaya tersebut.

“Melalui uji coba model prasmanan di 20 SPPG tersebut, Muhammadiyah berupaya mengoptimalkan pelayanan pemenuhan gizi sekaligus menghadirkan nilai tambah dalam proses pendidikan karakter siswa,” pungkasnya. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *