PROSA.ID, Yogyakarta – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare – Health and Disaster Management: Before, During, and After Emergencies, pada 13–24 Juli 2026.
Memasuki penyelenggaraan tahun ke-10, program internasional ini mengangkat tema penguatan sistem kesehatan dalam manajemen bencana sebagai respons atas meningkatnya ancaman bencana di berbagai negara.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa mengatakan, bencana kini menjadi tantangan global yang tidak bisa diprediksi.
Pandemi COVID-19, erupsi gunung api, gempa bumi, hingga berbagai krisis kemanusiaan menunjukkan bahwa setiap negara harus memiliki sistem kesehatan yang siap menghadapi kondisi darurat.
“Bencana sering datang tanpa diduga. Karena itu kita harus membangun sistem yang selalu siap, bukan baru bergerak ketika bencana terjadi,” kata Hamim dalam konferensi pers di FK-KMK UGM, Senin (13/7/2026).
Penanganan Bencana Tidak Bisa Mengandalkan Satu Profesi
Hamim menegaskan, penanggulangan bencana tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
Pada fase tanggap darurat dibutuhkan kolaborasi dokter, perawat, tenaga gizi, psikolog, hingga berbagai profesi lain.
Setelah fase akut berlalu, peran pemerintah, TNI, Polri, akademisi, relawan, hingga masyarakat menjadi semakin penting dalam proses pemulihan.
Menurutnya, lemahnya koordinasi masih menjadi tantangan yang terus berulang setiap kali bencana terjadi.
“Kalau ada bencana, kita sering masih kaget, bingung, dan koordinasinya belum optimal. Kondisi seperti ini harus terus diperbaiki agar setiap pihak mengetahui perannya sejak fase awal hingga pemulihan,” ujarnya.
Ia berharap, penguatan sistem manajemen bencana dapat membuat seluruh pemangku kepentingan lebih siap menghadapi berbagai jenis bencana di masa depan.
Summer Course Diikuti 81 Mahasiswa dari Berbagai Negara
Ketua Panitia Summer Course 2026, Melyza Perdana mengungkapkan, program tahun ini diikuti 81 mahasiswa jenjang sarjana, magister, dan doktor dari Indonesia maupun luar negeri.
Sebanyak 37 peserta internasional berasal dari Inggris, Palestina, Austria, Prancis, Spanyol, Turki, Kyrgyzstan, Belanda, Timor Leste, Thailand, dan Malaysia.
“Keberagaman peserta menunjukkan bahwa isu kebencanaan merupakan persoalan global yang membutuhkan kolaborasi lintas negara,” jelasnya.
Peserta Berasal dari Beragam Disiplin Ilmu
Tidak hanya mahasiswa kedokteran, keperawatan, farmasi, kedokteran gigi, dan gizi, Summer Course juga diikuti mahasiswa biologi, teknik, hingga filsafat.
Keberagaman tersebut sengaja dihadirkan agar peserta memahami bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh satu profesi saja.
“Kami ingin mahasiswa sejak di bangku kuliah menyadari bahwa penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama dengan pendekatan multidisiplin,” ungkapnya.
Peserta Jalani Simulasi Bencana hingga Kunjungan Lapangan
Selama dua pekan, peserta tidak hanya mengikuti kuliah di kelas.
Panitia menyiapkan berbagai kegiatan praktik, seperti pelatihan keterampilan dasar penanganan bencana, simulasi kedaruratan (disaster drill), role play, hingga kunjungan lapangan.
Peserta juga akan mengunjungi BPBD Sleman untuk mempelajari sistem pemantauan Gunung Merapi selama 24 jam, melihat kawasan hunian tetap korban erupsi Merapi, serta mempelajari sistem manajemen bencana berbasis rumah sakit.
Profesor Taiwan Bagikan Pengalaman Sistem Peringatan Dini
Salah satu pembicara internasional, Associate Professor Fu-Chih Lai dari Taipei Medical University, membagikan pengalaman Taiwan dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana.
Ia menjelaskan, setiap orang di Taiwan, termasuk warga negara asing, langsung menerima notifikasi di telepon genggam ketika terjadi gempa bumi.
Sistem tersebut membantu masyarakat merespons bencana lebih cepat.
Ia menilai, Indonesia memiliki tantangan serupa karena sama-sama berada di kawasan rawan gempa dan gunung api serta menjadi tujuan wisata internasional.
“Pertanyaan pentingnya, apakah wisatawan asing juga bisa menerima informasi peringatan dini ketika terjadi bencana? Bagaimana masyarakat membantu mereka? Hal-hal seperti ini penting untuk didiskusikan bersama,” ujarnya.
Taiwan dan Indonesia Perkuat Kolaborasi Kebencanaan
Fu-Chih Lai juga menyampaikan keinginan Taipei Medical University untuk memperluas kerja sama dengan UGM dalam bidang pendidikan dan penelitian kebencanaan.
Harapannya, mahasiswa Taiwan dapat belajar langsung dari pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai bencana, sementara akademisi Indonesia juga dapat mempelajari sistem kesiapsiagaan yang diterapkan Taiwan, termasuk pengalaman menghadapi pandemi COVID-19.
“Setiap negara memiliki strategi yang berbeda. Kami ingin berbagi pengalaman Taiwan sekaligus belajar dari Indonesia,” tandasnya.
Perkuat Jejaring Global Hadapi Risiko Bencana
Melalui Summer Course ini, FK-KMK UGM berharap lahir tenaga kesehatan dan profesional lintas disiplin yang memiliki kemampuan kolaboratif dalam mitigasi, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana.
Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya UGM memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendukung pembangunan sistem kesehatan yang tangguh menghadapi berbagai risiko bencana di tingkat lokal maupun global. (Ken).
