Site icon PROSA.ID

Tekan Angka Kematian Ibu, UGM Dorong Deteksi Dini dan Perawatan Sebelum Kehamilan

Ilustrasi ibu hamil. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI).

Meski berhasil menekan AKI menjadi 144 per 100 ribu kelahiran hidup berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, angka tersebut masih berada jauh di atas target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang menetapkan AKI sebesar 70 per 100 ribu kelahiran hidup.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Dr. dr. Eugenius Phyowai Ganap, menilai pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu mempercepat berbagai upaya strategis agar target tersebut dapat tercapai dalam lima tahun ke depan.

“Sebagai negara berkembang, capaian ini tentu menunjukkan kemajuan. Namun kita masih memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk mencapai target SDGs 2030,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Bangun Sistem Kesehatan yang Tangguh

Phyowai menegaskan bahwa penurunan angka kematian ibu tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan tenaga kesehatan.

Pemerintah juga harus memperkuat sarana-prasarana, sistem rujukan, serta kemampuan deteksi dini di seluruh layanan kesehatan.

Menurutnya, tenaga kesehatan yang kompeten tidak akan mampu bekerja optimal apabila fasilitas pendukung dan sistem pelayanan belum berjalan dengan baik.

“Kita membutuhkan sistem kesehatan yang resilien. SDM yang baik harus didukung sarana-prasarana yang memadai, sistem rujukan yang efektif, serta kemampuan deteksi dini yang kuat,” jelasnya.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang terus memperbaiki distribusi tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis kandungan.

Namun, ia menilai pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan menerapkan mekanisme penghargaan serta sanksi yang jelas agar tenaga kesehatan dapat menjalankan tugas sesuai kebutuhan daerah.

“Pemerintah perlu memastikan tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pendidikan dan penugasan benar-benar menjalankan tanggung jawabnya sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya.

Three Delays Masih Menjadi Tantangan

Phyowai menilai tingginya angka kematian ibu tidak selalu berkaitan dengan status wilayah perkotaan atau pedesaan.

Ia justru menyoroti faktor three delays atau tiga keterlambatan yang masih sering terjadi dalam penanganan kegawatdaruratan maternal.

Keterlambatan pertama muncul ketika keluarga maupun tenaga kesehatan gagal mengenali faktor risiko dan melakukan deteksi dini.

Keterlambatan kedua terjadi saat proses transportasi dan rujukan menuju fasilitas kesehatan yang memiliki layanan lebih lengkap berlangsung terlalu lama.

“Hambatannya berbeda-beda. Di Papua misalnya karena faktor geografis, sementara di kota besar sering terkendala kemacetan. Bahkan banyaknya pilihan rumah sakit terkadang membuat keluarga bingung menentukan fasilitas rujukan yang tepat,” ungkapnya.

Padahal, dalam kasus kegawatdaruratan obstetri terdapat golden period yang sangat menentukan keselamatan ibu dan bayi.

Karena itu, setiap keterlambatan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian.

Kontrasepsi Bantu Cegah Kehamilan Berisiko

Selain memperkuat layanan kesehatan, Phyowai juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mengenai perencanaan kehamilan.

Ia menjelaskan, AKI dihitung berdasarkan jumlah kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup.

Oleh sebab itu, upaya mengendalikan angka kelahiran dan mencegah kehamilan yang tidak direncanakan menjadi bagian penting dalam strategi penurunan AKI.

Ia menilai, penggunaan kontrasepsi berperan besar dalam mencegah unwanted pregnancy atau kehamilan yang tidak direncanakan sehingga risiko kesehatan ibu dapat ditekan.

“Kontrasepsi membantu mencegah kehamilan yang tidak direncanakan sehingga risiko kesehatan ibu dapat ditekan sejak awal,” tuturnya.

Penyakit Penyerta Mulai Mengancam

Saat ini, perdarahan, hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia, serta infeksi masih menjadi penyebab utama kematian ibu di Indonesia.

Namun, Phyowai melihat munculnya tren baru yang perlu mendapat perhatian serius.

Ia menyebut, semakin banyak kasus kematian ibu yang berkaitan dengan penyakit penyerta yang sebelumnya tidak terdeteksi sebelum kehamilan berlangsung.

“Sekarang mulai muncul peningkatan kematian akibat penyebab lain, misalnya penyakit jantung bawaan yang baru diketahui saat seorang perempuan hamil,” ungkapnya.

Perawatan Sebelum Kehamilan Jadi Kunci

Untuk menekan berbagai risiko tersebut, Phyowai mendorong perempuan menerapkan pre-conception care atau pelayanan kesehatan sebelum kehamilan.

Melalui pemeriksaan kesehatan sejak sebelum merencanakan kehamilan, perempuan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal dan melakukan penanganan terhadap berbagai faktor risiko yang berpotensi membahayakan ibu maupun janin.

“Idealnya, perempuan memeriksakan kondisi kesehatan terlebih dahulu sebelum merencanakan kehamilan agar berbagai faktor risiko dapat dideteksi dan ditangani sejak awal,” ujarnya.

Phyowai berharap, masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan reproduksi dan pentingnya perencanaan kehamilan.

Ia juga mendorong pemerintah untuk terus memperkuat sistem rujukan, memperluas akses layanan kesehatan yang merata, serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan sebelum kehamilan guna mempercepat penurunan angka kematian ibu dan mencapai target SDGs 2030. (Ken).




Exit mobile version