PROSA.ID, Gunungkidul – Ratusan kader dan relawan Partai Golkar dari berbagai kapanewon di Kabupaten Gunungkidul menyampaikan keprihatinan atas belum terlaksananya Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Gunungkidul.
Mereka mendesak jajaran pengurus segera menggelar agenda organisasi tersebut sesuai ketentuan AD/ART partai.
Aspirasi itu mereka sampaikan dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat (30/10/2026).
Selain membahas kondisi internal partai, para kader juga menggelar doa bersama untuk mengenang almarhum Gandung Pardiman, tokoh Golkar yang dinilai berjasa membesarkan partai di Gunungkidul.
Pimpinan Golkar Kapanewon Ponjong, Supriyono mengatakan, pertemuan tersebut berlangsung secara mendadak.
Meski demikian, perwakilan kader dari sejumlah kapanewon hadir untuk mengikuti doa bersama sekaligus menyampaikan aspirasi mengenai kondisi organisasi.
Menurut Supriyono, Gandung Pardiman memiliki peran penting dalam perjalanan Partai Golkar di Bumi Handayani.
Ia mengenang almarhum sebagai pejuang partai, guru, sekaligus pembimbing yang mencurahkan pikiran, tenaga, waktu, hingga harta untuk membesarkan Golkar.
“Kepergian Pak Gandung menjadi pengingat bagi para kader untuk menjaga perjuangan dan keberlangsungan organisasi,” katanya.
Musda Golkar Gunungkidul Belum Terlaksana Sejak Dijadwalkan 2025
Di tengah kegiatan tersebut, Supriyono menyoroti belum terlaksananya Musda Golkar Gunungkidul.
Ia menilai, persoalan ini membutuhkan perhatian serius karena Musda menjadi bagian penting dalam mekanisme regenerasi kepemimpinan dan konsolidasi organisasi.
Supriyono menjelaskan, Musda semestinya berlangsung setiap lima tahun sekali sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Golkar.
Ia membandingkan kondisi Gunungkidul dengan sejumlah kabupaten lain di DIY. Menurutnya, Golkar di Bantul, Kulon Progo, dan Sleman telah melaksanakan Musda serta melantik kepengurusan baru.
Sementara itu, Golkar Gunungkidul sebelumnya telah menjadwalkan Musda pada 8 November 2025. Namun, hingga Jumat (30/10/2026), agenda tersebut belum terlaksana.
Supriyono khawatir, ketidakjelasan jadwal Musda akan menghambat konsolidasi dan memengaruhi soliditas kader di tingkat daerah.
“Karena itu kami meminta seluruh pihak yang memiliki tanggung jawab dalam kepemimpinan partai segera mencari penyelesaian,” jelasnya.
Minta Pengurus Golkar Patuhi AD/ART
Supriyono menegaskan, kader memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan jajaran pengurus agar menjalankan organisasi sesuai aturan.
Ia menjelaskan, kepentingan partai menjadi prioritas utama, bukan kepentingan kelompok atau segelintir orang.
“Kami mengingatkan agar persoalan internal tidak terus berlarut-larut karena berpotensi merugikan organisasi dan mencoreng nama Partai Golkar,” ungkapnya.
Dalam pertemuan tersebut, Supriyono turut menyinggung Bab XV Pasal 75 AD/ART Partai Golkar sebagai salah satu ketentuan yang perlu menjadi perhatian dalam menyelesaikan dinamika internal partai.
Para kader yang hadir menginginkan pengurus segera melaksanakan Musda melalui mekanisme organisasi yang berlaku.
Mereka berharap proses tersebut dapat memberikan kepastian kepemimpinan sekaligus membuka ruang konsolidasi di tingkat daerah.
Sejumlah tokoh senior Golkar Gunungkidul juga menghadiri pertemuan tersebut, di antaranya Parno, Sukadi, Jumiran, dan Slamet.
Melalui pertemuan itu, Supriyono berharap seluruh kader tetap menjaga kebersamaan dan mengutamakan kepentingan organisasi.
“Kepatuhan terhadap AD/ART serta kepastian pelaksanaan Musda menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan dan soliditas Partai Golkar di Gunungkidul,” pungkasnya. (Ken).
