Site icon PROSA.ID

Film Piye To Kih? Bawa Bahasa Jawa ke Bioskop, Jadi Ruang Promosi Budaya Lokal

Dara Sarasvati bersama sutradara film Piye To Kih?, Ito Mavin saat ditemui di Yogyakarta, Jum'at (23/10/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta — Bahasa dan karakter lokal punya ruang besar untuk berkembang di industri film Indonesia. 

Sutradara Ito Mavin, mencoba membuktikan hal itu melalui film Piye To Kih?, sebuah drama komedi supranatural yang menggabungkan cerita cinta beda alam dengan karakter yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Bagi Ito, film tidak hanya menjadi sarana hiburan. Ia ingin layar lebar ikut memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mendorong sineas lain lebih berani mengangkat identitas daerah melalui karya mereka.

“Saya juga berharap membuat film berbahasa Jawa. Meskipun sebelumnya sudah ada, ini juga mendorong sineas lain lebih berani untuk mengangkat budaya-budaya daerah,” kata Ito saat mempromosikan film Piye To Kih? di Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).

Menurut Ito, Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa. 

Potensi tersebut perlu terus diperkuat agar masyarakat semakin mengenal budaya dari berbagai daerah, termasuk melalui film yang menjangkau penonton lintas wilayah.

Gandeng Karakter Populer dari WOKO Channel

Untuk menghadirkan cerita yang dekat dengan penonton, Ito menggandeng para pemain yang dikenal melalui WOKO Channel, termasuk karakter Mukidi beserta kawan-kawannya.

Ito mengaku telah mengikuti perjalanan WOKO Channel sejak para kreatornya masih memproduksi konten menggunakan telepon genggam. 

“Kedekatan itu membuat saya memahami karakter dan potensi para pemain untuk dikembangkan ke format film layar lebar,” jelasnya. 

Menariknya, Ito tidak melakukan casting konvensional untuk memilih para pemain dalam film tersebut. 

Ia lebih dahulu menentukan kualifikasi karakter yang dibutuhkan, kemudian memilih orang-orang yang dinilai sesuai dengan gambaran tersebut.

Proses serupa juga berlaku ketika ia memilih Dara Sarasvati untuk memerankan Sukma. 

Ito mengungkapkan, sebelumnya ia belum mengenal Dara, tetapi merasa sosoknya tepat untuk menghidupkan karakter perempuan misterius tersebut.

“Pilihan itu sekaligus mempertemukan karakter yang populer melalui konten digital dengan cerita film yang mengangkat unsur budaya lokal,” ungkapnya. 

Yogyakarta Punya Tempat Khusus bagi Sineas

Pemilihan Yogyakarta sebagai salah satu kota tujuan promosi juga bukan tanpa alasan. 

Ito menjelaskan, kota ini sebagai rumah bagi para sineas Indonesia.

Ia menilai, banyak pekerja film yang kembali ke Yogyakarta untuk berkumpul dan membangun jejaring. 

“Karena itu, ia merasa kunjungan ke kota ini seperti pulang kampung,” lanjut Ito. 

Yogyakarta menjadi kota kedua dalam rangkaian roadshow film Piye To Kih? yang mencakup 17 kota. 

Film Piye To Kih? dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.

Melalui film ini, Ito ingin menunjukkan bahwa cerita berbahasa daerah dapat hadir dalam kemasan hiburan populer tanpa meninggalkan pesan kehidupan. 

“Penggunaan bahasa Jawa dalam film ini semakin banyak sineas yang memanfaatkan kekayaan bahasa dan budaya lokal sebagai kekuatan untuk memperkaya perfilman Indonesia,” paparnya. 

Cerita Supranatural Jadi Kendaraan Pesan Kehidupan

Di balik penggunaan bahasa Jawa dan unsur komedi, Piye To Kih? membawa persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: keinginan seseorang untuk mendapatkan sesuatu dan proses memperbaiki diri agar layak meraihnya.

Film ini mengikuti perjalanan Mukidi yang berusaha menikahi perempuan pujaannya. 

Demi memenuhi keinginannya, Mukidi sempat berpura-pura menjadi orang lain. 

Namun, kebohongannya terbongkar dan membawanya pada perjalanan yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Situasi semakin menarik ketika Mukidi bertemu Sukma, sosok astral dengan masa lalu kelam. 

Hubungan keduanya menghadirkan konflik, komedi, sekaligus pelajaran tentang ketulusan dan keberanian menerima kenyataan.

Ito menjelaskan bahwa drama, komedi, dan supranatural menjadi cara untuk menyampaikan pesan utama film.

“Pesannya adalah bagaimana kita sebagai manusia memantaskan diri untuk mendapatkan apa yang kita mau,” ujarnya.

Melalui hubungan Mukidi dan Sukma, film ini juga mengangkat pentingnya meminta maaf, memaafkan, dan memperjuangkan perubahan diri.

Dara Sarasvati Tantang Diri Lewat Karakter Makhluk Astral

Pemeran Sukma, Dara Sarasvati menambahkan, ia harus mempelajari pendekatan akting yang berbeda untuk membawakan karakter dari alam gaib.

Sebagai film layar lebar keduanya, proyek ini menjadi pengalaman baru bagi Dara. 

Ia harus mengatur gestur dan ekspresi agar Sukma tidak terlihat seperti manusia biasa, terutama ketika menyampaikan dialog yang mengandung emosi kuat.

“Bagaimana ketika kita mengomunikasikan dialog tidak boleh terlalu terkesan emosional atau seperti manusia. Nah, itu adalah tantangan baru,” kata Dara.

Tantangan tersebut justru mendorong Dara mengembangkan kemampuan aktingnya. 

Ia berusaha menemukan keseimbangan antara menampilkan emosi karakter dan mempertahankan kesan bahwa Sukma merupakan sosok yang berbeda dari manusia.

Dara bersyukur karena Ito menilai pendekatan aktingnya mampu menyampaikan karakter Sukma dengan baik. 

“Harapanya pengalaman ini menjadi bekal untuk berkontribusi lebih jauh dalam industri perfilman nasional,” pungkasnya. (Ken). 

Exit mobile version