Home » Pecah Sunyi Ajak Anak Melukis Totebag, Kreativitas Tumbuh dari Kampung Kembaran

Pecah Sunyi Ajak Anak Melukis Totebag, Kreativitas Tumbuh dari Kampung Kembaran

Workshop melukis totebag di Kembaran RT 01, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu (28/6/2026). (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Pameran ‘Pecah Sunyi’ tidak hanya menghadirkan ruang apresiasi seni bagi masyarakat, tetapi juga mengajak anak-anak mengenal seni rupa melalui kegiatan kreatif.

Pameran tersebut menggelar workshop melukis totebag di Dusun Kembaran RT 01, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu (28/6/2026).

Kegiatan ini mengundang lebih dari 20 anak berusia 5–10 tahun dari TPA Masjid Nurul Iman dan beberapa RT di sekitar lokasi pameran.

Selama dua jam, mereka menyalurkan imajinasi sekaligus belajar mengenal warna, bentuk, dan teknik melukis melalui media yang berbeda.

Mengenalkan Seni Sejak Usia Dini

Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi seni anak dari LEGA (Les Gambar) yang juga peserta Pameran ‘Pecah Sunyi’, Didit Pratomo, sebagai mentor utama.

Ia mengajak peserta tidak hanya belajar menggambar, tetapi juga mengembangkan cara berpikir kreatif melalui proses berkarya.

Didit menjelaskan, workshop tersebut bertujuan melatih anak-anak melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda sekaligus menuangkannya dalam bentuk visual.

“Tujuan utamanya agar anak-anak mampu menyelesaikan persoalan dengan cara sederhana melalui sudut pandang yang berbeda. Kami lebih menitikberatkan pada pesan dan narasi yang mampu mereka visualkan dalam karya,” ujarnya dikutip Senin (29/6/2026).

Menurut Didit, seni dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan karena anak-anak bebas mengekspresikan gagasan tanpa takut melakukan kesalahan.

Cotten Bud Jadi Media Eksplorasi

Berbeda dari kegiatan melukis pada umumnya, Didit mengajak peserta menggunakan cotton bud sebagai alat utama untuk mengaplikasikan cat ke atas totebag kanvas.

Ia sengaja memilih media sederhana tersebut agar anak-anak menghadapi tantangan baru sekaligus belajar menemukan solusi secara mandiri.

“Anak-anak biasanya terbiasa melihat alat gambar yang konvensional. Kali ini mereka kami tantang menggunakan cotton bud. Dari situ mereka belajar menghadapi kendala sederhana, lalu mencari cara mengatasinya sendiri,” jelasnya.

Selain memberikan pengalaman sensorik yang berbeda, totebag yang mereka hias juga memiliki nilai guna.

Anak-anak dapat memanfaatkannya untuk membawa buku, botol minum saat mengaji, maupun perlengkapan bermain sehari-hari.

Belajar Warna dengan Cara Menyenangkan

Workshop diawali dengan pengenalan warna dasar dan teknik color mixing atau pencampuran warna.

Didit menyampaikan materi secara santai melalui permainan, pantun, contoh gambar, hingga konsep sederhana tentang matematika warna.

Ia juga memanfaatkan topeng dari kardus bekas sebagai media pembelajaran dan memasang tulisan Let’s Stay Focused and Keep Drawing untuk mengajak peserta tetap fokus selama berkarya.

Suasana belajar berlangsung interaktif tanpa kesan menggurui.

“Meski hanya berlangsung sekitar dua jam, kegiatan tersebut mampu membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus keberanian anak-anak untuk bereksplorasi,” jelasnya.

Pantun yang dibawakan Didit, seperti “Gula pasir rasanya hambar, suka naksir makanya digambar“, berhasil mencairkan suasana.

Pantun tersebut mampu memancing peserta menuangkan objek yang mereka sukai ke dalam karya.

Imajinasi Anak Menghias Totebag

Setelah memahami teknik dasar, setiap peserta bebas menentukan tema lukisan sesuai imajinasinya.

Mereka menghadirkan beragam karya, mulai dari lanskap alam, karakter hewan, hingga komposisi abstrak dengan warna-warna cerah.

Beberapa peserta bahkan menampilkan gagasan yang unik. Salah satunya Naya.

Ia melukiskan seorang vokalis yang sedang bernyanyi karena menyukai dunia musik.

Aya memilih menggambarkan tokoh Lemon Tang sebagai bentuk ketertarikannya pada musik dan budaya populer.

Sementara itu, Rameyza menghadirkan pemandangan laut. Sedangkan Dali, memanfaatkan teknik titik menggunakan cotton bud untuk menciptakan motif polkadot yang menarik.

Membawa Seni Lebih Dekat dengan Masyarakat

Workshop melukis totebag menjadi bagian dari rangkaian Pameran ‘Pecah Sunyi’ yang berupaya menghadirkan seni lebih dekat dengan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Didit ingin menunjukkan bahwa ruang belajar seni tidak harus hadir di galeri atau studio.

“Seni juga dapat tumbuh di tengah lingkungan tempat tinggal warga,” ungkapnya.

Didit berharap pengalaman sederhana tersebut dapat menumbuhkan keberanian anak-anak untuk terus berkarya.

“Anak-anak tidak hanya belajar menggambar, tetapi juga belajar berekspresi, berimajinasi, dan membangun kepercayaan diri,” tandasnya.

Ia juga berharap, melalui kegiatan ini mereka terus menjaga semangat berkarya setelah kegiatan ini selesai.

Pameran ‘Pecah Sunyi’ kembali menegaskan komitmennya menghadirkan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, sekaligus membuka ruang kreativitas bagi anak-anak sejak usia dini. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *