PROSA.ID, Yogyakarta– Pameran seni rupa tidak harus berlangsung di galeri atau ruang pamer di pusat kota.
Berangkat dari gagasan itu, seniman Hendra Priyadhani menghadirkan pameran seni di Padukuhan Kembaran, Bantul.
Hadirnya pameran di tengah perkampungan, sebagai upaya mendekatkan seni kepada masyarakat sekaligus membuka jejaring bagi seniman-seniman muda di tingkat kampung.
Menurut Hendra, selama ini masyarakat sering mendengar ramainya berbagai agenda seni di Yogyakarta, tetapi belum tentu ikut merasakan pengalaman tersebut secara langsung.
“Saya ingin warga ikut merasakan bagaimana suasana pembukaan pameran seni. Jangan sampai mereka hanya mendengar cerita tentang ramainya kegiatan seni di kota, tetapi tidak pernah mengalami sendiri,” ujarnya di sela pameran, Jumat (26/6/2026).
Seni Menjadi Ruang Percakapan dengan Warga
Hendra mengatakan, pameran ini lahir dari keinginannya menciptakan ruang perjumpaan yang lebih akrab antara seniman dan masyarakat.
Ia mengaku tidak memiliki ambisi besar selain menghadirkan ruang untuk saling berbincang melalui karya seni.
“Sebenarnya saya hanya senang ketika warga datang, ngobrol, bertanya, lalu menikmati karya. Seni menjadi media untuk membuka percakapan,” katanya.
Sebagai inisiator, Hendra bahkan masih terlibat langsung menata karya hingga beberapa menit sebelum pembukaan pameran.
Baginya, keterlibatan langsung bersama warga jauh lebih penting dibanding penyelenggaraan acara yang serba formal.
Dorong Warga Mengenal Seni Secara Langsung

Hendra menilai, pengalaman visual jauh lebih efektif dibanding sekadar membaca teori atau literasi tentang seni.
Karena itu, ia berencana mengajak warga yang belum pernah mengunjungi pameran profesional, seperti ArtJog, agar mereka dapat membandingkan pengalaman menikmati karya seni di berbagai ruang.
“Kalau orang melihat langsung karya seni yang beragam, edukasi visual itu jauh lebih efektif daripada hanya membaca teori. Pengalaman ini memperluas cara pandang masyarakat terhadap seni rupa,” ungkapnya.
Buka Jejaring bagi Seniman Muda
Selain menghadirkan pameran, Hendra ingin membuka akses jejaring bagi para perupa muda yang selama ini kesulitan menembus dunia seni profesional.
Sebagian besar peserta pameran merupakan seniman muda yang baru lulus sekolah seni maupun warga yang aktif berkarya, tetapi belum memiliki jaringan yang luas.
Dari sepuluh seniman yang berpameran, tujuh di antaranya merupakan warga Kembaran dan sekitarnya.
“Masalah mereka bukan kemampuan berkarya, tetapi jejaring. Mereka punya keterampilan yang luar biasa, hanya belum tahu bagaimana membuka akses ke galeri, residensi, atau pameran yang lebih luas,” jelasnya.
Selama proses persiapan pameran, Hendra banyak berdiskusi dengan para peserta mengenai hal-hal praktis, mulai dari penyusunan biodata seniman, cara mengikuti open call, hingga teknik menampilkan karya.
“Harapannya pendampingan sederhana dapat membantu para seniman muda mengembangkan kariernya,” imbuhnya.
Pameran Berlanjut ke Kampung Lain
Hendra menyebut, pameran di Kembaran menjadi titik awal rangkaian kegiatan yang akan berlanjut ke sejumlah kampung lain.
Dalam dua pekan ke depan, kegiatan serupa akan digelar di Glondong, kemudian Nayu Kidul, serta beberapa lokasi lain yang sedang dipersiapkan.
Ia sengaja memulai kegiatan dari Kembaran karena memiliki kedekatan emosional dengan wilayah tersebut.
“Dua puluh tahun lalu saya pernah melakukan kegiatan yang sama di sini. Saya merasa punya utang budi kepada warga yang sejak dulu mendukung perjalanan berkesenian saya,” paparnya.
Dukuh Kembaran Ingin Wujudkan Kampung Seni
Sementara Kepala Dukuh Kembaran, Darsono, menyambut positif penyelenggaraan pameran tersebut.
Ia menilai, kegiatan itu menjadi momentum penting untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang seni.
Selama ini, kata Darsono, warga lebih mengenal seni sebatas seni pertunjukan seperti jathilan dan ketoprak.
“Dengan adanya pameran ini, wawasan warga menjadi lebih terbuka. Mereka mulai memahami bahwa seni tidak hanya seni pertunjukan, tetapi juga seni rupa dan berbagai bentuk ekspresi lainnya,” ujarnya.
Ia berharap, kegiatan serupa dapat berlangsung secara berkelanjutan sehingga semakin banyak warga, khususnya generasi muda lulusan sekolah seni, memperoleh ruang untuk menampilkan karya mereka.
Darsono bahkan memiliki cita-cita menjadikan Kembaran sebagai Kampung Seni yang memiliki identitas budaya tersendiri.
“Kalau daerah lain punya Kampung Anggur atau Kampung Inggris, harapan kami Kembaran dikenal sebagai Kampung Seni,” katanya. (Ken).
