PROSA.ID, Yogyakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon, mendorong Indonesia dan negara-negara Pasifik memperkuat diplomasi budaya melalui kolaborasi seni, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan ekonomi kreatif.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertunjukan budaya, tetapi menghasilkan jejaring berkelanjutan dan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Fadli menyampaikan hal itu saat penutupan Indonesia-Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026 di Benteng Vredeburg Yogyakarta, Rabu (12/10/2026) malam.
Program residensi selama 10 hari ini mempertemukan seniman dari negara-negara Pasifik dan sembilan provinsi di Indonesia bagian timur untuk berkolaborasi dalam bidang musik serta kerajinan berbasis bambu dan kelapa.
“Diplomasi budaya harus melampaui pameran tradisi kita di panggung internasional. Diplomasi ini juga harus menciptakan peluang untuk mendorong pertukaran pengetahuan, memberdayakan masyarakat, dan membangun kemitraan yang langgeng,” kata Fadli dalam sambutannya.
Seniman Indonesia-Pasifik Ciptakan Karya Bersama
Program residensi ini mengajak peserta mempelajari gamelan Jawa, berbagi tradisi musik masing-masing, dan menciptakan komposisi kolaboratif.
Para peserta juga mengeksplorasi kerajinan berbahan bambu dan kelapa yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat kepulauan.
Fadli menilai, pengembangan kerajinan tradisional dapat membuka peluang inovasi sekaligus memperkuat ekonomi budaya.
Ia menekankan, pentingnya meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan seniman tanpa mengesampingkan masyarakat pemilik tradisi.
Menurutnya, keberhasilan diplomasi budaya juga bergantung pada hubungan antarmasyarakat atau people-to-people.
“Kepercayaan, persahabatan, dan interaksi berkelanjutan dapat memperkuat kerja sama di luar perjanjian formal antarpemerintah,” jelas Fadli.
Menteri Fiji Tekankan Pentingnya Bahasa
Menteri Urusan Multietnis, Warisan, dan Seni Republik Fiji, Charan Jeath Singh, mengapresiasi penyelenggaraan program tersebut.
Singh menilai, Indonesia dan negara-negara Pasifik memiliki kedekatan budaya melalui musik, tarian, tradisi lisan, keterampilan tradisional, dan hubungan dengan alam.
Singh juga menegaskan pentingnya bahasa dalam menjaga identitas masyarakat.
“Jika Anda ingin menghancurkan budaya, warisan, dan seni, Anda harus menghancurkan bahasa tersebut,” ujarnya.
Ia berharap pertemuan seniman lintas negara ini memperkuat persahabatan sekaligus membuka peluang kolaborasi budaya pada masa mendatang.
Kementerian Kebudayaan Dorong Keberlanjutan
Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Endah T.D. Retnoastuti menambahkan, program berlangsung pada 6–15 Oktober 2026 dengan menggabungkan lokakarya, studi budaya, kunjungan lapangan, dan penciptaan karya bersama.
Kementerian Kebudayaan juga menjadwalkan seminar bertema Beyond Cultural Exchange di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pada 15 Oktober 2026 untuk membahas pembangunan jejaring budaya Indonesia-Pasifik dan peluang kolaborasi melalui industri kreatif.
“Kami berharap karya dan jejaring yang terbentuk selama residensi terus berkembang setelah program berakhir. Dengan demikian, kolaborasi selama 10 hari tersebut dapat menjadi fondasi kerja sama budaya Indonesia-Pasifik dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Ken).

