Home » FK-KMK UGM Libatkan 4 Negara dalam Summer Course 2026, Perkuat Ketahanan Mental di Era Digital

FK-KMK UGM Libatkan 4 Negara dalam Summer Course 2026, Perkuat Ketahanan Mental di Era Digital

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, Ahmad Hamim Sadewa (tengah) dalam konferensi pers Summer Course 2026 di Puskesmas Temon I, Kulon Progo, Rabu (3/11/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Kulon Progo – Tekanan media sosial, kelelahan digital, perundungan siber, hingga perubahan pola interaksi sosial menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan mental. 

Menjawab persoalan tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare untuk memperkuat ketahanan emosional masyarakat di era digital.

Mengusung tema Modern Mental Wellness: Science-Based Strategies for Emotional Resilience, program yang berlangsung pada 26 Oktober–6 November 2026 ini mempertemukan 56 mahasiswa sarjana dan pascasarjana dari Indonesia, Belanda, Pakistan, dan Thailand.

FK-KMK UGM juga menghadirkan narasumber internasional dari Taiwan, Swedia, Amerika Serikat, Malaysia, Australia, dan Inggris. 

Mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mengembangkan pendekatan kesehatan mental berbasis bukti ilmiah.

Program ini tidak hanya membahas persoalan kesehatan mental dari perspektif medis dan psikologis. 

Peserta juga mempelajari peran teknologi, lingkungan sosial, pola hidup, dan kolaborasi lintas profesi dalam membangun ketahanan emosional.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, Ahmad Hamim Sadewa mengatakan, perubahan gaya hidup masyarakat berlangsung sangat cepat, terutama sejak teknologi digital berkembang pesat. 

Perubahan tersebut membawa manfaat sekaligus tantangan bagi kehidupan generasi muda.

Menurutnya, kemudahan mengakses informasi dan berkomunikasi melalui teknologi tidak selalu diikuti kemampuan membangun interaksi sosial secara langsung.

“Sekarang kita lebih banyak berinteraksi secara virtual. Permainan dan pertemanan banyak berlangsung melalui gawai dan internet sehingga ruang interaksi sosial secara langsung menjadi lebih terbatas,” kata Ahmad Hamim, Rabu (3/11/2026). 

Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena generasi muda menghadapi karakteristik dan tantangan kesehatan mental yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Ahmad mencontohkan, sebagian anak muda lebih mudah mengalami tekanan ketika menghadapi konflik, teguran guru, maupun persaingan. 

Kondisi itu bahkan dapat memengaruhi aktivitas pendidikan dan hubungan sosial mereka.

“Generasi anak-anak sekarang berbeda. Mereka dimarahi guru saja bisa stres atau keluar sekolah. Ketika memiliki masalah dengan teman, mereka bisa memilih diam dan tidak mau bertemu lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan, pandangan tersebut bukan untuk menilai generasi Z lebih baik atau lebih buruk. 

Masyarakat justru perlu memahami perubahan karakteristik generasi muda agar dapat memberikan pendekatan pencegahan dan penanganan yang tepat.

Karena itu, Ahmad menilai penguatan kesehatan mental membutuhkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. 

“Masyarakat tidak cukup hanya memahami gejala gangguan mental, tetapi juga perlu membangun kemampuan mengelola tekanan dan memberikan dukungan kepada orang-orang di sekitarnya,” ujarnya. 

Bahas Dampak Media Sosial hingga Pemanfaatan AI

Melalui Summer Course 2026, FK-KMK UGM mengangkat berbagai persoalan kesehatan mental yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.

Peserta mempelajari pengaruh media sosial, durasi penggunaan layar, hiper-konektivitas, kelelahan digital, dan perundungan siber terhadap kesejahteraan psikologis.

Program ini juga membahas peluang pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence), terapi digital, dan layanan kesehatan mental jarak jauh untuk memperluas akses masyarakat terhadap dukungan psikologis.

Selain teknologi, peserta mendapatkan materi praktis mengenai pengelolaan stres dan emosi, pendekatan kognitif-perilaku berbasis bukti, kualitas tidur, aktivitas fisik, serta keselarasan ritme sirkadian.

Materi lain mencakup mindfulness dan praktik sederhana untuk membantu mengelola kecemasan. 

Peserta juga mempelajari pemanfaatan pengobatan tradisional, herbal, dan bahan alami, termasuk jamu, sebagai bagian dari pendekatan kesehatan holistik.

FK-KMK UGM turut mengajak peserta memahami kesehatan mental sepanjang rentang kehidupan. 

Pembahasan mencakup perkembangan emosional anak dan remaja, tekanan karier serta burnout pada kelompok dewasa, hingga pemeliharaan kesehatan mental dan vitalitas kognitif pada lansia.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa setiap kelompok usia membutuhkan perhatian dan strategi pendampingan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Mahasiswa Belajar Langsung di 10 Puskesmas Kulon Progo

Tidak berhenti pada pembelajaran di ruang kuliah, peserta juga mengikuti kegiatan lapangan di 10 puskesmas di Kabupaten Kulon Progo.

Sepuluh puskesmas tersebut meliputi Puskesmas Temon I, Panjatan I dan II, Galur I, Sentolo I dan II, Pengasih I dan II, Girimulyo I, serta Kalibawang.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa mengenali persoalan kesehatan masyarakat sekaligus memahami kondisi pelayanan kesehatan primer di Indonesia.

Peserta juga didorong mengembangkan gagasan program kesehatan masyarakat berdasarkan hasil pengamatan lapangan. 

Mereka dapat mengolah pengalaman tersebut menjadi bagian dari tugas akhir.

Ahmad Hamim menjelaskan, pendekatan kesehatan mental membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu dan profesi. 

“Mahasiswa tidak hanya diharapkan mampu menjaga kesehatan mental sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi keluarga, teman, dan lingkungan masyarakat,” ungkapnya. 

Ia mengatakan, FK-KMK UGM telah mengintegrasikan materi kesehatan mental ke dalam pendidikan sejumlah program studi, termasuk kedokteran, kedokteran gigi, dan farmasi.

Di sisi lain, UGM juga mendorong dosen dan mahasiswa menjalankan kegiatan penelitian serta pengabdian masyarakat secara berkelanjutan.

Di bidang pendidikan spesialis, Ahmad melihat peningkatan minat dokter untuk mendalami ilmu kedokteran jiwa. 

Ia menilai, perkembangan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap tenaga profesional kesehatan mental.

UGM juga mengembangkan kerja sama dengan pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa. 

“Salah satu bentuknya berupa pendampingan dokter residen dan spesialis jiwa ke sejumlah puskesmas di Kabupaten Grobogan,” jelasnya. 

Kolaborasi tersebut membantu tenaga kesehatan primer meningkatkan kemampuan mengenali dan menangani persoalan kesehatan mental, termasuk merujuk pasien yang membutuhkan penanganan spesialis.

Peserta Belanda Kagumi Kecepatan Layanan Puskesmas Indonesia

Yana Sasprink, peserta Summer Course 2026 dari Vrije Universiteit Medical Center (VUMC). (prosa/ken).

Pengalaman mengikuti Summer Course 2026 juga memberikan perspektif baru bagi peserta internasional. 

Yana Sasprink, peserta dari Vrije Universiteit Medical Center (VUMC), Belanda, mengaku memperoleh banyak pengetahuan mengenai penanganan kesehatan mental di Indonesia.

Ia tertarik mengikuti program tersebut karena masih kuatnya stigma masyarakat terhadap persoalan kesehatan mental.

Menurut Yana, masyarakat perlu lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, termasuk berani menceritakan kondisi diri sendiri. 

Keterbukaan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi orang-orang yang membutuhkan dukungan.

“Saya pikir kita perlu berbicara lebih terbuka tentang kesehatan mental, bukan hanya kondisi orang lain, tetapi juga kesehatan mental diri sendiri. Hal itu dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi semua orang,” ungkapnya.

Yana juga membandingkan layanan kesehatan mental di Indonesia dengan Belanda. 

Berdasarkan pengalamannya mengunjungi Puskesmas Temon, ia melihat masyarakat dapat memperoleh dukungan dan pendampingan dengan relatif cepat.

Sebaliknya, masyarakat di Belanda masih menghadapi waktu tunggu panjang untuk mendapatkan layanan kesehatan mental. 

Bahkan, sebagian pasien harus menunggu hingga satu tahun sebelum memperoleh penanganan.

“Salah satu perbedaan terbesar adalah di sini masyarakat mendapatkan bantuan dengan cepat. Di Belanda, beberapa orang harus masuk daftar tunggu setidaknya selama satu tahun,” jelasnya.

Selain pelayanan kesehatan, Yana tertarik dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengajak peserta melakukan aktivitas produktif, seperti memilah sampah serta membuat lilin dan minyak.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas, berinteraksi, dan saling mendukung. 

Ia bahkan melihat pendekatan serupa berpotensi diterapkan di Belanda.

“Pengalaman itu memperkaya perspektif saya mengenai penanganan kesehatan mental. Dukungan psikologis tidak hanya berasal dari layanan medis, tetapi juga dapat tumbuh melalui aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat,” imbuhnya. 

Melalui Summer Course 2026, FK-KMK UGM berharap mahasiswa mampu mengembangkan kompetensi lintas profesi, memperluas jejaring internasional, serta menerapkan pengetahuan berbasis bukti ilmiah untuk menjawab persoalan kesehatan mental di masyarakat.

Program ini sekaligus memperkuat internasionalisasi pendidikan UGM melalui kolaborasi akademisi, pembelajaran lintas budaya, dan pertukaran pengalaman antarnegara. 

Dengan pendekatan tersebut, UGM mendorong lahirnya strategi kesehatan mental yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat. (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *