PROSA.ID, Yogyakarta – Program pameran Salon et Cetera yang diinisiasi oleh Ace House Collective kembali hadir di Langgeng Art Foundation Yogyakarta.
Pameran yang digelar pada 12 Juni hingga 24 Juli 2026 ini, menjadi ruang pertemuan bagi seniman dari beragam latar belakang untuk mempresentasikan karya mereka dalam satu pameran kolektif.
Mengadopsi format pameran bergaya salon, program ini menempatkan karya-karya seni secara berdampingan tanpa hierarki.
Setiap karya hadir dalam posisi yang setara, sehingga menciptakan dialog visual yang dinamis dan terbuka.
Tim Artistik Salon et Cetera, Hendra Hehe, mengatakan konsep salon dipilih untuk menghadirkan suasana pameran yang lebih demokratis.
Melalui pendekatan tersebut, setiap karya memiliki kesempatan yang sama untuk berinteraksi dengan karya lainnya.
“Format salon memungkinkan karya-karya saling berdampingan tanpa sekat hierarkis. Kami ingin menghadirkan ruang dialog yang hidup dan terbuka bagi berbagai praktik artistik,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Perluas Partisipasi Internasional
Hendra menjelaskan, pameran pada edisi ini menjadi langkah baru dalam pengembangan program Salon et Cetera.
Tahun ini, penyelenggara memperluas cakupan peserta hingga ke tingkat internasional.
Menurutnya, keterlibatan seniman dari berbagai negara membuka peluang pertukaran gagasan, pengalaman, dan perspektif yang lebih luas.
Kehadiran peserta internasional juga memperkaya perjumpaan antara praktik seni lokal dan global.
“Perluasan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk terus merespons perkembangan seni kontemporer sekaligus memperkuat Salon et Cetera sebagai ruang dialog lintas budaya,” katanya.
Tampilkan 183 Karya dari 142 Seniman
Salon et Cetera tahun ini menampilkan 183 karya dari 142 seniman. Sebanyak 135 seniman berasal dari Indonesia.
Sementara tujuh seniman internasional berasal dari Thailand dan Filipina.
Melalui beragam medium dan pendekatan artistik, para peserta menghadirkan berbagai isu yang berangkat dari pengalaman personal, sosial, budaya, hingga lingkungan.
Hendra menilai, keberagaman peserta menjadi kekuatan utama pameran.
“Setiap karya menghadirkan perspektif yang berbeda dan memperkaya percakapan yang terjadi di dalam ruang pamer,” jelasnya.
Ruang Pertemuan dan Pertukaran Gagasan
Lebih dari sekadar ajang menampilkan karya, Salon et Cetera dirancang sebagai ruang perjumpaan antara seniman, publik, dan berbagai gagasan yang berkembang di dunia seni.
Hendra menambahkan, pameran ini terus berkembang sebagai platform yang membuka peluang kolaborasi.
Selain itu, pertukaran pengetahuan antarpraktisi seni dari berbagai latar belakang mampu berkembang lewat pameran ini.
“Salon et Cetera tidak hanya berbicara tentang karya yang dipamerkan, tetapi juga tentang pertemuan, percakapan, dan pertukaran gagasan yang terjadi di dalamnya,” imbuhnya.
“Dengan melibatkan ratusan karya dan puluhan seniman dari dalam maupun luar negeri, Salon et Cetera mempertegas perannya sebagai salah satu ruang dialog seni yang terus tumbuh dan berkembang di Yogyakarta,” pungkas Hendra. (Ken).

