Home » No Longer Human: Saat AI Mengubah Seni dan Memaksa Manusia Bertanya tentang Dirinya Sendiri

No Longer Human: Saat AI Mengubah Seni dan Memaksa Manusia Bertanya tentang Dirinya Sendiri

Penulis pameran, Febrian A. Hasibuan saat memaparkan karya dalan No Longer Human di Ace House - Langgeng Art Space Yogyakarta, Jumat (31/7/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi sekadar menjadi teknologi yang bekerja di balik layar. 

AI telah masuk ke ruang kreatif, memengaruhi cara manusia membuat gambar, membaca informasi, bekerja, hingga memahami realitas. 

Di tengah perubahan itu, pameran No Longer Human menghadirkan pertanyaanyang jauh lebih mendasar: ketika teknologi semakin mampu meniru manusia, apa yang masih membuat manusia tetap menjadi manusia?

Pameran yang hadir di Ace House – Langgeng Art Foundation Yogyakarta ini tidak menempatkan AI hanya sebagai ancaman. 

Para seniman justru membaca teknologi tersebut dari berbagai sudut. 

Sebagian melihat AI sebagai medium baru untuk memperluas kemungkinan artistik. 

Sebagian lain mengkritisi sistem kerja, eksploitasi data, hingga perubahan perilaku manusia akibat algoritma.

Perbedaan perspektif itu membuat No Longer Human tidak berhenti sebagai pameran seni berbasis teknologi. 

Pameran ini berubah menjadi ruang untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan mesin, internet, data, kreativitas, dan masa depan.

Karya-karya yang hadir memperlihatkan satu hal penting. Teknologi boleh berubah cepat, tetapi manusia tetap menjadi pusat persoalan.

AI Membuka Kemungkinan Baru, Bukan Sekadar Ancaman

Pameran No Human Longer di Ace House – Langgeng Art Foundation, Jumat (31/2026). (prosa/ken).

Seniman Agan Harahap melihat kehadiran AI sebagai momentum yang mengubah cara seniman berpikir. 

Ia tidak melihat kecerdasan buatan sekadar sebagai teknologi baru, tetapi sebagai perangkat yang membuka kemungkinan artistik yang sebelumnya sulit dicapai melalui teknik manipulasi digital konvensional.

Dalam pameran No Longer Human, Agan menghadirkan karya yang menempatkan berbagai visual provokatif di Gedung DPR. 

Ia menggunakan AI untuk menciptakan citra yang tampak nyata dengan pantulan cahaya, komposisi ruang, dan detail visual yang sulit diwujudkan melalui proses penyuntingan biasa.

Agan sebelumnya mengandalkan fotografi dan Photoshop untuk merekayasa fakta. Kini, AI mengubah cara ia membangun gagasan.

“Kalau dulu saya memakai fotografi dan Photoshop untuk merekayasa fakta, sekarang AI mengubah pola pikir saya. Saya tidak lagi melihat teknologi ini sebagai batasan, tetapi sebagai kemungkinan baru dalam berkarya,” ujar Agan di sela pameran, Jumat (31/7/2026). 

Karya yang tampil dalam pameran sebenarnya hanya bagian dari seri yang lebih besar. 

Agan sempat merancang proyek Jakarta International Biennal yang membayangkan karya seni hadir di berbagai gedung pemerintahan melalui bantuan AI.

Keterbatasan produksi membuat Agan hanya menampilkan satu karya dalam pameran tersebut. 

Namun, gagasan itu menunjukkan bagaimana AI dapat memperpendek proses teknis yang sebelumnya membutuhkan pekerjaan sangat rumit.

Meski begitu, Agan tidak menempatkan AI sebagai pengganti manusia. 

Ia tetap menempatkan manusia sebagai pengarah utama dalam proses kreatif.

“AI hanya asisten. Yang membedakan tetap cara berpikir, pengalaman, referensi, dan latar belakang manusia. Kita tetap conductor yang mengarahkan mesin itu,” katanya.

Bagi Agan, kecanggihan teknologi tidak otomatis menghasilkan karya yang bermakna. 

Manusia tetap menentukan gagasan, konteks, dan arah penggunaan teknologi.

Azizi Al Majid Soroti Pekerja Tak Terlihat di Balik AI

Sementara seniman Azizi Al Majid membawa perhatian publik ke persoalan yang berbeda. 

Ia mengajak pengunjung melihat manusia-manusia yang bekerja di balik perkembangan AI, tetapi jarang mendapat perhatian.

Masyarakat, menurut Azizi, terlalu sering membicarakan kecanggihan teknologi tanpa melihat jutaan pekerja yang menyuplai data untuk melatih sistem kecerdasan buatan.

Azizi menggunakan kolase digital untuk membicarakan persoalan tersebut. 

Ia memanfaatkan gambar siap pakai dari internet dan memperlihatkan bagaimana gambar, meme, tangkapan layar, serta foto pribadi terus mengalami perubahan.

Gambar bergerak dari ruang digital ke ruang fisik. Setelah itu, gambar kembali masuk ke ruang digital dan mengalami mutasi baru.

Azizi menjalankan proses kreatif melalui telepon genggam, tablet, pencetakan fisik, kemudian kembali mengolahnya secara digital. 

Ia melihat proses tersebut sebagai gambaran perjalanan visual yang terjadi setiap hari di internet.

“Yang saya lakukan sebenarnya mereplikasi cara gambar hidup di internet. Satu gambar terus berubah, diberi konteks baru, lalu menyebar sampai orang tidak lagi mengenali bentuk aslinya,” jelasnya. 

Azizi juga menyoroti keberadaan micro–work atau pekerja mikro yang memberikan anotasi pada jutaan gambar dan teks. 

Pekerjaan tersebut memasok data yang kemudian menjadi bahan penting dalam pengembangan AI generatif.

Persoalannya muncul ketika teknologi yang membutuhkan pekerja tersebut semakin berkembang. 

AI berpotensi menggantikan sebagian pekerjaan yang sebelumnya justru menopang perkembangan teknologi itu sendiri.

Azizi pun menggeser pertanyaan dari sekadar ‘seberapa canggih AI?’ menjadi ‘bagaimana manusia akan hidup ketika pekerjaannya hilang?.’

“Pertanyaannya bukan hanya bagaimana AI berkembang, tetapi bagaimana manusia akan hidup ketika pekerjaan yang selama ini membentuk identitasnya mulai hilang,” ungkap Azizi.

Popok: AI Tetap Bergantung pada Manusianya

Seniman Popok Tri Wahyudi melihat AI dengan perspektif yang lebih santai. 

Ia menyebut AI sebagai ‘akal imitasi’ dan menilai manusia tidak perlu memusuhi teknologi.

Menurut Popok, AI tetap menjadi alat. Manusia menentukan tujuan penggunaan alat tersebut.

“Yang penting tetap manusianya. Mau dipakai untuk hal baik atau buruk, semuanya kembali kepada orang yang menjalankannya,” paparnya. 

Popok mengingatkan bahwa manusia selalu menghadapi pola serupa ketika teknologi baru muncul. 

Manusia menciptakan teknologi untuk membantu kehidupan, tetapi manusia pula yang dapat menggunakannya untuk menghancurkan.

Ia mencontohkan panah yang pada awalnya membantu manusia berburu. 

Dalam perkembangan berikutnya, manusia juga menggunakan panah untuk menyerang kelompok lain.

Pola yang sama muncul dalam perkembangan drone, robot tempur, hingga teknologi perang modern. 

Teknologi terus berkembang, tetapi manusia tetap menentukan dampaknya.

“Teknologinya terus berubah, tetapi efek sampingnya tetap kembali ke manusia. Masalahnya bukan pada AI, melainkan pada cara manusia menggunakannya,” kata Popok.

Pandangan Popok memperkuat gagasan utama No Longer Human. 

Pameran ini tidak mengajak publik sekadar takut kepada AI. 

Sebaliknya, pameran justru mengajak manusia memahami tanggung jawabnya ketika teknologi semakin kuat.

Rizal: AI Hanya Meniru Ingatan Kolektif Manusia

Seniman Rizal Nugraha membawa pertanyaan tersebut lebih jauh. 

Ia menilai, AI tidak benar-benar menciptakan sesuatu dari ruang kosong.

AI bekerja dengan mengumpulkan, meniru, dan menyusun kembali jejak pengetahuan manusia yang telah tersebar di ruang digital. 

Karena itu, Rizal lebih memilih istilah ‘akal imitasi’ daripada kecerdasan buatan.

Pandangan itu menjadi dasar karya yang ia hadirkan dalam No Longer Human. 

Rizal tidak menggunakan AI untuk mengejar gambar yang sempurna. 

Ia justru menghentikan proses pembentukan citra sebelum mesin menyelesaikan pekerjaannya.

