PROSA.ID, Yogyakarta – Budaya Jawa mendapat ruang baru di layar lebar melalui Cidro Asmoro The Movie.
Film yang menggabungkan musik, drama, komedi, dan kultur Jawa ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 8 Oktober 2026.
Film tersebut berangkat dari kesuksesan Cidro Asmoro The Series yang sebelumnya meraih lebih dari dua juta penonton.
Tim produksi kemudian membawa cerita dengan semangat serupa ke layar lebar, tetapi menghadirkan kisah baru yang lebih dekat dengan fenomena kehidupan masyarakat saat ini.
Produser Cidro Asmoro The Movie, Aji Fauzi mengatakan, proses produksi film berlangsung cukup panjang karena tim ingin menyatukan berbagai elemen dalam cerita secara utuh.
“Di film Cidro Asmoro tantangannya adalah bagaimana menggabungkan elemen musik, drama, komedi, dan cerita menjadi satu kesatuan yang utuh. Itu tidak gampang,” kata Aji dalam konferensi pers di Raminten Kitchen Yogyakarta, Senin (28/9/2026).
Menurut Aji, tim produksi tidak ingin musik hanya menjadi tempelan dalam film.
Begitu pula budaya Jawa tidak sekadar menjadi latar belakang, sementara komedi hanya hadir sebagai selingan.
“Kami tidak mau musik hanya sekadar tempelan, budaya Jawa hanya sekadar latar belakang, humor hanya untuk situ saja. Jadi perlu keseimbangan antara humor dengan drama, antara cerita dan musik,” ujarnya.
Bidik Penonton Muda
Aji menjelaskan, tantangan semakin besar karena film tersebut menyasar penonton muda, termasuk generasi Alpha.
Oleh karena itu, tim harus menemukan titik temu antara unsur tradisional dengan modernitas.
“Kami ingin film budaya Jawa ini ditonton anak-anak muda, Gen Alpha, dan bukan cuma di Jawa, tetapi di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Film tersebut kemudian memadukan musik campursari, drama, komedi, dan cerita yang berkaitan dengan fenomena viral di media sosial.
Happy Asmara juga terlibat dalam film tersebut, meski berhalangan hadir dalam sesi wawancara.
“Harapannya perpaduan berbagai unsur itu membuat Cidro Asmoro The Movie dapat diterima masyarakat luas,” imbuh Aji.
Budaya Jawa Bukan Sekadar Latar
Sutradara Cidro Asmoro The Movie, Seno Aji Julius mengungkapkan, ia sengaja menghadirkan Jawa bukan hanya melalui pakaian, bangunan, atau simbol budaya yang terlihat secara fisik.
Menurut dia, unsur Jawa dalam film justru muncul melalui sikap, karakter, dan kultur para tokohnya.
“Cara menjaga Jawanya di film ini sebenarnya kami coba tawarkan Jawanya itu bukan Jawa yang tangible. Jawa yang bentuknya misalnya pakaian atau gedung, bukan. Jawa di sini adalah sikap orangnya, kulturnya,” ungkapnya.
Ia mengaku mendapat inspirasi dari lagu-lagu Ndaru yang menggunakan lirik bahasa Jawa.
Ia menilai, lagu-lagu tersebut berbicara tentang perjuangan manusia Jawa, tetapi hadir melalui musik yang modern.
Seno Aji ingin membawa pendekatan serupa ke dalam film.
Ia mempertahankan unsur Jawa tanpa membuat film terasa jauh dari kehidupan generasi sekarang.
“Saya mau menempatkan bahwa budaya Jawa bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi budaya Jawa itu salah satu unsur yang membentuk modernitas. Modern itu dibentuk dari Jawa juga, dari karakternya,” jelas Seno.
Penyanyi Beralih ke Layar Lebar
Film ini juga menjadi ruang baru bagi sejumlah penyanyi untuk menunjukkan kemampuan akting.
Salah satunya Ndaru yang selama ini dikenal sebagai penyanyi.
Ndaru mengaku harus beradaptasi karena mendapat tuntutan karakter yang berbeda dari kesehariannya sebagai musisi.
“Di film ini jelas saya penyanyi, tapi disuruh akting. Saya berusaha semaksimal mungkin, semoga nanti kalian semuanya suka,” ujar Ndaru.
Ia bahkan harus menjalani proses perubahan fisik untuk kebutuhan karakter.
Ndaru mengatakan berat badannya turun sekitar enam kilogram selama menjalani diet.
Selain perubahan fisik, ia harus menjiwai karakter sebagai seorang bujang.
Proses tersebut ia jalani dengan bantuan pelatih akting dan para pemain lain.
“Karakter khususnya harus menjiwai menjadi bujang lagi. Untungnya ada akting coach dan mereka semua. Saya juga banyak berlatih dengan teman-teman cast yang lain,” paparnya.
Bagi Ndaru, keterlibatannya dalam film tidak sekadar menjadi pengalaman baru.
Ia menyebut, proses tersebut sebagai pembelajaran untuk memasuki dunia perfilman.
“Ini bukan cuma proses kreatif, tetapi juga pembelajaran saya untuk hal baru di dunia film,” lanjut Ndaru.
Jodilee Belajar dari Pemain Senior
Pengalaman serupa juga dirasakan Jodilee Warwick yang dipercaya memerankan karakter Prita.
Jodilee mengaku mendapat banyak pelajaran dari para pemain senior selama proses produksi, terutama dalam membangun kepercayaan diri ketika berada di depan kamera.
“Saya mau Mas Rick, terus Pak Rene juga sudah mempercayakan saya menjadi Prita di film Cidro Asmoro,” tandasnya.
Ia menjelaskan, para pemain senior memberikan dukungan selama proses syuting.
Mereka juga membantunya memahami teknik akting dan membangun karakter.
“Teman-teman semuanya enak banget diajak kerja sama. Saya banyak diajarin sama teman-teman senior, termasuk Mas Erik, caranya untuk akting dan bagaimana percaya diri di depan kamera,” katanya.
Karakter Prita menjadi salah satu bagian penting dalam cerita.
Jodilee menggambarkan Prita sebagai dirinya.
Prita adalah sosok yang menjalani kehidupan sulit sebelum kehidupannya berubah setelah menjadi viral.
“Filmnya memang menyentuh sekali. Kisahnya Prita awalnya anak yang tinggal di kos-kosan, makan saja susah, bayar kos-kosan susah, tiba-tiba viral,” lanjutnya.
Erik Estrada : Budaya Jawa Punya Tempat Istimewa
Sementara Erik Estrada yang juga terlibat dalam proyek tersebut menegaskan, film ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa budaya Jawa tetap memiliki tempat istimewa di industri film nasional.
“Sering kali budaya Jawa dianggap sepele, tapi lewat film ini kami ingin menunjukkan bahwa Jawa bisa menjadi kekuatan. Walaupun saya orang Sunda, saya percaya bahwa budaya Jawa punya daya tarik yang besar. Film ini membuktikan bahwa Jawa bukan sekadar pelengkap, tapi bisa menjadi pusat cerita,” pungkasnya. (Ken).
