Home » Depresi Remaja Tinggi, YAKKUM Hadirkan Program ASIK di Sekolah

Depresi Remaja Tinggi, YAKKUM Hadirkan Program ASIK di Sekolah

Manajer Proyek ASIK, Siswaningtyas Tri Nugraheni mengenalkan program ASIK untuk remaja, Rabu (10/12/2025). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Isu kesehatan mental di kalangan anak muda menjadi sorotan serius. Hal ini diperkuat dengan data nasional yang menunjukkan sekitar 30 persen dari 280 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.

Bahkan, Hasil Indonesia–National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) mengungkap bahwa 5,5 persen remaja (10–17 tahun) atau sekitar 2,45 juta anak telah terdiagnosis memiliki gangguan mental.

Merespon hal ini, Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) meluncurkan program ASIK (Aksi Sehat Jiwa Inisiatif dan Kontribusi) yang fokus pada ranah promotif dan preventif guna mencegah penanganan kasus terlambat, khususnya di kalangan anak muda.

Program ini lahir dari pembelajaran sebelumnya, di mana banyak kasus baru terdeteksi setelah mencapai tahap akut, seperti depresi hingga berisiko mengakhiri hidup.

Manajer Proyek ASIK, Siswaningtyas Tri Nugraheni atau akrab disapa Tyas mengatakan, program ASIK bertujuan menguatkan sumber daya remaja usia sekolah melalui penyadaran kondisi diri dan partisipasi bermakna.

Melalui program ini, pihaknya berupaya mengintegrasikan sistem dukungan yang masih terfragmentasi antara sektor pendidikan dan kesehatan, sekaligus menjembatani perspektif anak muda yang sering terabaikan dalam perancangan layanan.

“Program ASIK ini berusaha untuk mengkapasitasi mereka tidak hanya sekadar pelatihan-pelatihan, tetapi yang punya ide kreatif untuk menceritakan isu terdekat tentang dirinya, termasuk di isu kesehatan mental,” ujar Tyas di Sleman, Rabu (10/12/2025).

Menurut Tyas, salah satu tantangan utama terkait kesehatan mental yaitu tingginya stigma dan keengganan remaja untuk mencari bantuan profesional, seperti Puskesmas dan psikolog.

Ia menilai, faktor lingkungan termasuk orang tua menjadi hal penting yang mempengaruhi keengganan remaja dalam mencari bantuan.

Oleh karenanya, program ASIK berupaya menormalisasi isu ini dengan mendorong penerimaan diri dan lingkungan terhadap masalah kesehatan jiwa.

“Kami ingin mengajak teman-teman muda. Kalau kamu merasa tidak baik-baik saja, itu tidak apa-apa. Tapi misalnya kamu mengalami masalah kesehatan jiwa pun, itu seperti permasalahan kesehatan yang lain. Supaya tidak terstigma,” kata Tyas.

Tyas mengungkapkan, program ASIK mendorong sekolah menjadi tempat yang dipercaya, aman, nyaman, dan tidak menstigma bagi remaja.

Ia menekankan, fokus program ini bukan hanya pada penanganan kasus bullying, tetapi juga membangun sistem rujukan berjenjang yang menitikberatkan pada pertolongan pertama di tingkat sosial-emosional.

“Rujukan itu ketika sudah tidak baik-baik secara sosial-emosionalnya itu bisa ke siapa? Mungkin ke teman, ke guru, atau ke orang tua. Pertolongan-pertolongan pertama itulah yang kami kenalkan,” jelasnya.

Tyas mengakui, masuk ke institusi pendidikan bukanlah hal mudah. Saat ini program ASIK yang baru berjalan tujuh bulan baru diterima oleh empat sekolah, yaitu SMA 1 Seyegan, SMA 1 Godean, SMA 1 Wonosari, dan SMA 2 Playen.

“Penolakan sering terjadi karena stigma yang melekat. Jika Yakkum masuk, dikhawatirkan akan terkesan bahwa sekolah tersebut memiliki banyak kasus kesehatan jiwa terdiagnosa yang dapat merusak kredibilitas sekolah,” imbuh Tyas.

Di sisi lain, YAKKUM menilai bahwa program-program sekolah yang sudah ada, seperti Sekolah Ramah Anak cenderung masih bersifat teoretik, kuratif reaktif dan belum mendalam, terutama karena sering kali tidak melibatkan orang tua.

Padahal, stressor terbesar remaja seringkali ada di rumah, yang belum terkoneksi dengan sistem sekolah.

Menanggapi tren kasus yang didominasi oleh kecenderungan depresi dan kecemasan pada anak muda, ASIK memfokuskan intervensi pada penguatan kesehatan sosial-emosional.

“Program ini mengajarkan remaja untuk mengenali diri, termasuk potensi dan kelemahan. Dengan menguatkan kesadaran diri dan lingkungan yang mendukung, program ini harapannya dapat menciptakan kesadaran kolektif di institusi pendidikan dan emastikan bahwa kasus-kasus kesehatan mental dapat terdeteksi dan tertangani di tahap awal,” pungkas Tyas. (Ken).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *