PROSA.ID, Yogyakarta – Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 resmi menutup rangkaian penyelenggaraan tahun keempat dengan mengumumkan deretan pemenang tiga kompetisi utama.
Festival film yang berlangsung pada 17–19 September 2026 di Pasar Terban dan PDIN Yogyakarta itu mencatat partisipasi tertinggi sepanjang empat tahun penyelenggaraan.
Pengumuman pemenang berlangsung dalam Festival Report & Awards Announcement di ARTOTEL Suites Bianti, Yogyakarta, Minggu (20/9/2026).
KHFF 2026 menerima 184 filmsubmission dari berbagai daerah di Indonesia.
Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi selama empat tahun penyelenggaraan festival.
Sebanyak 27 film kemudian masuk dalam program pemutaran, terdiri atas 24 film nasional dan tiga film internasional.
Film-film tersebut diputar melalui delapan program, sementara tiga program non-pemutaran menghadirkan ruang diskusi, pendidikan, dan pertukaran pengetahuan.
KHFF Bawa Heritage Lebih Dekat dengan Kehidupan
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengatakan, KHFF menjadi ruang untuk memperluas cara publik memandang warisan budaya.
Menurutnya, heritage tidak hanya berkaitan dengan peninggalan masa lalu.
Warisan budaya juga dapat tumbuh dari pengalaman personal, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan hingga institusi negara.
“Heritage tidak hadir dalam satu bentuk atau satu perspektif. Ia dapat lahir dari pengalaman personal, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, maupun institusi negara. Yang ingin kami lihat adalah bagaimana film membuat warisan tersebut kembali berbicara dengan kehidupan hari ini,” ujar Yetti.
Memasuki tahun keempat, KHFF membawa perjalanan kuratorial dari Introduksi, Interaksi, dan Posisi menuju Kontekstualisasi.
Konsep tersebut menempatkan heritage bukan sebagai sesuatu yang sekadar disimpan atau dilihat dari masa lalu.
KHFF memandang warisan budaya sebagai sesuatu yang terus hidup, berubah, diperdebatkan, dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembukaan festival berlangsung melalui Becak Drive-In Cinema di Pasar Terban, Kamis (17/9/206).
Film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja menjadi film pembuka.
Program tersebut menghadirkan pengalaman menonton di luar ruang bioskop konvensional.
Sekitar 1.000 pengunjung hadir sekaligus menghidupkan Pasar Terban sebagai ruang sinema terbuka dan ruang pertemuan masyarakat.
Okupansi Program KHFF Capai 124 Persen
Direktur Festival KHFF 2026, SiskaRaharja menambahkan, antusiasme publik menjadi salah satu catatan penting penyelenggaraan tahun ini.
Pada hari kedua, tujuh program di PDIN mencatat total 321 peserta dari kapasitas 350 orang. Tingkat okupansi keseluruhan mencapai 91,7 persen.
Beberapa program bahkan melampaui kapasitas yang tersedia. Tingkat okupansi tertinggi mencapai 124 persen.
“Antusiasme ini penting bagi kami karena menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai film dan heritage semakin mendapatkan ruang di tengah publik,” kata Siska.
Ia menjelaskan, sejak awal KHFF tidak hanya ingin memperkenalkan konsep warisan budaya kepada masyarakat.
Festival juga ingin menunjukkan bahwa heritage sebenarnya hadir sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Jangkauan festival tahun ini turut meluas secara nasional.
Film yang masuk berasal dari 21 provinsi di lima kawasan besar Indonesia, yakni Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi.
DI Yogyakarta menjadi daerah dengan jumlah submission terbanyak, yakni 46 film. Berikutnya Jawa Timur 32 film, Jawa Tengah 30 film, dan Jawa Barat 29 film.
Partisipasi dari luar Jawa antara lain datang dari Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi Selatan.
Sinema Jadi Cara Membaca Heritage
Direktur Program KHFF 2026, SuluhPamuji mengatakan, kurasi festival tahun ini tidak sekadar mencari film yang menjadikan heritage sebagai objek cerita.
Festival juga melihat bagaimana sinema dapat menjadi medium untuk membaca kembali hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, dan perubahan sosial.
“Penyelenggaraan tahun ini tidak hanya mencari film yang menampilkan heritage sebagai objek, tetapi juga melihat bagaimana sinema dapat menjadi cara untuk membaca kembali hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, dan perubahan sosial,” ujar Suluh.
KHFF kemudian menghadirkan sejumlah program seperti Heritage in Indonesian Cinema, Heritage in Experimental Cinema, dan Panorama.
Ketiga program tersebut memperluas pembacaan tentang heritage melalui arsip dan sejarah sinema Indonesia, eksplorasi bahasa audiovisual, hingga film pendek kontemporer.
Festival juga membuka ruang diskusi dan pembelajaran melalui Director Talk, Heritage Workshop, serta Heritage Talk.
Sejumlah agenda yang digelar antara lain Director Talk: Mistik Melampaui Ketakutan bersama Wregas Bhanuteja, Heritage Workshop: Stop Motion, serta Heritage Talk: Merawat yang Hidup bersama Zaki Habibi dan Suluh Pamuji.
Tiga Kompetisi Umumkan Para Pemenang
Puncak KHFF 2026 ditandai dengan pengumuman pemenang tiga kompetisi utama, yakni Mahaditya Awards, Purwaseswa Awards, dan Karyanagri Awards.
Mahaditya Awards menjadi ruang bagi karya-karya independen. Purwaseswa Awards menghadirkan karya pelajar dari berbagai wilayah Indonesia.
Sementara Karyanagri Awards menampilkan film bermuatan heritage yang mendapat dukungan lembaga negara maupun pemerintah pusat dan daerah.
Mahaditya Awards
Dalam Mahaditya Awards, juri tidak hanya menilai pencapaian sinematik.
Film juga dinilai dari kemampuannya menghadirkan perspektif penting mengenai warisan budaya dan pengalaman yang jarang terwakili.
Perwakilan Juri Mahaditya Awards, Muhammad Zamzam Fauzanafi mengatakan, heritage bukan sesuatu yang berhenti pada masa lalu.
“Bagi kami, heritage bukan sesuatu yang selesai atau beku, melainkan sesuatu yang terus dihidupi, diperdebatkan, dirawat, dan diwariskan,” ujarnya.
Berikut pemenang Mahaditya Awards 2026:
- Golden Mahaditya Award: NIAT INGSUN NGAJI karya Sri Rahmawati
- Silver Mahaditya Award: NAIJAN ON HAI AINA karya Wisnu Febri Wardana
- Jury Special Mention: HOPE karya Angel Ching
Karyanagri Awards
Pada Karyanagri Awards, juri melihat bagaimana heritage direpresentasikan sekaligus bagaimana warisan tersebut terus hidup dan bertahan di tengah perubahan sosial.
Perwakilan Juri Karyanagri Awards, Imam Karyadi, menekankan pentingnya hubungan antara peran negara dan pengetahuan yang telah berkembang di masyarakat.
“Pertanyaan pentingnya bukan semata-mata seberapa kuat negara hadir dalam merawat heritage, melainkan bagaimana kehadiran negara dapat berhubungan dengan pengetahuan, agensi, dan mekanisme perawatan yang telah hidup di dalam masyarakat,” ujarnya.
Pemenang Karyanagri Awards 2026:
- Golden Karyanagri Award: BONG karya Destian Rendra
- Silver Karyanagri Award: MATEOS ANIN karya Gilang Akbar
- Jury Special Mention: KHATIB GANTARANG LALANG BATA karya Zhaddam A. Nurdin
Purwaseswa Awards
Sementara itu, Purwaseswa Awards menempatkan pelajar bukan hanya sebagai penerima warisan budaya.
Mereka dipandang sebagai pewaris aktif sekaligus pihak yang ikut menafsirkan masa depan heritage.
Perwakilan Juri Purwaseswa Awards, Nissa Fijriani menilai, karya pelajar dapat menjadi bagian dari dokumentasi pengetahuan untuk generasi berikutnya.
“Yang lebih penting adalah bagaimana film menyusun gagasan, mengamati kehidupan, merekam pengetahuan, serta membuka kemungkinan untuk menjadi arsip yang dapat dibaca kembali oleh generasi mendatang,” ujarnya.
Pemenang Purwaseswa Awards 2026:
- Golden Purwaseswa Award: MUPUSTI: Melestarikan dan Merawat, Bukan Menyembah karya Ilya Fathimah Taqiyya
- Silver Purwaseswa Award: SERADA karya Septiyani Putri
- Jury Special Mention: Tuwuhè Rarè (Anak yang Bertumbuh) karya Gede Dika Dheva Ariadi
Libatkan Puluhan Volunteer dan Mitra Lintas Sektor
KHFF 2026 juga memperkuat keterlibatan generasi muda dalam penyelenggaraan festival.
Sebanyak 20 tim festival dan 68volunteer terlibat dalam rangkaian kegiatan.
Struktur tim inti yang lebih ramping dipadukan dengan keterlibatan volunteer untuk membuka ruang pengalaman bagi generasi baru dalam ekosistem festival film.
Dari sisi kolaborasi, KHFF menggandeng lima mitra pemerintah, satu mitra korporasi, dan 12 mitra perhotelan.
Kolaborasi pemerintah melibatkan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan DIY, Kementerian Kebudayaan RI, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, serta Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Yogyakarta.
Kerja sama tersebut menghubungkan festival film dengan isu mobilitas, ruang kota, perdagangan, pariwisata, hingga pengembangan ekonomi lokal.
KHFF juga mulai mengaktifkan website resminya, khffest.id, sebagai pusat informasi sekaligus platform registrasi program festival.
Ke depan, platform tersebut akan dikembangkan sebagai ruang pengetahuan dan akses publik terhadap tulisan, kajian, serta berbagai perspektif mengenai sinema dan heritage.
KHFF 2026 Ditutup Sawung Jabo dan Sirkus Barock
Rangkaian KHFF 2026 resmi ditutup melalui Closing & Awarding Night pada 19 September 2026 di PDIN Yogyakarta.
Malam penutupan dimeriahkan penampilan Sawung Jabo & Sirkus Barock.
Agenda tersebut sekaligus menjadi ruang perayaan bagi para pemenang dan pertemuan para filmmaker, komunitas, volunteer, mitra, serta publik yang mengikuti rangkaian festival.
Empat tahun perjalanan KHFF menunjukkan bagaimana festival terus memperluas pembacaan terhadap heritage.
Bukan sekadar melihat warisan budaya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi menempatkannya sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak, dirawat, diperdebatkan, dan ditafsirkan kembali melalui sinema. (Ken).
