Site icon PROSA.ID

Berawal dari Alun-Alun Kidul, Cilok Gajahan Kini Punya 11 Lokasi dan Tumbuh Bersama Alfamidi

UMKM Cilok Gajahan yang tumbuh bersama Alfamidi. (istimewa).

PROSA.ID, Yogyakarta — Berawal dari gerobak jajanan sederhana di Alun-Alun Kidul Yogyakarta pada 2007, Cilok Gajahan kini berkembang menjadi salah satu usaha kuliner lokal yang mampu bertahan dan memperluas pasar.

Di balik perjalanan itu, ada Syahrul Guci, pelaku UMKM asal Yogyakarta yang membangun Cilok Gajahan dari keterbatasan. 

Kini, usaha tersebut telah memiliki 11 lokasi penjualan, salah satunya berada di area Alfamidi Super Kaliurang, Yogyakarta

Syahrul memilih nama Cilok Gajahan untuk memperkuat identitas lokal Yogyakarta. 

Sejak awal, ia ingin menghadirkan jajanan yang dekat dengan masyarakat, memiliki harga terjangkau, tetapi tetap mengutamakan rasa dan kualitas.

Perjalanan itu tidak langsung berjalan mulus. 

Pada masa awal berjualan, Syahrul menghadapi keterbatasan jumlah pembeli yang berdampak langsung terhadap pendapatan usaha.

Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa membangun bisnis makanan tidak cukup hanya dengan membuat produk dan menjualnya. 

Konsistensi, pelayanan, kualitas, serta kemampuan membaca kebutuhan pelanggan ikut menentukan keberlangsungan usaha.

“Saya ingin Cilok Gajahan tidak hanya dikenal sebagai tempat membeli cilok, tetapi sebagai salah satu produk jajanan lokal Yogyakarta yang bisa dibanggakan,” kata Syahrul, dikutip Sabtu (26/9/2026).

Cilok Kenyal dengan Isian Tetelan

Cilok Gajahan menawarkan ciri khas berupa tekstur cilok yang kenyal dengan isian tetelan sapi. 

Isian tersebut memberikan cita rasa gurih yang berpadu dengan saus pedas.

Dengan harga mulai Rp7.000, pelanggan dapat menikmati Cilok Gajahan dengan pilihan tingkat kepedasan sesuai selera.

Bagi Syahrul, menjaga kualitas produk menjadi bagian penting dalam mempertahankan pelanggan. 

Ia terus berupaya mempertahankan cita rasa sekaligus meningkatkan pelayanan seiring perkembangan usahanya.

Bergabung dengan Alfamidi pada 2016

Titik penting dalam perjalanan Cilok Gajahan terjadi pada 2016. 

Saat itu, Syahrul mendapat kesempatan bergabung sebagai tenant UMKM Alfamidi.

Kesempatan tersebut membuka ruang baru bagi Cilok Gajahan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. 

Dari pelanggan yang awalnya datang karena penasaran, sebagian kemudian berubah menjadi pelanggan tetap.

Salah satunya Ajeng. Ia mengaku kerap membeli Cilok Gajahan karena cita rasa dan pilihan tingkat kepedasannya.

“Saya sering beli cilok di sini karena enak, dalamnya ada tetelan sapinya, selain itu pedasnya mantap bisa pilih level,” ucap Ajeng, salah satu pelanggan tetap Cilok Gajahan.

Keuntungan Bukan Sekadar Uang

Perkembangan Cilok Gajahan membuat Syahrul melihat keberhasilan usaha dari sudut pandang yang lebih luas.

Menurutnya, rekomendasi pelanggan kepada orang lain menjadi salah satu bentuk keuntungan yang nilainya tidak bisa sekadar dihitung dari pemasukan.

Syahrul menilai, pertumbuhan usaha juga berarti semakin luasnya jaringan, terbukanya kesempatan kerja, dan semakin kuatnya identitas produk lokal.

“Bagi saya keuntungan bukan hanya dihitung uang masuk ke rekening karena ada yang lebih utama, yaitu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, memperluas jaringan dan yang terpenting membangun brand lokal,” ungkap Syahrul.

Kini, Cilok Gajahan telah berkembang hingga memiliki 11 lokasi penjualan. 

Perjalanan dari Alun-Alun Kidul menuju berbagai titik penjualan tersebut menjadi bagian dari proses panjang Syahrul mempertahankan usaha kuliner lokal.

Ia berharap, perjalanan Cilok Gajahan dapat menjadi contoh bagi pelaku UMKM lain bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk berkembang.

Syahrul meyakini konsistensi, kemauan untuk terus belajar, serta komitmen menjaga kualitas menjadi modal penting bagi usaha kecil untuk bertahan dan berkembang.

Kisah Cilok Gajahan juga menunjukkan bahwa kemitraan dapat membuka ruang pertumbuhan bagi UMKM. 

Kolaborasi bersama Alfamidi menjadi salah satu bagian dari perjalanan usaha Syahrul Guci dalam memperluas jangkauan pasar sekaligus mempertahankan produk jajanan lokal Yogyakarta. (Ken). 

Exit mobile version