Rizal sengaja membiarkan visual tetap kabur, terdistorsi, dan tidak utuh. 

Bentuk-bentuk tersebut menyerupai makhluk hidup, tetapi sulit dikenali.

Sebagian bentuk mengingatkan pada anatomi manusia. Sebagian lainnya menyerupai hewan atau objek yang saling bertumpuk.

“Saya tertarik pada momen ketika AI belum selesai menghasilkan gambar. Justru di situ saya melihat sesuatu yang menarik. Gambarnya seperti ingatan kolektif yang kabur dan belum menemukan bentuknya,” ujar Rizal.

Menurut Rizal, AI hanya melakukan pendekatan terhadap jutaan data yang pernah dipelajarinya. 

Mesin tidak memiliki pengalaman hidup, emosi, atau kesadaran seperti manusia.

Ia bahkan membayangkan kemungkinan ketika AI kelak tidak lagi memperoleh data baru dari manusia. 

Mesin mungkin hanya akan belajar dari hasil ciptaannya sendiri.

Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkaran umpan balik yang terus mengulang pola lama.

“Saya penasaran apa yang akan terjadi ketika AI hanya belajar dari AI. Mungkin yang muncul bukan lagi pengetahuan baru, tetapi sekadar tiruan dari tiruan,” tuturnya.

Pertanyaan Rizal sekaligus membuka persoalan lain. 

Jika AI semakin banyak menghasilkan konten dan kemudian menggunakan konten itu sebagai bahan belajar, manusia bisa menghadapi dunia digital yang semakin dipenuhi reproduksi dari reproduksi.

Eko Nugroho: AI Boleh Berkembang, Manusia Tetap Pegang Kendali

Seniman Eko Nugroho melihat kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari perkembangan zaman. 

Namun, ia menilai teknologi tidak seharusnya membuat manusia meninggalkan proses kreatif manual.

Eko mengaku tetap mencintai proses manual seperti menggambar dan mengolah berbagai material. 

Baginya, karya seni tetap membutuhkan tangan, rasa, dan pikiran manusia.

“Saya tetap mencintai manual,” ujar Eko. 

Meski begitu, Eko tidak menolak teknologi. Ia justru memanfaatkan internet sebagai salah satu sumber inspirasi. 

Menurutnya, dunia digital membuka akses luas terhadap informasi dan gagasan yang dapat memperkaya proses kreatif seniman.

Hal serupa berlaku pada AI. Teknologi dapat membantu seniman mengeksplorasi ide dan kemungkinan visual. 

Namun, manusia tetap harus menentukan arah dan makna karya.

Eko juga mengingatkan dampak lain dari kehidupan digital. Kemudahan mengakses informasi terkadang membuat manusia hanya menjadi penonton berbagai persoalan melalui layar.

Ia menilai, manusia perlu tetap memiliki kepekaan terhadap realitas di sekitarnya. 

Seni tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga pengalaman, intuisi, rasa, dan kemampuan manusia membaca kehidupan.

Karena itu, Eko tidak melihat masa depan seni sebagai pertarungan antara manual dan digital. 

Ia melihat keduanya dapat berjalan bersama selama manusia tetap memegang kendali.

“AI dapat mempercepat proses dan membuka kemungkinan baru. Namun, manusia tetap memiliki kemampuan berpikir, merasakan, dan memberi makna yang menjadi kekuatan utama dalam penciptaan seni,” tandas Eko. 

Ketika Algoritma Mulai Membaca Kehidupan Manusia

Penulis pameran, Febrian A. Hasibuan, membawa pembahasan ke kehidupan sehari-hari. 

Menurutnya, internet telah berkembang menjadi sistem yang terus membaca, mengumpulkan, dan memprediksi perilaku manusia.

Manusia meninggalkan data hampir setiap saat. 

Pencarian informasi, pemesanan makanan, tanda suka, komentar, foto, hingga berbagai aktivitas digital membentuk jejak yang dapat dibaca oleh sistem.

Algoritma kemudian mengolah jejak tersebut untuk memprediksi perilaku berikutnya.

“Belum kita memesan makanan, aplikasinya sudah bisa memprediksi apa yang ingin kita makan. Hidup kita terus dibaca dan dipetakan oleh sistem,” ujarnya yang akrab disapa Aan.

Fenomena tersebut membuat batas antara manusia dan mesin semakin tipis. 

