PROSA.ID, Yogyakarta – Di tengah dinamika pasar properti 2026, PT Graha Tantra Santosa meluncurkan Grand Vista Sidoarum, Godean, Kabupaten Sleman.
Hunian modern tropical di kawasan strategis barat Jogja dengan harga mulai Rp1,55 miliar, menyasar kebutuhan rumah sekaligus investasi yang terus tumbuh.
Proyek ini menghadirkan total 37 unit rumah dengan tiga tipe pilihan, yakni Safir, Ruby, dan Emerald.
Direktur PT Graha Tantra Santosa, Willy Tanama mengatakan, harga unit masih dalam tahap pre-launching, dimulai dari Rp1,55 miliar.
Guna menarik minat konsumen, pengembang juga menawarkan promo berupa furnitur lengkap serta pendingin udara di setiap kamar.
“Penjualan sudah berjalan dan satu unit di bagian depan sudah terjual. Total unit yang tersedia ada 37,” ujarnya di sela grand launching, Sabtu (2/5/2026).
Grand Vista Sidoarum mengusung konsep desain modern tropical, yang memadukan nuansa alam dengan gaya hunian modern.
Menurut Willy, konsep ini dinilai sesuai dengan karakter Yogyakarta yang masih kental dengan lingkungan alami, namun tetap dekat dengan pusat kota.
“Dari sisi fasilitas, perumahan ini dilengkapi mini playground serta sistem utilitas bawah tanah (underground electric). Seluruh kabel listrik dan jaringan internet ditanam di bawah tanah untuk menciptakan lingkungan yang lebih rapi dan estetis,” jelasnya.
Lokasi perumahan juga menjadi salah satu keunggulan utama. Kawasan ini berada dekat dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan sekolah Al Azhar Yogyakarta.
“Akses menuju lokasi dapat ditempuh melalui Jalan Godean, Ring Road, serta Jalan Wates, dan hanya sekitar lima menit dari rencana exit tol Gamping,” imbuh Willy.
Optimisme Sektor Properti 2026
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Perlindungan Anggota DPD Real Estate Indonesia (REI) Yogyakarta, Welly Luxza Pradana menilai, sektor properti di tahun 2026 masih menyimpan peluang meski menghadapi sejumlah tantangan.
Menurutnya, kebutuhan hunian tetap tinggi, baik sebagai tempat tinggal maupun instrumen investasi. Hal ini menjadi dasar optimisme pelaku industri properti di Yogyakarta.
“Memang ada penurunan, tapi tidak signifikan. Biasanya tren pasar akan lebih terlihat di pertengahan tahun,” ujarnya.
Welly menambahkan, Yogyakarta masih menjadi salah satu daerah dengan daya tarik tinggi bagi investor properti. Namun, pengembang dituntut untuk terus berinovasi dan menjaga kepercayaan konsumen.
“Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan progres pembangunan secara nyata, termasuk penyediaan fasilitas umum dan sosial, bukan sekadar konsep,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi penipuan di sektor properti. Harga yang terlalu murah sering kali menjadi indikasi risiko.
“Pastikan legalitas jelas, cek keanggotaan pengembang dalam asosiasi, serta lihat rekam jejak proyek yang sudah diselesaikan,” tegasnya.
Welly menyebut, perumahan subsidi di Yogyakarta masih sangat terbatas akibat minimnya lahan dan tingginya harga tanah.
“Saat ini, lebih dari 90 persen pengembang di Yogyakarta bergerak di sektor komersial yang juga berkontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD),” pungkasnya. (Ken).

