PROSA.ID, Yogyakarta – Mitos tentang gunung, batu, sungai, tanah hingga perubahan alam kembali dibaca dari sudut pandang berbeda.
Bukan sekadar cerita rakyat, folklor di Yogyakarta ditelusuri, diteliti, lalu diolah menjadi karya sastra melalui Program Tutur Tumurun 2026.
Puncak program tersebut akan digelar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) melalui Pesta Cerita, Jumat, 9 Oktober 2026, di kompleks TBY pukul 19.00-22.00 WIB.
Pesta Cerita menjadi malam penganugerahan Sayembara Penulisan Cerpen Geomitologi sekaligus peluncuran antologi Tutur Tumurun Jilid II.
75 Naskah Menelusuri Folklor Yogyakarta
Program Tutur Tumurun 2026 mempertemukan sastra dengan geomitologi.
Sebanyak sekitar 75 naskah cerpen karya penulis muda DIY masuk dalam sayembara yang digelar sejak Juli 2026.
Dewan juri yang terdiri dari Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriyana kemudian memilih 10 karya nomine.
Lima karya terbaik selanjutnya akan mendapatkan penghargaan sebagai Juara 1, 2, 3, serta Juara Harapan 1 dan 2.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Purwiati mengatakan Tutur Tumurun berangkat dari kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Tradisi lisan bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan wahana penting bagi perekaman memori kolektif suatu bangsa,” ujar Purwiati, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, cerita yang diwariskan turun-temurun menyimpan pengetahuan dan sejarah yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Geomitologi Membaca Cerita di Balik Lanskap
Direktur Program Tutur Tumurun, Latief S. Nugraha menjelaskan, geomitologi menjadi pendekatan untuk melihat hubungan antara kebudayaan masa lalu dengan fenomena kebumian.
“Geomitologi mengkaji bagaimana budaya masa lalu mencatat lanskap dan fitur geologi. Di balik mitos fenomena alam, tersimpan pengetahuan serta alat komunikasi masyarakat lampau,” kata Latief.
Karena itu, peserta tidak hanya diminta mengarang cerita.
Mereka melakukan riset dengan cara masing-masing. Ada yang menyusuri kampung, mencari cerita yang masih hidup di masyarakat, membaca sumber tertulis, hingga mengolah temuan tersebut menjadi cerpen.
“Proses tersebut membuat sejumlah peserta menemukan folklor yang selama ini tidak banyak dikenal,” ungkapnya.
Juri Temukan Folklor yang Selama Ini Tersembunyi
Juri sayembara, Hasta Indriyana, menambahkan, proses membaca puluhan naskah seperti menyusuri Yogyakarta melalui peta mitologis.
Menurutnya, sejumlah peserta berhasil menemukan cerita rakyat yang selama ini luput dari perhatian masyarakat luas.
“Selama ini masyarakat paham folklor yang besar-besar atau yang mainstream yang sudah ditulis, yang sering diceritakan orang,” ujar Hasta.
Program Tutur Tumurun, lanjut dia, mendorong peserta mencari cerita yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Mereka kemudian tidak hanya menemukan folklor, tetapi juga mencoba memahami makna di balik cerita tersebut.
Folklor Tak Boleh Sekadar Tempelan
Hasta menyebut, salah satu persoalan yang ditemukan dalam sejumlah naskah adalah penggunaan mitologi sebagai tempelan.
Cerita menjadi menarik ketika folklor justru diolah dan dikembangkan untuk membaca persoalan masa kini.
Salah satu karya yang menarik perhatian juri, misalnya, mengembangkan tokoh dalam folklor menjadi batu.
Cerita tersebut kemudian dikaitkan dengan perubahan kampung akibat aktivitas pertambangan batu dan pasir serta perkembangan kawasan wisata.
“Pertanyaan tentang perubahan kampung menjadi persoalan penting dalam cerita,” tandas Hasta.
Bagi Hasta, keberanian mengembangkan folklor semacam itu menjadi salah satu kekuatan karya terbaik dalam sayembara.
Dari Folklor hingga Pengetahuan Mitigasi Bencana
Geomitologi tidak berhenti pada hubungan cerita dengan lanskap.
Hasta menjelaskan, folklor juga dapat menyimpan pengetahuan masyarakat dalam membaca fenomena alam dan menghadapi bencana.
Ia mengungkapkan, istilah geomitologi diperkenalkan Dorothy Vitaliano sekitar 1968 untuk melihat hubungan antara folklor dan fenomena kebumian.
“Misalnya pengetahuan masyarakat di Aceh yang berkaitan dengan tsunami 2004” imbuh Hasta.
Dalam cerita yang diwariskan, terdapat pengetahuan mengenai tanda-tanda alam yang mengarahkan masyarakat untuk segera menuju tempat tinggi ketika terjadi gempa dan air surut.
Kearifan serupa juga ditemukan dalam berbagai tradisi masyarakat di Indonesia.
“Ini menjadi penting ketika diterapkan di wilayah-wilayah yang memiliki kearifan-kearifan seperti itu,” kata Hasta.
Antologi Tutur Tumurun Jilid II Diluncurkan
Puncak Pesta Cerita juga menjadi momentum peluncuran buku Tutur Tumurun Jilid II.
Antologi tersebut memuat 20 cerita pendek terpilih.
Lima di antaranya merupakan karya pemenang sayembara. Sebanyak 15 cerita lainnya merupakan karya pilihan dewan juri.
Sebelumnya, 10 nomine telah mempresentasikan karya mereka di hadapan juri dan peserta lainnya.
Hasta menilai, proses presentasi tersebut tidak kalah penting dibandingkan hasil akhirnya.
Para peserta memaparkan proses riset, gagasan, hingga proses kreatif dalam mengolah folklor menjadi cerpen.
“Materi presentasi tersebut bahkan dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran, bukan hanya untuk sastra, tetapi juga pendidikan dan pengenalan geomitologi,” tandas Hasta.
Pesta Cerita Hadirkan Pertunjukan Lintas Seni
Pesta Cerita tidak hanya berisi penganugerahan dan peluncuran buku.
TBY juga menyiapkan sejumlah pertunjukan lintas disiplin.
AFC Sastra atau Art for Children akan menghadirkan pertunjukan puisi bertema mitologi dan Kejogjaan.
Teater JAB x Jenar Kidjing akan mempresentasikan dramatisasi naskah adaptasi cerpen pemenang.
Sanggar Seni Kinanti Sekar juga akan menyajikan tari eksploratif yang terinspirasi dari geomitologi.
Sementara itu, grup musik alternatif Yogyakarta, Rabu dan Buntu, akan melengkapi panggung selebrasi.
Komunitas Suling Bambu Nusantara turut hadir mengiringi jamuan di Selasar Gedung Societet.
Melalui Tutur Tumurun 2026, TBY ingin menghidupkan kembali folklor lokal sekaligus membuka ruang bagi penulis muda DIY.
Cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu.
Di tangan generasi baru, cerita tersebut bisa dibaca kembali untuk memahami identitas, sejarah, lingkungan, hingga hubungan manusia dengan lanskap Yogyakarta. (Ken).
