Yogyakarta bukan hanya soal bakpia dan gudeg kaki lima. Di balik dinding benteng Keraton Yogyakarta, tersimpan tradisi kuliner adiluhung yang dahulu hanya dinikmati oleh Sultan dan keluarga kerajaan.
Berikut adalah penelusuran rasa kuliner khas Keraton Yogyakarta yang tetap eksis hingga saat ini.
- Brongkos: Sayur Hitam Favorit Sri Sultan HB IX
Brongkos merupakan menu favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dahulu, brongkos dianggap hidangan mewah karena menggunakan daging sapi dan berbagai rempah yang melimpah.
Hidangan berkuah santan kental berwarna hitam ini memiliki isian yang lebih kompleks. Warna hitam pada kuahnya pun terbuat dari kluwek.
Berbeda dengan rawon yang encer, brongkos menggunakan santan dan biasanya berisi daging sapi, kacang tholo, tahu, dan telur bebek rebus.
Salah satu tempat legendaris yang menjual menu ini yaitu Warung Brongkos Handayani di kawasan Alun-Alun Kidul.
- Gudeg Manggar: Kemewahan Bunga Kelapa
Jika biasanya gudeg berbahan dasar nangka muda (gori), Keraton Yogyakarta memiliki varian yang lebih eksklusif, yaitu Gudeg Manggar.
Konon, resep ini bermula dari permaisuri Ki Ageng Mangir yang kemudian dibawa masuk ke lingkungan keraton.
Karena bahan utamanya adalah bunga kelapa muda (manggar), hidangan ini dahulu dianggap lebih prestisius dibanding gudeg nangka.
Soal rasa, gudeg manggar ini punya tekstur yang lebih renyah (crunchy) dan aromanya sangat khas kelapa, memberikan sensasi gurih yang berbeda dari gudeg pada umumnya.
Secara filosofi, manggar ini dipercaya sebagai simbol kesuburan dan kecantikan bagi kaum wanita di lingkungan keraton pada masa itu.
- Songgo Buwono: Burger Ala Jawa
Songgo Buwono adalah kudapan pembuka yang unik karena memadukan pengaruh kuliner Eropa dengan cita rasa lokal Yogyakarta.
Makanan tradisional ini tercipta di masa Sri Sultan Hamengkubuwono VIII yang dikenal menyukai akulturasi budaya.
Nama “Songgo Buwono” berarti “Menyangga Dunia”.
Berbeda dengan burger ala Eropa, Songgo Buwono ini terdiri dari kue sus yang diisi dengan daging cincang, selada, telur rebus, dan disiram saus mustard tradisional (saus vla gurih).
Tak hanya sekedar hidangan, namun ada makna yang terkandung dalam seporsi Songgo Buwono yang lezat. Kue sus melambangkan bumi, daging melambangkan gunung, sedangkan telur melambangkan matahari.
- Manuk Nom: Dessert Klasik dari Tape
Tak hanya makanan berat, Kraton juga memiliki hidangan penutup, yaitu Manuk Nom.
Manuk Nom merupakan puding tradisional yang menjadi menu wajib dalam jamuan makan resmi.
Nama “Manuk Nom” secara harfiah berarti “Burung Muda”. Nama ini diambil dari bentuk penyajiannya yang menyerupai burung kecil.
Kudapan ini terbuat dari tape ketan hijau yang dikukus bersama telur dan emping melinjo.
Uniknya, Manuk Nom ini merupakan perpaduan rasa antara manis, sedikit asam dari fermentasi tape, dan gurih pahit dari emping.
Nah, itulah deretan kuliner istimewa dari balik benteng Keraton Yogyakarta yang wajib masuk ke dalam daftar kulineran Anda berikutnya.
Sekarang mencicipi menu favorit para Sultan kini bukan lagi sekadar impian. Jadi, hidangan mana yang paling membuat Anda penasaran?
Jangan sampai terlewat untuk mencicipi aneka kuliner tradisional saat berkunjung ke Kota Gudeg nanti. Selamat berpetualang rasa!

