Site icon PROSA.ID

El Niño Ancam Pertanian, Pakar UMY Tekankan Adaptasi dan Teknologi

Ilustrasi kekeringan akibat El Nino. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Niño akan memicu penurunan curah hujan yang signifikan di sejumlah wilayah Indonesia.

Kondisi ini diprediksi berdampak pada musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Strategi adaptasi dan pemanfaatan teknologi dinilai menjadi kunci bagi sektor pertanian dalam menghadapi potensi kemarau panjang tersebut.

Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Aris Slamet Widodo menilai, langkah adaptif perlu segera dilakukan. Hal ini penting agar produktivitas pertanian tetap terjaga meskipun ketersediaan air terbatas.

Menurut Aris, pendekatan berbasis manajemen air dan inovasi teknologi menjadi strategi yang sangat krusial.

Selain itu, perubahan pola tanam juga diperlukan untuk meminimalkan risiko kerugian yang dihadapi petani selama musim kering.

Penyesuaian kalender tanam menjadi langkah awal yang dapat dilakukan. Dengan menyesuaikan waktu tanam terhadap prakiraan musim, petani dapat menghindari fase pertumbuhan tanaman yang membutuhkan banyak air pada periode puncak kekeringan.

“Strategi menjaga produktivitas dapat dilakukan dengan mengubah kalender tanam serta menggunakan varietas tahan kering. Petani juga bisa mengurangi luas tanam untuk fokus pada kualitas dan memanfaatkan teknologi irigasi hemat air. Diversifikasi tanaman juga penting agar tidak hanya bergantung pada satu komoditas,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Selain perubahan pola tanam, penguatan ketersediaan air menjadi langkah antisipatif yang perlu diprioritaskan.

Petani didorong untuk memperbanyak penyimpanan air melalui embung, sumur dangkal, maupun tandon. Teknik konservasi tanah juga berperan penting dalam menjaga kelembapan lahan.

“Langkah untuk mengurangi risiko gagal panen antara lain memperbanyak penyimpanan air seperti embung atau sumur dangkal. Selain itu, penggunaan mulsa organik dapat membantu menjaga kelembapan tanah. Pemilihan waktu tanam yang tepat berdasarkan prakiraan cuaca juga menjadi kunci penting,” jelasnya.

Peran teknologi pertanian juga semakin krusial dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Inovasi berbasis efisiensi air dinilai mampu membantu petani mengoptimalkan sumber daya yang terbatas. Dukungan dari perguruan tinggi diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi ini.

Dalam jangka pendek, kolaborasi antara pemerintah dan petani menjadi faktor penentu keberhasilan.

Pemerintah diharapkan memberikan dukungan berupa perbaikan distribusi irigasi dan bantuan benih tahan kekeringan. Sementara itu, petani perlu segera menyesuaikan praktik budidaya agar lebih efisien.

“Pemerintah perlu memperbaiki distribusi air irigasi dan memberikan bantuan pompa air serta subsidi energi. Petani juga harus menyesuaikan waktu tanam dan memilih komoditas yang tepat. Kunci menghadapi El Niño adalah adaptasi cepat, teknologi, dan manajemen air,” pungkasnya. (Ken).

Exit mobile version