PROSA.ID, Yogyakarta – Tim Departemen Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar edukasi bahaya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula kepada guru dan siswa di SD Kanisius Jomegatan, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran hidup sehat sejak usia dini, khususnya dalam mengontrol asupan gula harian anak.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh Dr. Das Salirawati bersama tim dosen dan mahasiswa Pendidikan Kimia UNY.
Edukasi dilakukan melalui penyampaian materi interaktif serta pembagian leaflet informatif terkait risiko konsumsi gula berlebih.
Kepala SD Kanisius Jomegatan, Theresia Marsinah, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi kesehatan seperti ini sangat penting untuk membentuk kebiasaan hidup sehat pada anak sejak dini.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menanamkan kesadaran siswa dalam memilih makanan dan minuman yang sehat,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Dr. Das Salirawati menjelaskan bahwa konsumsi gula tambahan sebaiknya tidak melebihi 5 persen dari total kalori harian. Untuk anak usia sekolah, batas aman tersebut setara dengan sekitar tiga sendok makan gula per hari.
Ia mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, hingga penyakit jantung. Bahkan, sekitar 25 persen asupan gula anak berasal dari minuman manis.
Sementara itu, Dr. Erfan Priambodo menyoroti tren meningkatnya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula di kalangan anak-anak. Gaya hidup praktis membuat anak cenderung memilih produk instan yang tinggi gula dan rendah nilai gizi.
“Jika kebiasaan ini terus berlanjut, anak berisiko mengalami pola konsumsi gula berlebih hingga dewasa,” jelasnya.
Dari sisi ilmiah, Marfuatun, M.Si., menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah dan mengganggu fungsi insulin.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu resistensi insulin yang menjadi penyebab utama diabetes melitus tipe 2.
“Komplikasi diabetes bisa sangat serius, mulai dari kerusakan saraf, gangguan ginjal, hingga stroke,” ungkapnya.
Selain itu, Metridewi Primastuti, M.Pd., mengajak siswa dan orang tua untuk lebih bijak dalam mengonsumsi gula. Ia menekankan pentingnya membaca label kandungan gula pada produk kemasan serta membatasi konsumsi minuman manis.
“Mengganti minuman manis dengan air putih adalah langkah sederhana yang efektif untuk menjaga kesehatan,” katanya.
Ia juga menjelaskan perbedaan antara gula alami dan gula tambahan. Gula alami yang terdapat dalam buah dan sayur lebih aman dibandingkan gula tambahan yang banyak ditemukan dalam makanan olahan dan minuman kemasan.
Melalui edukasi ini, tim UNY berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya konsumsi gula berlebih. Edukasi kesehatan sejak dini menjadi langkah strategis untuk mencegah peningkatan kasus diabetes pada anak dan remaja di Indonesia. (Ken).

