PROSA.ID, Yogyakarta — Dunia custom Indonesia sedang menghadapi dua tekanan sekaligus: ekonomi yang melesu dan masuknya produk custom produksi massal dari China.
Di tengah situasi itu, Direktur Kustomfest, Lulut Wahyudi memilih tidak tinggal diam.
Ia menjadikan Kustomfest 2026 sebagai ruang untuk kembali menyalakan energi para pelaku industri custom melalui tema ‘High Octane’.
Kustomfest ke-15 akan digelar pada 10-11 Oktober 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.
Menurut Lulut, tema tersebut bukan sekadar slogan. ‘High Octane’ merupakan gambaran tentang kebutuhan dunia custom Indonesia terhadap bahan bakar baru agar tetap mampu bergerak di tengah tekanan ekonomi.
“Di tengah kelesuan inilah Kustomfest mempunyai pemikiran bahwa kita harus punya satu solusi, satu jalan keluar,” kata Lulut dalam konferensi pers Kustomfest 2026, Kamis (8/10/2026).
Customer Mundur, Proyek Custom Ikut Terdampak
Lulut mengatakan, tekanan ekonomi sudah dirasakan langsung para builder dan pelaku usaha custom di berbagai daerah.
Sejumlah proyek yang sebelumnya telah disiapkan bahkan harus menghadapi pembatalan.
Ada customer yang mundur, membatalkan pesanan, hingga menjual kembali proyek yang sedang dikerjakan.
Situasi itu, menurutnya, menunjukkan bahwa pelaku custom membutuhkan ruang untuk bertemu dan mencari jalan keluar bersama.
“Kelesuan ekonomi memberikan imbas yang dirasakan langsung para pelaku dunia kustom di seluruh penjuru Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, Kustomfest 2026 dirancang bukan hanya sebagai ajang memamerkan kendaraan dan karya custom.
Festival tersebut juga menjadi ruang bertukar gagasan, pengalaman, hingga strategi menghadapi perubahan pasar.
Bengkel Kecil Berhadapan dengan Produk Massal China
Persoalan lain yang menjadi perhatian Lulut adalah perubahan peta industri custom.
Selama ini, banyak produk custom Indonesia lahir dari bengkel-bengkel kecil dan industri rumahan.
Mereka mengandalkan keterampilan tangan untuk menghasilkan knalpot, stang, aksesori, komponen, hingga berbagai produk pendukung lainnya.
Namun, pasar kini menghadapkan mereka pada kompetitor dengan kapasitas produksi jauh lebih besar.
Lulut menyoroti mulai masuknya industri otomotif China ke ranah custom.
“Bengkel-bengkel kecil yang biasanya membuat produk handmade, baik itu knalpot, stang, aksesori, ini harus dihadapkan sebuah realita dia akan berhadapan dengan pelaku industri besar dari Cina,” jelasnya.
Lulut menjelaskan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena industri custom Indonesia banyak digerakkan oleh pelaku UMKM.
Ia menyebut mereka sebagai ‘mesin-mesin kecil’ yang bergerak sendiri-sendiri dan membutuhkan ekosistem agar tetap hidup.
Kustomfest Jadi Ruang Mencari Jalan Keluar
Lulut berharap, pertemuan para pelaku custom di Kustomfest dapat menghasilkan solusi konkret.
Baginya, berkumpulnya builder, pelaku UMKM, komunitas, industri, hingga tamu internasional bukan sekadar perayaan tahunan.
Ada persoalan industri yang perlu dibicarakan secara terbuka.
“Harapan kami dengan berkumpul di Kustomfest, semua yang saat ini mengalami hal yang sama, kelesuan, terus kemudian kemacetan usaha, itu saling kita pecahkan, kita dapat solusinya,” ungkapnya.
Ia juga berharap perhatian pemerintah terhadap industri custom semakin besar.
“Industri kreatif otomotif, khususnya bengkel-bengkel kecil, masih membutuhkan dukungan yang lebih kuat,” paparnya.
Bukan Sekadar Pesta Custom
Memasuki usia 15 tahun, Kustomfest tetap mempertahankan posisinya sebagai ruang bertemunya ekosistem custom culture Indonesia.
Tahun ini, sejumlah program kembali dihadirkan, mulai dari Kustom Bike Show, Hot Rod & Kustom Car Show, Flat Track, Art Island, Body Art Show, Kustom Diecast, Kustom Paint Battle, Helmet Kustom Paint, Kustom Bicycle, Miss Kustomfest Pin-Up Contest, hingga All 3 Wheeler.
Sejumlah program baru juga disiapkan, seperti FXR Paradise, SR Panic, serta COMMON GROUND collective yang mempertemukan komunitas lintas jenis dan brand.
Kustomfest juga menghadirkan builder dan juri internasional dari Jepang, Amerika Serikat, serta negara lainnya.
Membawa Karya Builder Indonesia ke Jepang
Salah satu agenda penting tahun ini adalah keberlanjutan program KUSTOMFEST–INDONESIA ATTACK.
Program tersebut akan kembali membawa karya builder Indonesia ke 34th Yokohama Hot Rod Custom Show 2026 di Jepang pada Desember mendatang.
Bagi Lulut, kesempatan tersebut menjadi bagian dari upaya membuka akses karya Indonesia menuju panggung internasional.
“Kustomfest selama ini juga menjadi etalase bagi produk buatan Indonesia, mulai komponen kendaraan, suku cadang, hingga apparel, untuk menjangkau pasar di luar negeri,” lanjut Lulut.
‘High Octane’ untuk Menjaga Api Tetap Menyala
Selain otomotif, Kustomfest 2026 juga membawa agenda sosial dan lingkungan.
Kustomfest bekerja sama dengan Baznas untuk mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap persoalan kebakaran hutan.
Bersama Pemerintah Kota Yogyakarta, Kustomfest juga menggelar Ride For YK sebagai bagian dari peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta untuk membantu masyarakat kurang mampu melalui renovasi rumah tinggal.
Lulut menilai, perayaan 15 tahun Kustomfest bukan hanya tentang kendaraan dan pesta komunitas.
Ada energi yang ingin terus dijaga.
“Kita tidak sekadar merayakan Lebaran Kustom dan mengajak untuk berakselerasi tinggi untuk para pelaku di industri kustom, namun juga melihat lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia termasuk tetangga kita di Yogyakarta membutuhkan kepedulian kita,” imbuhnya.
Kustomfest 2026 akhirnya menjadi semacam ajakan untuk kembali menyalakan mesin yang mulai kehilangan tenaga.
Bukan dengan mengabaikan krisis, tetapi dengan mempertemukan pelaku, membuka ruang gagasan, memperluas pasar, dan menjaga karya custom Indonesia tetap memiliki tempat di rumah sendiri sekaligus panggung dunia. (Ken).

