Site icon PROSA.ID

Pesta Boneka Hadirkan Panggung Inklusif, Badak Ajak Penonton Kenali Hutan

Anak-anak dari Yayasan Sayap Ibu usai menyaksikan pertunjukan Hutan dalam Pesta Boneka di Kampoeng Media, Selasa (6/10/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Panggung seni tak seharusnya memiliki sekat. 

Prinsip itu dibawa Papermoon Puppet Theatre melalui Pesta Boneka, festival seni pertunjukan boneka dan teater visual yang membuka ruang perjumpaan bagi penonton dengan maupun tanpa disabilitas.

Pesta Boneka tidak sekadar menghadirkan pertunjukan sebagai tontonan. 

Festival dua tahunan ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan seniman, penonton, komunitas, sekaligus berbagai gagasan tentang inklusivitas dan lingkungan.

Salah satu karya yang hadir mengusung konsep pertunjukan multisensori.

 Penonton diajak mengenali karakter, cerita, serta suasana melalui pengalaman inderawi yang beragam.

Pendiri Papermoon Puppet Theatre, RiaPapermoon mengatakan, pendekatan inklusif menjadi penting karena pertunjukan yang dapat diakses penyandang disabilitas masih relatif jarang.

Menurutnya, ketika pertunjukan untuk penyandang disabilitas selalu dibuat sebagai acara khusus, kondisi tersebut justru berpotensi menciptakan pemisahan.

“Kalau kita ingin mereka juga menjadi bagian dari keseharian kita, harusnya juga tidak dipisahkan,” kata Ria ditemui di sela acara, Selasa (6/10/2026). 

Mendorong Seniman Membuka Ruang Inklusif

Ria ingin pertunjukan inklusif tidak hanya menghadirkan akses bagi penonton dengan disabilitas. 

Selain itu, ia juga ingin semakin banyak seniman profesional memahami kebutuhan penonton dengan beragam kemampuan.

Ria menilai, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pengalaman menikmati pertunjukan berkualitas.

“Mereka juga berhak punya pengalaman menonton pertunjukan yang berkualitas baik,” ujarnya.

Menurut Ria, semakin banyak seniman yang mendapatkan pengalaman tersebut, semakin besar pula peluang lahirnya ruang seni yang aman dan inklusif.

Semangat itu kemudian diperluas melalui proses pengembangan kapasitas seniman. 

“Kami membuka open call sejak April dan menggelar fase master class yang diikuti 24 peserta,” ungkapnya. 

Dari jumlah tersebut, 12 peserta dipilih untuk mengikuti proses selanjutnya. Mereka berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Dukungan UNESCO membuat program tersebut dapat menghubungkan seniman dari Singapura, Indonesia, dan Malaysia dalam konteks shared heritage Asia Tenggara.

Peserta juga berasal dari beragam latar belakang seni, mulai storyteller, aktor, penari hingga musisi.

Ria berharap, mereka tidak berhenti sebagai peserta. 

Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama proses diharapkan dibawa kembali ke komunitas masing-masing.

“Harapannya mereka bisa pass the baton, melanjutkan tongkat estafet di lingkungan mereka masing-masing,” jelasnya.

Dari Badak hingga Pesan Menjaga Hutan

Karakter badak kemudian membawa pertunjukan pada isu yang lebih luas tentang hutan dan kelestarian lingkungan.

Ria menyebut, karya tentang hutan tersebut sebenarnya telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Namun, ketika karya itu hadir di Indonesia, konteksnya terasa semakin kuat.

Terlebih, isu kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan yang terus muncul.

“Ini kayaknya it hits hard,” kata Ria.

Papermoon sendiri memiliki perhatian terhadap isu ruang hijau melalui gerakan Hutan Kecil Papermoon dan Hutan Kecil Ruang Pana.

Gerakan tersebut menjadi upaya kecil untuk menjaga ruang hijau sekaligus mempertahankan pengalaman manusia berinteraksi dengan alam.

Ria menyebut, seni tidak seharusnya hanya menjadi tempat manusia menikmati gambaran keindahan hutan ketika kondisi alam sebenarnya semakin terancam.

“Jangan sampai kita cuma bisa menikmati indahnya hutan justru dari karya-karya pertunjukan. Harusnya di keseharian kita bisa menikmati itu,” ujarnya.

Karena itu, proses kreatif tidak diarahkan semata-mata untuk membicarakan kebakaran hutan.

Ria menambahkan, tim sempat banyak membicarakan kebakaran hutan selama proses. 

Namun, mereka kemudian memilih menghadirkan pengalaman yang mengingatkan penonton tentang indahnya hutan yang lestari.

“Yang ingin kita rayakan adalah justru mengingatkan betapa indahnya kita kalau bisa merasakan hidup di hutan yang lestari,” ungkap Ria.

Mengapa Badak Dipilih?

Konsep multisensori menjadi salah satu kekuatan karya yang ditampilkan dalam Pesta Boneka.

Gaga, salah satu anggota tim pertunjukan, menjelaskan konsep tersebut memanfaatkan puppet atau boneka untuk memperkenalkan berbagai sensasi kepada penonton.

Karena itu, pemilihan karakter tidak dilakukan secara sembarangan.

Tim memilih badak sebagai salah satu karakter utama karena hewan tersebut dapat mewakili pengalaman sensorik tertentu.

“Kenapa kami memilih badak? Karena kami ingin memperkenalkan salah satu sensasi atau rasa tentang sesuatu yang kasar, keras, tapi tidak juga berbahaya,” ujar Gaga.

Tekstur tubuh badak, menurut Gaga, memiliki karakter yang sesuai dengan pengalaman yang ingin diperkenalkan melalui pertunjukan.

Dalam konteks hutan, badak juga memiliki relevansi kuat. 

Satwa tersebut semakin jarang ditemui dan menghadapi ancaman kepunahan.

Karena itu, pertunjukan menjadi cara bagi penonton untuk mengenal badak melalui pengalaman yang berbeda.

“Kita jarang lihat badak, sudah hampir punah juga. Makanya kita ingin menunjukkan, ini lho badak tuh seperti ini, seperti itu,” kata Gaga.

Bagi Gaga, pengalaman multisensori memungkinkan penonton tidak hanya melihat karakter melalui visual. 

Mereka juga dapat mengenalinya melalui sensasi yang dibangun selama pertunjukan.

“Pendekatan tersebut sekaligus membuat karya lebih terbuka bagi penonton dengan beragam cara menikmati pertunjukan,” imbuh Gaga. 

Melalui Pesta Boneka,  akhirnya mempertemukan dua pesan besar dalam satu ruang: membangun panggung yang tidak memisahkan penonton berdasarkan kemampuan, sekaligus mengingatkan kembali pentingnya menjaga alam. (Ken). 

Exit mobile version