Site icon PROSA.ID

Broken White Project #33 Palimses, Empat Seniman Menulis Ulang Sejarah dari Perspektif yang Terpinggirkan

Penulis pameran Palimses, Ibrahim Soetomo (kiri) bersama dengan seniman Enka Komariah (tengah), dalam opening Broken White Project #33 di Langgeng Art Space, Jum'at (11/9/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta — Sejarah tidak selalu berhenti pada apa yang tertulis dalam dokumen resmi. 

Melalui Broken White Project #33: Palimses, empat seniman mengajak publik membaca kembali lapisan sejarah melalui identitas, ingatan, tradisi, konflik, dan pengalaman yang selama ini berada di pinggir narasi besar.

Pameran yang berlangsung di Langgeng Art Space berkolaborasi dengan Ace House Collective pada 11 September – 16 Oktober 2026 ini, menghadirkan karya Amin Taasha, Dicky Takndare, Enka Komariah, dan Ika Arista. 

Keempatnya menggunakan material, tradisi, dan pengalaman personal untuk menafsirkan kembali sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Palimses Membaca Sejarah yang Bertumpuk

Ibrahim Soetomo sedang menjelaskan salah satu karya dalam Broken White Project #33, Jum’at (11/9/2026). (prosa/ken).

Penulis pameran, Ibrahim Soetomo menjelaskan, Palimses pada awalnya merujuk pada naskah yang ditulis ulang di atas lembar perkamen setelah tulisan sebelumnya dihapus.

Praktik tersebut muncul karena bahan penulis pada masa lalu sangat mahal dan terbatas. 

Orang kemudian menghapus tulisan lama dengan cara mengikis permukaan perkamen untuk memberikan ruang bagi tulisan baru.

Seiring waktu, istilah Palimses berkembang untuk menjelaskan fenomena tumpang tindih dalam berbagai bidang. 

Dalam arsitektur, misalnya, Palimses menggambarkan pertemuan lapisan bangunan dan lanskap dari berbagai periode sejarah.

Fenomena tersebut juga dapat terlihat di berbagai kawasan kota, termasuk kawasan Pecinan maupun kawasan Keraton, ketika arsitektur masa lalu bertemu dengan pembangunan yang lebih baru.

“Namun pada pameran ini saya ingin mengajak audiens untuk mengabstraksi makna Palimses di ranah kesenian,” jelas Ibrahim di sela pameran, Jum’at (11/9/2026) malam. 

Menurut Ibrahim, keempat seniman memiliki benang merah berupa pembicaraan mengenai identitas dan sejarah yang jamak. 

Setiap karya menyimpan lapisan sejarah sekaligus politik identitas masing-masing seniman.

“Sejarahnya yang jamak dalam artian bahwa ada lapisan-lapisan sejarah yang pada akhirnya terkandung di dalam kekaryaan masing-masing seniman. Dan semuanya juga membawa politik identitasnya masing-masing,” ujarnya.

Gagasan Empat Seniman

Ibrahim kemudian menjelaskan bagaimana gagasan tersebut muncul melalui masing-masing seniman.

Ika Arista misalnya, merupakan empu perempuan asal Madura yang masuk ke dunia keris yang selama ini identik dengan ruang maskulin. 

Posisi tersebut membuat karya Ika membawa perspektif feminis terhadap tradisi penempaan keris.

Sementara itu, Dicky Takndare membawa pengalaman sebagai orang Papua yang berpindah ke Yogyakarta dan kemudian melanjutkan perjalanan hidup serta praktik seninya di Belanda. 

Perpindahan tersebut menghadirkan lapisan identitas dan sejarah yang kuat dalam karyanya.

Sedangkan Amin Taasha, membawa pengalaman Afghanistan yang memiliki sejarah seni dan kebudayaan panjang sekaligus sejarah konflik politik yang kompleks. 

Ia banyak mengolah tradisi seni lukis miniatur Persia dan memadukannya dengan kutipan penyair Hafiz.

Dalam pameran ini, Amin juga menelusuri jejak seni Gandhara yang berkembang di Afghanistan. 

Ia mengangkat pertemuan seni Buddhis dengan pengaruh Helenistik dan mengembangkannya melalui motif serta simbol yang merefleksikan kehidupan Afghanistan masa kini.

Kemudian Enka Komariah, mengolah dokumen-dokumen yang berkaitan dengan sejarah kekerasan Indonesia pada 1965. 

Ia menimpa dokumen tersebut dengan tafsir artistik untuk menghadirkan cerita masyarakat yang selama ini tidak banyak masuk dalam narasi resmi.

“Ketika kita berhadapan dengannya, kita tidak hanya melihat apa yang tampak, tapi juga ada lapisan latar belakang, lapisan masa lalu, hal-hal identitas yang saling bertumpang tindih dengan tafsiran artistik senimannya,” kata Ibrahim.

Ibrahim menilai, karya para seniman berusaha menghadirkan cerita yang selama ini terpinggirkan. 

Mereka menawarkan perspektif lain terhadap narasi besar yang selama ini lebih dominan.

“Yang diperkenalkan oleh para senimannya adalah satu tatapan lain. Baik itu cerita-cerita yang terpinggirkan, perspektif lain, atau cerita-cerita yang timbul dari kehidupan berdiaspora,” ungkapnya.

Sejarah yang Ditimpa Tidak Selalu Hilang

Konsep Palimses juga membuka pertanyaan mengenai apa yang terjadi ketika satu lapisan sejarah menimpa lapisan sebelumnya. 

Ibrahim menyebut, proses tersebut dapat membuat sebagian cerita hilang, bergeser, atau berubah makna.

Kondisi itu terlihat dalam pengalaman Dicky dan Amin yang membawa cerita tentang perpindahan serta diaspora. 

Keduanya menghadapi pengalaman ketika satu narasi sejarah dapat menimpa narasi lain.

“Sejarah yang dituliskan oleh narasi resmi itu menimpa sejarah-sejarah yang tumbuh dari bawah ke atas, kemudian menjadi lain, menjadi terpinggirkan,” katanya.

Meski demikian, Ibrahim melihat para seniman tidak semata-mata berusaha menemukan satu kebenaran tunggal. 

Mereka menawarkan cara lain untuk melihat sejarah melalui tafsir artistik.

Karya Enka, misalnya, berangkat dari dokumentasi sebelum kemudian menghadirkan pengadeganan dan kemungkinan tafsir lain mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

“Pada akhirnya karya-karya di sini seperti menyodorkan kita ke lapis-lapisan itu,” lanjut Ibrahim.

Palimses Relevan dengan Kondisi Hari Ini

Bagi Ibrahim, gagasan Palimses juga relevan dengan kondisi sosial-politik masa kini. 

Ia melihat bayang-bayang politik masa lalu kembali terasa dalam kehidupan masyarakat.

“Menurut saya adanya pameran ini itu menjadi on point karena kita kan hidup di masa kini yang mana masa lalu politik itu membayang-bayangi lagi,” kata Ibrahim.

Ia melihat sejumlah ciri rezim politik masa lalu masih muncul, termasuk persoalan kekerasan. 

Fenomena tersebut hadir dalam konteks Indonesia, termasuk Papua, maupun Afghanistan yang masih menghadapi konflik politik dan kekerasan.

Karena itu, Ibrahim menilai karya para seniman tidak berhenti sebagai keputusan artistik. 

Karya tersebut juga memperlihatkan keberpihakan terhadap cerita yang selama ini tergerus oleh kekuasaan.

“Apa yang ditawarkan oleh seniman itu menjadi penting karena tidak hanya itu keputusan artistik, tapi juga menunjukkan keberpihakan,” tuturnya.

Pilihan material menjadi bagian penting dari keberpihakan tersebut. 

Ibrahim mencontohkan Enka yang memilih dokumen tahanan politik sebagai medium.

“Kalau misalnya Enka melukis tidak di atas dokumen-dokumen tahanan politik, mungkin konsekuensi mediumnya itu menjadi lain,” katanya.

Begitu pula dengan Amin yang memilih permukaan sajak Hafiz dan Ika yang mengolah tradisi keris. 

Material tersebut memberikan konteks sekaligus konsekuensi terhadap makna karya.

“Apapun yang ditulis, ditimpa, ditulis ulang di atas satu permukaan material itu menjadi sebuah keputusan,” papar Ibrahim.

Dengan demikian, Palimses tidak hanya mempertemukan masa lalu dan masa kini. 

Pameran tersebut juga mempertemukan narasi resmi dengan cerita personal, sejarah besar dengan ingatan kecil, serta tradisi dengan tafsir baru.

Enka Komariah dan Dokumen Sejarah 1965

Salah satu karya yang paling jelas menerapkan gagasan Palimses hadir melalui Enka Komariah. 

Ia menggunakan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan peristiwa 1965 sebagai medium untuk melukis.

Ketertarikan Enka terhadap persoalan 1965 sebenarnya sudah tumbuh sejak dirinya masih kuliah. 

Ia kemudian mulai mengumpulkan dokumen yang berkaitan dengan sejarah tersebut sekitar 2018–2019.

“Kalau aku tertarik untuk membahas sekitaran 65 itu sebetulnya sudah ketika aku masih kuliah,” ujar Enka.

Ia awalnya masih ragu menjadikan dokumen tersebut sebagai medium berkarya. 

Saat itu, Enka masih intens bekerja menggunakan kertas sebagai medium lukisan.

Namun, setelah mengamati kembali fungsi dokumen tersebut, ia menyadari bahwa selembar kertas dapat membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan seseorang.

Menurut Enka, dokumen tertentu dapat memberikan stigma atau cap yang kemudian membatasi kehidupan seseorang dalam bersosialisasi maupun mencari pekerjaan.

“Kertas itu sangat penting. Kertas itu membicarakan bahwa kamu sebagai orang yang berafiliasi dengan partai itu, atau kamu tidak berafiliasi dengan partai itu,” katanya.

Situasi tersebut, menurut Enka, bahkan dapat terjadi tanpa proses pengadilan atau pencarian data yang konkret. 

Tuduhan maupun hubungan sosial tertentu dapat membuat seseorang terkena stigma.

Ia menggambarkan bagaimana seseorang bisa dicap memiliki afiliasi politik hanya karena pernah menandatangani dokumen untuk menerima bantuan tertentu.

“Selembaran itu bagi orang sangat punya dampak yang besar,” ujarnya.

Menimpa Versi Negara dengan Cerita Marginal

Kesadaran terhadap kekuatan dokumen itulah yang kemudian mendorong Enka menjadikannya sebagai medium lukisan.

Ia tidak ingin sekadar menggunakan dokumen lama sebagai benda yang memiliki nilai visual. 

Enka justru ingin mempertemukan dokumen resmi dengan cerita lain yang berkembang di masyarakat.

“Aku pengen selembaran itu kujadikan medium karena kupikir itu tadi, si dokumen-dokumen ini adalah versi negara, dan kutimpa dengan suatu cerita atau imajinasi dari cerita marginal yang ada di masyarakat tentang orang-orang ini,” imbuh Enka.

Melalui proses tersebut, Enka menghadapkan narasi resmi dengan cerita yang selama ini berada di luar dokumen negara.

Dokumen menjadi lapisan pertama, sementara lukisan dan tafsir Enka menjadi lapisan berikutnya. 

Keduanya kemudian bertemu dalam satu permukaan yang sama.

Pilihan tersebut sekaligus membuat karya Enka berbicara tentang ingatan, stigma, kekerasan, dan bagaimana sejarah dapat ditulis dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam konteks Palimses, karya Enka memperlihatkan bahwa lapisan lama tidak selalu benar-benar hilang ketika seseorang menulis di atasnya.

Sebaliknya, jejak lama tetap hadir dan dapat dibaca kembali melalui lapisan baru. 

Di sanalah seni membuka ruang bagi ingatan yang sebelumnya tertutup oleh narasi resmi.

Jejak-jejak mengemuka, ingatan dipulihkan. (Ken). 

Exit mobile version