PROSA.ID, Yogyakarta – Yogyakarta memiliki banyak seniman dan komunitas kreatif yang aktif melahirkan karya.
Namun, tidak semua memiliki ruang untuk menampilkan kreativitasnya.
Oase Malioboro mencoba menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan ruang kolaborasi seni, budaya, dan industri kreatif di kawasan Malioboro.
Destinasi yang dikembangkan PT Anindya Mitra Internasional (Perseroda), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ini akan mulai menerima kunjungan masyarakat pada 5 November 2026.
Sementara grand opening akan dilaksanakan pada Desember 2026 dengan tiket masuk awal Rp35.000.
Direktur Utama PT Anindya Mitra Internasional (Perseroda), Ir. Priyatno Bambang Hernowo mengatakan, Oase Malioboro tidak hanya menawarkan tempat rekreasi.
Ia menjelaskan, pihaknya ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang pertemuan seniman, komunitas budaya, pelaku UMKM, dan masyarakat.
“Kami mengajak kolaborasi kaum kreativitas, seniman, dan juga UMKM. Ini akan menjadi tempat ajang kreativitas masyarakat seni dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya, Sabtu (31/20/2026).
Menurutnya, kolaborasi tersebut juga menjadi salah satu cara untuk memperkuat ekosistem industri kreatif daerah.
Kehadiran seniman dan pelaku UMKM diharapkan menciptakan aktivitas ekonomi yang saling mendukung.
Bambang mengungkapkan, Oase Malioboro diharapkan mampu menggerakkan ekonomi sirkular di Yogyakarta.
“Dengan demikian, manfaat destinasi ini tidak hanya dirasakan pengunjung, tetapi juga para pelaku seni, budaya, dan usaha lokal,” paparnya.
Hidupkan Filosofi Jawa dengan Pendekatan Teknologi
Selain menjadi ruang kreativitas, Oase Malioboro membawa misi memperkenalkan nilai-nilai budaya Jawa kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih modern.
Bambang juga menyiapkan materi edukasi mengenai tiga filosofi utama, yakni Sangkan Paraning Dumadi, Memayu Hayuning Bawana, dan Manunggaling Kawula Gusti.
Ia menjelaskan, pengelola akan mengemas kembali falsafah Jawa Keraton Yogyakarta dengan memanfaatkan teknologi.
Pendekatan ini diharapkan membuat generasi muda lebih mudah mengenali dan memahami nilai-nilai budaya lokal.
“Kami mencoba meremajakan falsafah Jawa Keraton Yogyakarta dengan teknologi yang ada saat ini. Semoga ini bisa memberikan daya tarik bagi generasi Z dan masyarakat luas,” ujarnya.
Pengembangan Oase Malioboro juga memperhatikan posisi kawasan tersebut yang berkaitan dengan Sumbu Filosofi Yogyakarta.
PT Anindya telah melewati asesmen Dewan Kebudayaan DIY dan penilaian terkait warisan budaya.
Dari sisi lingkungan, pengelola mengusung konsep nature atau alam. Sekitar 75 persen dari total lahan seluas satu hektare akan didominasi pepohonan dan ruang hijau.
Konsep tersebut diharapkan menghadirkan suasana yang lebih sejuk di tengah kawasan perkotaan sekaligus memberikan pengalaman wisata yang berbeda.
“Kami menargetkan pengembangan fasilitas berlangsung secara bertahap setelah soft launching. Oase Malioboro diharapkan beroperasi penuh sebelum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026,” tandasnya.
Sepuluh Seniman Disiapkan untuk Kolaborasi
Konsultan Kreatif Oase Malioboro, Yudha KN menambahkan, pihaknya menyiapkan konsep kolaborasi lintas disiplin seni.
Ia akan melibatkan 10 seniman hasil kurasi untuk mengisi berbagai program kreatif.
Mereka berasal dari sejumlah bidang, seperti seni tari, seni visual, dan teater.
Ia ingin mempertemukan berbagai disiplin tersebut agar menghasilkan pertunjukan yang lebih beragam.
“Kami punya konsep 10 seniman yang akan kami kurasi untuk berkolaborasi. Nanti ada seniman tari dengan seniman visual atau teater yang kami kolaborasikan,” jelas Yudha.
Oase Malioboro juga menyediakan ruang bagi seniman untuk memamerkan karya melalui pertunjukan seni rupa dan art shop.
Pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni budaya sekaligus mengikuti berbagai aktivitas kreatif.
Salah satu program yang disiapkan berupa lokakarya budaya Jawa. Pengunjung bisa belajar mewiru jarik, mengenal batik, hingga memahami unggah-ungguh atau tata krama dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Yudha ingin mengemas aktivitas budaya tersebut dengan pendekatan yang lebih menyenangkan.
Pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar dan berinteraksi dengan seniman.
“Kami mengkonsepnya dengan cara yang lebih menarik, mudah, dan mereka bisa fun,” katanya.
Menjadi Panggung bagi Komunitas Seni
Yudha menjelaskan, gagasan menghadirkan Oase Malioboro juga berangkat dari pengamatan terhadap aktivitas kesenian di berbagai wilayah Yogyakarta.
Komunitas seni di tingkat kecamatan memiliki kegiatan dan karya yang beragam.
Namun, mereka masih membutuhkan ruang untuk menampilkan hasil kreativitas kepada masyarakat luas.
“Kalau kita bicara setiap kecamatan, mereka melakukan kegiatan kesenian. Nah, panggung mereka di mana? Di sinilah sebenarnya kami ingin menghadirkan ruang bagi seluruh warga Jogja untuk berkolaborasi dengan Oasis,” ungkapnya.
Melalui konsep Rupa Jiwa, Oase Malioboro ingin menyatukan beragam ekspresi seni dalam satu ruang kreatif.
Yudha menyebut, Yogyakarta memiliki kekayaan seniman dari berbagai latar belakang, mulai dari seni rupa, film, hingga teater.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan yang ingin dikembangkan tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
“Kami mengambil inspirasi bahwa seniman di sini banyak sekali. Ada seni rupa, film, teater, dan berbagai bidang lainnya. Kami ingin mengembalikan kejayaan seni Yogyakarta tanpa meninggalkan budaya lokalnya,” tutur Yudha.
Pengunjung Bisa Memilih Program Seniman
Oase Malioboro akan beroperasi setiap hari, Senin hingga Minggu. Pengelola menyiapkan jadwal atau line up seniman agar pengunjung dapat memilih pertunjukan maupun lokakarya sesuai minat.
Yudha mengibaratkan konsep tersebut seperti menonton bioskop. Pengunjung bisa menentukan waktu kedatangan, memilih seniman yang ingin ditemui, serta mengikuti lokakarya yang tersedia.
“Tiket masuk awal Rp35.000. Biaya tersebut menjadi tiket masuk utama, sedangkan skema pembagian hasil dengan seniman akan diatur melalui mekanisme kolaborasi tersendiri,” imbuhnya.
Dengan konsep tersebut, Oase Malioboro diharapkan tidak sekadar menjadi tempat kunjungan wisata.
“Kami ingin tumbuh sebagai panggung bersama bagi seniman, ruang belajar budaya, sekaligus tempat masyarakat menikmati beragam ekspresi kreatif Yogyakarta,” pungkasnya. (Ken).

