Home » Sri Sultan Tegaskan Satyalancana Bukan Sekadar Masa Kerja, ASN Harus Jadi Teladan

Sri Sultan Tegaskan Satyalancana Bukan Sekadar Masa Kerja, ASN Harus Jadi Teladan

Gubernur DIY memberikan penghargaan dalam acara Penyematan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya Presiden Republik Indonesia Tahun 2026 di Yogyakarta, Senin (7/9/2026). (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan Satyalancana Karya Satya bukan sekadar penghargaan atas lamanya masa kerja PNS.

Sultan meminta para aparatur menjadikan penghargaan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat integritas, meningkatkan kualitas pelayanan, dan mewariskan keteladanan.

Sultan menyampaikan pesan itu saat menghadiri Penyematan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya Presiden Republik Indonesia Tahun 2026 di Yogyakarta, Senin (7/9/2026).

Pemda DIY tahun ini memberikan tanda kehormatan tersebut kepada 360 PNS yang telah mengabdi selama 10, 20, dan 30 tahun.

Sri Sultan: Satya Tak Bisa Diukur Kalender

Menurut Sri Sultan, masa pengabdian memang menunjukkan perjalanan panjang seorang aparatur.

Namun, lamanya bekerja belum otomatis menunjukkan kualitas pengabdian.

Sultan menilai, aparatur harus membuktikan kesetiaan melalui konsistensi menjaga amanah, terutama ketika menghadapi perubahan jabatan, perkembangan zaman, dan tuntutan pelayanan masyarakat.

“Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun adalah hitungan masa kerja. Tetapi satya tidak dihitung oleh kalender. Satya diuji oleh keteguhan menjaga amanah, ketika jabatan berubah, zaman berganti, dan tantangan pelayanan datang silih berganti,” kata Sultan.

Karena itu, Sultan mengajak penerima Satyalancana melihat penghargaan tersebut sebagai pengingat untuk terus memperbaiki kualitas pengabdian.

Pengalaman panjang harus melahirkan kebijaksanaan.

Menurut Sultan, kesetiaan harus menghadirkan makna. Sementara keteladanan harus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

“Waktu memberikan pengalaman. Kesetiaan memberikan makna. Keteladanan menjadikan keduanya berguna bagi generasi yang melanjutkan pengabdian,” ujarnya.

Penghargaan Bukan Tujuan Utama

Sultan kemudian mengaitkan pengabdian ASN dengan filosofi Jawa ‘Sepi ing pamrih, rame ing gawe’. Prinsip tersebut mendorong aparatur bekerja sungguh-sungguh tanpa menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama.

Sultan berharap, para penerima Satyalancana menggunakan momentum tersebut untuk mengevaluasi perjalanan pengabdian masing-masing.

Pengalaman selama puluhan tahun, menurut Sri Sultan, semestinya semakin mematangkan kebijaksanaan, memperhalus rasa dalam melayani masyarakat, dan memperkuat integritas.

“Dengan begitu, tanda kehormatan tidak hanya menunjukkan masa kerja, tetapi juga mencerminkan proses panjang seorang aparatur dalam membangun kepercayaan publik,” jelas Sultan.

Era AI Ubah Cara ASN Bekerja

Di tengah perjalanan pengabdian itu, aparatur juga menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.

Digitalisasi pemerintahan dan kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara ASN menjalankan pekerjaan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pada saat yang sama, masyarakat terus meningkatkan ekspektasi terhadap kualitas pelayanan publik.

Mereka membutuhkan layanan yang cepat, mudah, transparan, dan responsif.

Sultan pun meminta ASN tidak menjadikan pengalaman masa lalu sebagai alasan untuk mempertahankan cara kerja lama.

“Setia kepada pengabdian tidak berarti setia kepada cara-cara lama. Kesetiaan kepada negara justru menuntut kesediaan untuk terus belajar, keberanian untuk berubah, dan kerendahan hati untuk memperbaiki pelayanan,” ungkap Sultan.

360 PNS Diminta Wariskan Pengalaman

Lebih jauh, Sri Sultan meminta para ASN senior tidak menyimpan pengalaman hanya untuk kepentingan pribadi.

Mereka perlu meneruskan etos kerja, integritas, pengetahuan, dan kebijaksanaan kepada generasi ASN berikutnya.

Sultan menyebut, keberhasilan sebuah institusi tidak hanya bergantung pada kompetensi pegawainya. Institusi juga membutuhkan kesinambungan nilai dan keteladanan.

“Sebab institusi yang kuat bukan hanya memiliki pegawai yang cakap, tetapi juga memiliki mata rantai keteladanan yang tidak terputus,” ungkap Sultan.

Kehormatan Sejati Datang dari Kepercayaan Masyarakat

Pada akhirnya, Sultan mengingatkan bahwa pemerintah dapat menyematkan tanda kehormatan di dada seorang aparatur.

Namun, masyarakat menentukan kehormatan yang sesungguhnya melalui kepercayaan.

Tanda Satyalancana menjadi simbol perjalanan pengabdian.

Kepercayaan publik menjadi bukti nyata kualitas pengabdian tersebut.

“Pada akhirnya, tanda kehormatan dapat disematkan di dada, tetapi kehormatan yang sesungguhnya hanya dapat disematkan oleh masyarakat, melalui kepercayaan,” pungkas Sultan. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *