PROSA.ID, Yogyakarta – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan pilihan jurusan kuliah kepada anak.
Orang tua perlu mempertimbangkan minat anak, kemampuan akademik, dan kebutuhan dunia kerja sebelum menentukan program studi di perguruan tinggi.
Rektor UAD, Muchlas menegaskan bahwa calon mahasiswa perlu mempertimbangkan tiga hal sebelum memilih perguruan tinggi.
Mereka perlu memetakan kebutuhan profesi pada masa depan, mengenali minat dan potensi diri, serta memilih kampus yang mampu membekali mereka dengan kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.
Muchlas meminta orang tua dan guru bimbingan konseling (BK) membantu siswa memahami perubahan kebutuhan profesi di berbagai sektor.
Informasi tersebut dapat menjadi acuan bagi siswa untuk menentukan program studi yang relevan dengan peluang kerja ketika mereka menyelesaikan pendidikan beberapa tahun mendatang.
“Pertama, tentu kita harus mengetahui pekerjaan-pekerjaan apa yang dibutuhkan di dunia usaha, dunia industri, pemerintahan, dan lembaga-lembaga yang lain,” kata Muchlas dalam Kick Off PMB UAD 2026 di Kampus Terpadu UAD, Senin (12/10/2026).
Orang Tua Jangan Memaksakan Pilihan Jurusan
Muchlas juga menyoroti pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak saat menentukan pilihan pendidikan tinggi.
Menurutnya, keluarga perlu menyelaraskan harapan orang tua dengan minat anak agar calon mahasiswa dapat menjalani pendidikan sesuai keinginannya.
Ia mencontohkan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi dokter karena memiliki latar belakang profesi di bidang kesehatan.
Namun, anak tersebut belum tentu memiliki minat yang sama. Sebagian anak justru ingin menekuni bidang ekonomi atau bekerja sebagai kreator konten.
Muchlas menilai orang tua perlu memahami aspirasi anak sebelum mengarahkan mereka ke program studi tertentu.
Ia mendorong keluarga berdiskusi untuk menemukan pilihan yang sesuai dengan potensi anak sekaligus mempertimbangkan prospek karier.
“Harus bersinergi antara harapan orang tua dengan keinginan dari anak-anak kita,” ujarnya.
Selain mempertimbangkan minat dan prospek pekerjaan, Muchlas meminta calon mahasiswa memilih perguruan tinggi yang mampu mengembangkan kompetensi, sikap, dan keterampilan mereka.
Ia menegaskan bahwa kampus tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik.
“Perguruan tinggi juga perlu menyiapkan lulusan agar mampu memasuki dunia kerja, mengabdi kepada masyarakat, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” ungkapnya.
UAD Buka Ruang Evaluasi dan Pengembangan Program Studi
Badan Pembina Harian UAD, Iwan Akib menjelaskan, kampus harus terus meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi.
Ia mengingatkan, sivitas akademika agar tidak berpuas diri meskipun telah meraih berbagai capaian pada tingkat nasional maupun internasional.
Iwan meminta UAD terus mengevaluasi dan mengembangkan keunggulannya. Menurutnya, kampus perlu menjaga tren peningkatan prestasi mahasiswa dan dosen melalui pembenahan yang berkelanjutan.
“Keunggulan atau mutu itu tidak pernah selesai. Kita tidak boleh mengatakan bahwa kita sudah berada di puncak,” kata Iwan.
Ia juga mendorong UAD memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, kepala sekolah, guru, dan berbagai mitra pendidikan.
Kerja sama tersebut dapat memperluas informasi mengenai UAD sekaligus membantu kampus memahami kebutuhan calon mahasiswa.
Iwan secara khusus mengajak kepala sekolah dan guru BK menyampaikan masukan mengenai program studi yang dibutuhkan siswa, termasuk bidang keilmuan yang belum tersedia di UAD.
Ia menilai, UAD memiliki potensi akademik yang besar melalui guru besar, dosen, dan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu.
“Kampus perlu mengoptimalkan sumber daya tersebut untuk memperkuat kualitas pembelajaran, mengembangkan program studi, dan meningkatkan prestasi mahasiswa” paparnya.
UAD Dorong Mahasiswa Meneladani Ahmad Dahlan
Iwan menyinggung tentang tanggung jawab besar yang melekat pada nama Ahmad Dahlan.
Ia berharap mahasiswa UAD tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga mengembangkan karakter yang mencerminkan nilai-nilai pendiri Muhammadiyah tersebut.
Iwan menyinggung empat karakter Ahmad Dahlan yang perlu mahasiswa teladani, yakni rasional, teguh pendirian, peka terhadap persoalan sosial, dan visioner.
“Ahmad Dahlan memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk meluruskan arah kiblat. Sikap tersebut menunjukkan pentingnya menggunakan pengetahuan dan pemikiran rasional dalam menyelesaikan persoalan,” tandasnya.
Ahmad Dahlan, lanjut Iwan, juga menunjukkan keteguhan pendirian ketika memperjuangkan keyakinan yang dianggapnya benar.
“Selain itu, kepeduliannya terhadap masyarakat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu penanganan bencana,” imbuhnya.
Iwan berharap, mahasiswa mampu mengembangkan karakter tersebut dalam kehidupan akademik maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat.
Oleh karena itu, UAD ingin melahirkan generasi muda yang membawa semangat pembaruan dan mampu menjawab tantangan zaman.
“Dengan menyandang nama besar Kiai Dahlan, harapan kita akan lahir Dahlan-Dahlan muda yang punya karakter dan kemiripan dengan Kiai Dahlan,” pungkasnya. (Ken).

