Home » Mangayubagya Sultan HB X ke 80, Ribuan Pamong Akan Antar Hasil Bumi ke Kraton

Mangayubagya Sultan HB X ke 80, Ribuan Pamong Akan Antar Hasil Bumi ke Kraton

Konferensi pers dalam rangka Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Sekretariat Nayantaka DIY, Senin (30/3/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Dalam rangka Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, ribuan pamong dari seluruh DIY akan mengantarkan hasil bumi ke Kraton Yogyakarta dalam bentuk kirab budaya, Kamis (2/4/2026).

Hasil bumi yang akan diantarkan ke Kraton Yogyakarta merupakan bentuk cinta kasih dari rakyat kepada Sang Raja.

Acara tersebut diinisiasi oleh Paguyuban Nayantaka beserta unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketua Umum Paguyuban Nayantaka DIY, Gandang Hardjanata mengatakan, sebanyak 10 ribu hingga 12 ribu pamong kalurahan dijadwalkan mulai melaksanakan kirab pada pukul 07.30 WIB.

“Pergerakan massa dari 392 kalurahan dan 45 kelurahan se-Kota Yogyakarta ini lahir dari inisiatif murni para lurah tanpa ada unsur paksaan dari siapapun,” katanya dalam konferensi pers di Sekretariat Nayantaka, Senin (30/3/2026).

Menurut Gandang, momen ini adalah kesempatan bagi para pamong desa untuk memberikan sumbangsih semangat dan ucapan terima kasih kepada Ngarsa Dalem yang telah menjadi teladan dalam melayani masyarakat.

Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk syukur atas kepercayaan Kraton yang selama ini mengizinkan kalurahan mempergunakan Tanah Kas Desa atau Sultan Ground sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) yang nilainya bervariasi mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah di tiap wilayah.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan keguyuban ataupun wujud cinta kasih warga Yogya terhadap rajanya. Karena apa? Karena kita tahu semua bagaimana di Yogya ini, raja selalu memberikan contoh kepada kami di dalam melayani masyarakat,” jelasnya.

Bagi Gandang, meskipun Sri Sultan HB X menjabat sebagai Gubernur, namun sosoknya bisa menempatkan diri. Hal itulah yang perlu dicontoh oleh masyarakat.

“Sampai sekarang, yuswa beliau (Sri Sultan Hamengku Buwono X) yang masuk kaping 80. Kami berharap kita bisa memberikan sumbangsih, memberikan semangat kepada beliau, dan juga ucapan terima kasih,” ungkapnya.

Gandang yang juga Lurah Tamanmartani menjelaskan, Kraton telah memfasilitasi apa yang menjadi cita-cita kalurahan sendiri. Selama ini, kalurahan sudah bisa mempergunakan tanah miliknya Kraton (Sultan Ground) yang juga merupakan PAD dari tiap-tiap kalurahan.

“Besarnya kita tidak bicara, mungkin ada yang Rp25 juta, ada yang Rp100 juta, mungkin ada yang Rp500 juta. Dari situ kami menginginkan agar sebagian kecil saja hasil panenan atau hasil dari tanah-tanah yang sudah dipercayakan kepada pemerintah kalurahan untuk digarap itu bisa dipersembahkan,” terangnya.

Gandang mengungkapkan, hasil bumi unggulan yang akan diberikan dari wilayah masing-masing, seperti durian bagi daerah yang potensial atau kelapa bagi wilayah pesisir.

Menariknya, Sri Sultan HB X juga telah menyatakan kesediaannya untuk menerima hasil bumi tersebut, namun kemudian akan menyerahkannya kembali kepada para Bupati dan Wali Kota untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Hal ini sejalan dengan konsep ‘dari masyarakat kembali ke masyarakat’ yang menjunjung tinggi semangat gotong royong,” ungkapnya.

Seluruh peserta pamong diwajibkan mengenakan pakaian adat Jawa gaya Ngayogyakarta, sementara masyarakat umum yang ingin bergabung diperbolehkan mengenakan pakaian adat secara umum maupun batik dengan tetap menjaga kesopanan dan keselarasan adat setempat

Rekayasa Lalu Lintas

Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti menambahkan, pihaknya akan memberlakukan rekayasa dan pengalihan arus lalu lintas secara total sejak pukul 06.00 WIB hingga acara selesai.

“Arah utara dari Teteg sampai ke selatan, kemudian sirip-sirip di Malioboro itu juga akan ditutup karena akan banyak masyarakat yang berjalan menuju ke arah Kraton,” katanya.

Erni menyebut, meski titik kumpul awalnya di Titik Nol, namun rombongan peserta dari Kulon Progo akan masuk lewat arah barat dan dari Bantul masuk lewat arah timur.

“Peserta dari Kota Yogyakarta, Sleman dan Gunungkidul dari arah utara. Makanya kami akan menutup dari arah utara. Malioboro pada tanggal itu ditutup penuh, karena malam harinya juga akan ada angkringan gratis,” pungkasnya. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *