PROSA.ID, Yogyakarta – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan masyarakat agar bijak mengelola keuangan di tengah semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan.
Sultan mengajak warga menerapkan filosofi Jawa Gemi, Nastiti, Ngati-ati agar mampu mengambil keputusan finansial secara cermat dan terhindar dari risiko.
“Kemudahan mengakses layanan keuangan harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman masyarakat,” kata Sultan dalam Financial Expo dan Puncak Bulan Inklusi Keuangan DIY 2026 di Monumen SO 1 Maret Yogyakarta, Minggu, (18/10/2026).
Menurut Sultan, prinsip Gemi mengajarkan masyarakat menggunakan penghasilan secara hemat, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan uang untuk masa depan.
“Sementara Nastiti mendorong masyarakat teliti sebelum memilih tabungan, pembiayaan, asuransi, atau investasi,” ujar Sultan.
Sultan menyebut, prinsip Ngati-ati mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat bertransaksi, menjaga data pribadi, memeriksa legalitas penyedia layanan keuangan, dan menghitung kemampuan membayar sebelum mengambil pinjaman.
“Tanggung jawab lembaga jasa keuangan untuk menjelaskan produk secara jujur dan menawarkan layanan sesuai kebutuhan masyarakat,” ungkap Sultan.
Di sisi lain, Sultan turut mendorong pemerintah dan industri jasa keuangan memperluas edukasi melalui sekolah, pasar, hingga kalurahan.
“Hal ini agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan secara bertanggung jawab,” pesan Sultan.
OJK Catat Inklusi Keuangan DIY 98,74 Persen
Kepala OJK DIY Eko Yunianto menyampaikan, tingkat inklusi keuangan DIY mencapai 98,74 persen berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
Capaian tersebut menempatkan DIY pada peringkat kedua nasional.
Sementara itu, tingkat literasi keuangan DIY mencapai 76,44 persen atau peringkat ketujuh nasional.
“Angka ini melampaui capaian nasional, yakni literasi keuangan 69,57 persen dan inklusi keuangan 93,61 persen,” paparnya.
Meski akses keuangan semakin luas, Eko mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur investasi dengan imbal hasil yang tidak masuk akal.
Ia juga meminta warga mewaspadai pinjaman online ilegal, perjudian online yang menyamar dalam permainan, serta risiko penyalahgunaan data pribadi.
“Masyarakat perlu memeriksa legalitas penyedia layanan dan memahami ketentuan produk sebelum melakukan transaksi,” tandasnya.
Pembiayaan Tembus Rp1,5 Triliun
OJK DIY mencatat 55 lembaga jasa keuangan menyalurkan kredit dan pembiayaan kepada 18.637 debitur selama 1 September hingga 17 Oktober 2026. Total pembiayaan tersebut mencapai Rp1,5 triliun.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjangkau 13.283 debitur dengan plafon Rp718 miliar.
Program pembiayaan untuk melawan rentenir mencatat 1.479 debitur dengan plafon Rp148 miliar.
Sedangkan pembiayaan kepemilikan rumah mencapai Rp94 miliar untuk 57 debitur, sedangkan pembiayaan lainnya mencapai Rp549 miliar bagi 3.818 debitur.
Khusus UMKM, lembaga jasa keuangan menyalurkan pembiayaan Rp296 miliar kepada 379 pelaku usaha.
OJK juga mencatat 694.565 rekening Simpanan Pelajar (SimPel), tambahan 1.891 rekening tabungan anak lainnya, serta penghimpunan dana SiMuda sebesar Rp117 miliar.
Di bidang edukasi, program KEJAR menjangkau 799 sekolah dan 14.129 siswa. OJK juga menggelar 278 kegiatan edukasi keuangan yang melibatkan 7.391 peserta dari berbagai kalangan.
FKIJK Perluas Edukasi ke Masyarakat
Ketua Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DIY, Santoso Rohmat menambahkan, industri jasa keuangan mendukung upaya OJK memperluas akses dan meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
FKIJK yang menghimpun pelaku industri perbankan, asuransi, dana pensiun, perusahaan pembiayaan, dan pasar modal menggelar berbagai kegiatan edukasi.
“Sasarannya meliputi pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, dan komunitas masyarakat,” imbuh Santosa.
Kegiatan tersebut mencakup talkshow, kompetisi menyanyi Industri Jasa Keuangan Idol bagi pegawai industri jasa keuangan, serta kuis Gen Z Knowledge Battle untuk meningkatkan pemahaman generasi muda.
Santoso menekankan pentingnya memastikan masyarakat tidak hanya memiliki akses ke produk keuangan.
“Tetapi juga memahami manfaat, kewajiban, biaya, dan risikonya,” lanjutnya.
Financial Expo dan Puncak Bulan Inklusi Keuangan DIY 2026 turut menghadirkan senam bersama, edukasi keuangan, serta pameran lembaga jasa keuangan dan UMKM.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses keuangan sekaligus mendorong masyarakat mengelola uang secara lebih bijak. (Ken).
