PROSA.ID, Yogyakarta – Seni rupa tidak lagi hanya hadir di galeri atau ruang pamer di pusat kota. Melalui program ‘Pecah Sunyi’, para seniman membawa karya langsung ke kampung-kampung.
Langkah ini agar masyarakat dapat menikmati, mengenal, sekaligus terlibat dalam aktivitas seni.
Rangkaian kedua Pecah Sunyi digelar di Studio Mulyakarya, Dusun Glondong, Yogyakarta.
Selama tiga hari, pengunjung dapat menikmati pameran komik, ilustrasi, dan drawing, sekaligus mengikuti diskusi hingga workshop menggambar komik.
Pameran ini juga menjadi momen peluncuran antologi DxM (Dune x Mulyakarya), proyek kolaborasi internasional antara Dune Mini-Comics Night dari Seattle, Amerika Serikat, dan kolektif komik Mulyakarya dari Yogyakarta.
Seni Tak Harus Berada di Galeri
Kurator Pecah Sunyi, Deni Rahman mengatakan, program tersebut lahir dari kegelisahan melihat seni rupa yang selama ini lebih banyak berpusat di galeri dan ruang seni formal.
Menurutnya, banyak warga yang tinggal tidak jauh dari pusat kesenian justru belum pernah menikmati pameran secara langsung.
“Kami ingin mendekatkan diri kepada masyarakat. Selama ini seni berada di pusat-pusat kesenian. Padahal masyarakat yang jaraknya hanya sekitar satu jam dari pusat seni belum tentu pernah merasakan pengalaman itu,” katanya, Jumat (10/7/2026).
Deni menegaskan, ‘Pecah Sunyi’ tidak bertujuan memperluas galeri, melainkan menghadirkan seni ke ruang hidup masyarakat.
“Bukan memperluas galeri, tetapi mendekatkan seni kepada masyarakat. Seni harus bertemu dengan konteksnya, yaitu masyarakat,” ujarnya.
Setiap Desa Menampilkan Karakter Berbeda
‘Pecah Sunyi’ tidak menghadirkan konsep yang sama di setiap lokasi.
Deni menjelaskan, penyelenggara selalu menyesuaikan medium seni dengan potensi yang telah tumbuh di masing-masing desa.
Di Dusun Kembaran, pameran menampilkan karya seni rupa secara umum.
Sementara di Dusun Glondong, penyelenggara memilih komik karena kawasan tersebut telah memiliki ruang komunitas Mulyakarya.
Lokasi berikutnya akan menghadirkan karya patung, instalasi, dan medium tiga dimensi agar setiap desa memiliki identitas yang berbeda.
“Kami membaca potensi yang sudah ada di desa. Dari situ kami menentukan pendekatan seni yang paling dekat dengan masyarakat,” jelasnya.
Komik Dipilih sebagai Media Edukasi
Deni menilai, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa komik merupakan bagian dari seni rupa.
Karena itu, penyelenggara sengaja menjadikan komik sebagai pintu masuk untuk mengenalkan seni kepada publik.
“Komik adalah bagian dari seni rupa. Kami ingin membangun rasa penasaran masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu akan lebih mudah mengajak mereka mengikuti kegiatan seni berikutnya,” katanya.
Selama pameran berlangsung, panitia juga menggelar Komik Club pada Sabtu dan workshop menggambar komik pada Minggu sore yang terbuka bagi anak-anak maupun masyarakat umum.
DxM Satukan Komikus Jogja dan Seattle
Perwakilan Mulyakarya, Yudha Sandy mengungkapkan, pameran di Glondong sekaligus menjadi peluncuran antologi DxM (Dune x Mulyakarya).
Antologi tersebut mempertemukan Dune Mini-Comics Night dari Seattle dengan kolektif komik Mulyakarya dari Yogyakarta.
Kolaborasi itu berawal ketika para seniman kedua komunitas bertemu dalam Seattle Short Run Comix Fest 2025.
Pertemuan tersebut melahirkan gagasan untuk terus berkarya bersama meski dipisahkan jarak ribuan kilometer.
“DxM adalah antologi yang mempertemukan Dune Mini-Comics Night dari Seattle dan Mulyakarya dari Yogyakarta. Kami memulai proyek ini sebagai cara untuk terus membuat komik bersama meski terpisah jarak yang jauh,” ungkapnya.
Komik Menjadi Bahasa Universal
Yudha menyebut, para komikus yang terlibat percaya bahwa komik mampu melampaui batas negara, bahasa, maupun budaya.
Melalui antologi DxM, para seniman saling berbagi perspektif, gaya visual, hingga tradisi bercerita yang berkembang di masing-masing negara.
“Kami percaya bahwa komik adalah bahasa yang universal. Tujuan kami merayakan perkembangan komik kontemporer yang begitu luas dan beragam, melampaui batas-batas negara,” tandasnya.
Ia menyampaikan, antologi tersebut juga menjadi simbol persahabatan antarkomunitas kreatif.
“Ini merupakan cerminan persahabatan kami dan kecintaan bersama terhadap komik. Kami berharap langkah kecil ini dapat memperkuat komunitas komik internasional,” ujarnya.
Lima Desa, Lima Pendekatan
Inisiator ‘Pecah Sunyi’, Hendra Priyadhani menambahkan, program tersebut akan digelar di lima lokasi berbeda.
Setiap lokasi akan menghadirkan pendekatan seni yang menyesuaikan karakter masyarakat setempat.
“Kembaran lebih menampilkan karya seni rupa secara umum. Di Glondong ada rumah komik sehingga pendekatannya melalui komik. Bentuknya tetap pameran seni rupa, hanya mediumnya yang berbeda,” kata Hendra.
Ia menjelaskan, konsep tersebut membuat masyarakat lebih mudah merasa dekat dengan karya yang dipamerkan.
Warga Sambut Positif Pameran
Ketua RT 2 Dusun Glondong, Sugiono, mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut.
Ia berharap, kegiatan serupa mampu menumbuhkan minat generasi muda terhadap dunia komik dan seni rupa.
“Semoga kegiatan ini menarik adik-adik yang memiliki kreativitas untuk mengikuti jejak para seniman menjadi komikus yang lebih handal. Kami mendukung penuh agar pameran ini berjalan sukses dan lancar,” ujarnya.
Seni Menjangkau Kampung
Melalui Pecah Sunyi, seni rupa tidak lagi menjadi milik ruang-ruang eksklusif.
Program ini membawa karya langsung ke tengah masyarakat sekaligus membuka ruang dialog antara seniman dan warga.
Di sisi lain, peluncuran antologi DxM menunjukkan bahwa komunitas komik Yogyakarta mampu membangun jejaring kreatif hingga tingkat internasional.
Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa karya dari kampung dapat terhubung dengan ekosistem komik dunia tanpa kehilangan akar lokalnya. (Ken).