Manusia menghasilkan data, sistem membaca data, kemudian sistem memberikan respons yang kembali memengaruhi perilaku manusia.

Siklus itu berlangsung terus-menerus. Di sinilah No Longer Human menemukan pertanyaan utamanya. 

Jika hampir seluruh aspek kehidupan manusia telah terhubung dengan sistem digital, apa yang masih tersisa sehingga manusia tetap dapat disebut manusia?

Bukan Menolak AI, tetapi Mempertahankan Kemanusiaan

Aan menegaskan bahwa pameran ini tidak bertujuan menolak perkembangan teknologi. 

AI sudah menjadi bagian dari kehidupan dan akan terus berkembang.

Persoalan utama justru terletak pada kemampuan manusia menghadapi perkembangan tersebut tanpa kehilangan empati, nalar kritis, dan kesadaran.

AI dapat membantu manusia menghasilkan gambar. AI dapat membaca pola. 

AI dapat menyusun informasi. AI bahkan dapat meniru berbagai bentuk ekspresi manusia.

Namun, teknologi tetap menghadapi batas yang berbeda dari manusia. 

Mesin tidak mengalami kehidupan sebagaimana manusia mengalaminya.

Manusia merasakan kehilangan. Manusia menghadapi kegagalan. 

Manusia membangun ingatan dari pengalaman. Manusia memberi makna terhadap peristiwa yang dialaminya.

Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara manusia menciptakan karya.

Karena itu, perdebatan tentang AI tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah mesin mampu membuat karya seni. 

Pertanyaan yang lebih penting menyangkut apa yang membuat sebuah karya memiliki makna.

Seni Menjadi Ruang untuk Mengkritisi Teknologi

Melalui karya, Eko Nugroho, Agan Harahap, Azizi, Popok, dan Rizal, No Longer Human memperlihatkan beragam cara seniman membaca perubahan zaman.

Ada seniman yang memanfaatkan AI sebagai medium baru. Ada yang mempertahankan proses manual. 

Ada pula yang membongkar persoalan data, pekerja mikro, budaya digital, hingga logika kapitalisme yang mengikuti perkembangan teknologi.

Perbedaan tersebut justru membuat pameran semakin kuat.

Para seniman tidak memberikan satu jawaban tunggal tentang masa depan AI. Mereka menawarkan pertanyaan dari berbagai arah.

Agan melihat AI sebagai kemungkinan baru. 

Azizi mengingatkan publik tentang pekerja yang menopang sistem tersebut. 

Popok menekankan tanggung jawab manusia sebagai pengguna teknologi. 

Rizal melihat AI sebagai mesin yang menyusun kembali ingatan kolektif manusia.

Sementara itu, Aan mengembalikan seluruh pertanyaan tersebut kepada kehidupan manusia sehari-hari.

Semua perspektif itu bertemu pada satu kesimpulan: AI bukan hanya persoalan teknologi. AI merupakan persoalan kemanusiaan.

Apa yang Tersisa dari Manusia?

Pada akhirnya, No Longer Human tidak meminta pengunjung memilih antara manusia atau mesin.

Pameran ini justru mengajak publik memahami bagaimana keduanya mulai berkelindan dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia menciptakan teknologi. Teknologi kemudian mengubah kebiasaan manusia. 

Perubahan itu menghasilkan data baru. Data tersebut kembali digunakan untuk mengembangkan teknologi yang lebih canggih.

Siklus itu terus berjalan.

Di tengah siklus tersebut, manusia perlu mempertahankan sesuatu yang tidak sekadar bisa direplikasi oleh mesin: empati, pengalaman, tanggung jawab, kesadaran, dan kemampuan memberi makna.

AI mungkin mampu menghasilkan gambar yang terlihat nyata. AI mungkin mampu meniru gaya, bahasa, dan pola visual. 

Namun, manusia tetap memiliki pengalaman hidup yang membentuk cara melihat dunia.

Itulah ruang yang kemudian diisi seni.

Seni tidak hanya menjadi tempat untuk memamerkan kecanggihan teknologi. 

Seni juga menjadi ruang untuk mempertanyakan konsekuensi teknologi.

Melalui No Longer Human, para seniman mengajak publik berhenti sejenak dari derasnya arus digital dan melihat kembali dirinya sendiri.

Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar: jika mesin semakin mampu meniru manusia, apa yang harus manusia pertahankan agar tidak kehilangan kemanusiaannya sendiri? (Ken). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *