Site icon PROSA.ID

Bangkit dari Halusinasi, Desty Kembali Mengajar Berkat Pendampingan Kesehatan Jiwa di Kulon Progo

Kegiatan Summer Course 2026 FK-KMK UGM di Temon, Kulon Progo, Rabu (3/11/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Kulon Progo – Perjalanan Desty Endah Nurmalasari menghadapi gangguan kesehatan jiwa tidak berlangsung singkat. 

Lulusan S1 Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu pernah mengalami halusinasi pendengaran hingga kehilangan kendali atas dirinya. 

Kini, setelah menjalani pengobatan rutin dan mengikuti pendampingan kelompok, Desty kembali menjalani aktivitas serta mengajar les.

Pengalaman Desty menunjukkan bahwa pemulihan orang dengan disabilitas psikososial (ODDP) tidak cukup hanya mengandalkan obat. 

Dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan kegiatan bersama juga berperan penting dalam membantu penyintas membangun kembali kepercayaan diri serta kemandirian.

Desty mulai mengalami gangguan kesehatan jiwa pada 2012, ketika berusia sekitar 22–23 tahun. 

Saat itu, ia baru menyelesaikan sidang skripsi dan bersiap mengikuti wisuda.

Di tengah perasaan senang, cemas, dan khawatir menjelang wisuda, Desty mulai mendengar suara yang seolah-olah memerintah dirinya.

“Saya ingat banget waktu mau wisuda. Saat itu saya naik motor dari Kulon Progo ke Beringharjo untuk membeli kebaya. Tiba-tiba ada suara yang bilang, ‘Desti, kamu diikuti orang. Ayo, ngebut!’,” ceritanya saat ditemui di Balai Desa Kalurahan Kedundang, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Rabu (3/11/2026). 

Desty mengatakan, suara tersebut terus muncul selama beberapa bulan. Namun, ia belum mendapatkan penanganan kesehatan jiwa karena keluarganya belum memahami kondisi yang ia alami.

Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, membaca buku, dan tertawa sendiri. Kondisinya kemudian memburuk hingga beberapa kali mengalami ledakan emosi.

Desty bahkan pernah melempar gelas ketika emosinya tidak terkendali. Kondisi tersebut berlangsung cukup lama dan membuat aktivitas sehari-harinya terganggu.

Keluarga akhirnya membawa Desty menemui psikiater di rumah sakit. Dokter memberikan obat untuk membantu mengendalikan gejalanya. 

Namun, Desty sempat menghentikan pengobatan karena belum mendapatkan pendampingan dan pengawasan secara rutin.

“Saya sempat berobat, tetapi beberapa bulan kemudian berhenti minum obat sendiri. Waktu itu belum ada kader kesehatan jiwa yang mengingatkan bahwa pengobatan harus terus berjalan,” ungkapnya.

Pendampingan YAKKUM Bantu Desty Bangkit

Summer Course 2026 FK-KMK UGM, di Temon, Kulon Progo, Rabu (3/11/2026). (prosa/ken).

Titik balik pemulihan Desty terjadi pada 2017. Saat itu, kader kesehatan jiwa bersama pendamping dari YAKKUM datang ke rumahnya.

Mereka mendorong Desty kembali menjalani pengobatan dan mengingatkan pentingnya mengonsumsi obat secara teratur. 

Selain itu, Desty mulai mengikuti kegiatan Self Help Group (SHG) atau kelompok swabantu di tingkat desa.

Melalui SHG, Desty bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Mereka saling berbagi cerita, mengikuti kegiatan bersama, dan membangun kembali hubungan sosial.

Desty menilai kegiatan tersebut memberikan pengaruh besar terhadap proses pemulihannya. 

Ia tidak hanya mendapatkan dukungan untuk menjalani pengobatan, tetapi juga kesempatan mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri.

Perubahan mulai terasa pada 2019. Kondisinya semakin membaik pada 2020 hingga 2021. 

Memasuki 2023, Desty merasa semakin mampu mengendalikan emosi dan menjalani aktivitas secara mandiri.

Ia bahkan mendapat kesempatan mengikuti berbagai seminar dan kegiatan di luar daerah hingga luar negeri. 

Dalam sejumlah kegiatan, Desty dipercaya menjadi peserta, pembicara, hingga pembawa acara.

“Awalnya saya gugup sekali. Ketika pertama kali diminta menjadi MC dalam kegiatan SHG, rasanya berkeringat dan tidak percaya diri. Namun, lama-lama saya terbiasa. Saya juga mulai berani berbicara di depan banyak orang,” katanya.

Menurut Desty, pengobatan dan dukungan sosial memiliki peran yang sama penting. 

Obat membantu mengendalikan gejala, sedangkan interaksi sosial membuatnya kembali merasa diterima dan memiliki ruang untuk berkembang.

“Yang membuat saya bahagia ternyata bukan hanya obat. Saya bisa mengenal banyak orang lagi, diajak ngobrol, dan mengikuti kegiatan. Jadi, pengobatan dan dukungan sosial itu sama pentingnya,” ujarnya.

Kembali Mengajar dan Mendorong Kemandirian

Pemulihan juga membuka jalan bagi Desty untuk kembali mengembangkan kemampuan di bidang pendidikan.

Sebelum mengalami gangguan kesehatan jiwa, Desty sudah mengajar les sejak 2008. 

Namun, ketika halusinasi mulai muncul pada 2012, ia mendengar suara yang melarangnya bekerja.

Melalui pendampingan YAKKUM, Desti kembali didorong untuk menentukan aktivitas yang ingin ia jalani. Ia menyampaikan keinginannya untuk kembali mengajar.

Pendamping kemudian membantu mewujudkan keinginannya. Kini, Desty kembali menjadi tutor bagi anak-anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Ia biasanya memanfaatkan fasilitas di kalurahan untuk menjalankan kegiatan mengajar. 

Jumlah muridnya memang berkurang setelah pandemi Covid-19, tetapi ia tetap berusaha mempertahankan aktivitas tersebut.

Selain mengajar, Desty aktif mengikuti kegiatan SHG dan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK). 

Kelompok ini menjadi ruang bagi penyandang disabilitas psikososial untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan saling memberikan dukungan.

Desty mengungkapkan, perubahan juga mulai terlihat pada anggota kelompok lainnya. 

Sejumlah orang yang sebelumnya kesulitan berkomunikasi kini mulai tersenyum, berbicara, dan berinteraksi dengan lingkungan.

“Kalau dulu mungkin hanya beberapa orang yang bisa bertahan dan aktif. Sekarang teman-teman lain juga mulai tersenyum, ngobrol, dan berani berbicara. Senang sekali melihat perkembangannya,” tuturnya.

SHG di wilayahnya menggelar pertemuan satu kali setiap bulan. Anggota kelompok saling menyapa, menanyakan kabar, hingga berbagi cerita tentang kegiatan sehari-hari.

Bagi Desty, interaksi sederhana seperti itu memiliki arti besar. Kelompok tersebut memberikan ruang aman bagi penyintas untuk berekspresi tanpa merasa dikucilkan.

“Saya berharap kegiatan pendampingan terus berjalan agar semakin banyak penyandang disabilitas psikososial mendapatkan kesempatan untuk pulih dan mandiri,” paparnya. 

Puskesmas Temon I Catat 73 Pasien Gangguan Jiwa Berat

Sementara itu, Kepala Puskesmas Temon I, Setiaji Wibowo, menjelaskan bahwa pihaknya menjalankan program pendampingan kesehatan jiwa melalui kegiatan penyuluhan, Self Help Group (SHG), dan terapi aktivitas kelompok (TAK).

Puskesmas menyelenggarakan kegiatan tersebut bersama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), YAKKUM, kader kesehatan, keluarga, serta unsur masyarakat.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026), mahasiswa summer course memberikan penyuluhan kepada kader dari delapan kalurahan di wilayah kerja Puskesmas Temon I.

Pada saat bersamaan, kelompok ODDP, keluarga pendamping, dan kader mengikuti kegiatan SHG serta TAK di gedung pertemuan.

Setiaji menjelaskan, peserta mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari senam, latihan fisik, berbagi pengalaman, hingga permainan bersama. 

Pada pertemuan tertentu, peserta juga membuat kerajinan tangan sebagai bagian dari terapi aktivitas.

“Kegiatannya biasanya ada aktivitas fisik, misalnya senam dan gym. Kemudian ada sharing dari pasien sendiri, keluarga pendamping, maupun kader. Kadang-kadang kami juga membuat kerajinan tangan,” jelas Setiaji.

Setiaji menyebut, Puskesmas Temon I mencatat sekitar 73 orang dengan gangguan jiwa berat di wilayah kerjanya yang mencakup delapan kalurahan. Jumlah tersebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan, pasien dengan kondisi berat, seperti skizofrenia dan psikosis yang disertai halusinasi atau delusi, membutuhkan pengobatan rutin dan pendampingan berkelanjutan.

Sementara itu, pasien dengan gangguan ringan hingga sedang biasanya mendapatkan layanan konsultasi di Puskesmas sesuai kebutuhan.

Setiaji melihat sejumlah perubahan positif setelah pasien mengikuti program pendampingan secara rutin. 

Salah satunya, angka kekambuhan pasien menurun. Kesadaran untuk menjalani pengobatan secara teratur juga semakin meningkat.

Bahkan, beberapa pasien mampu kembali menjalankan aktivitas ekonomi secara mandiri.

“Ada yang sudah bisa mandiri, artinya bisa bekerja dan mencari uang. Ada yang menjadi guru les, ada juga yang beternak,” ungkapnya.

Stigma Menurun, Keluarga Semakin Terbuka

Setiaji menambahkan, penerimaan keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan jiwa juga semakin baik.

Jika dahulu sebagian keluarga masih menyembunyikan pasien atau menghambat akses layanan kesehatan, kini kondisi tersebut semakin jarang terjadi.

Ia menjelaskan, perubahan sikap keluarga ikut mempermudah petugas kesehatan memberikan pengobatan dan pendampingan.

Puskesmas juga melibatkan kader kesehatan jiwa untuk membantu memantau kondisi pasien. 

“Kami melakukan pendekatan kepada keluarga, mengingatkan pasien menjalani pengobatan, serta membantu pasien mengikuti kegiatan sosial,” imbuhnya. 

Setiaji menambahkan, YAKKUM telah mendampingi upaya kesehatan jiwa di wilayah tersebut sejak 2017. 

Pendampingan itu mencakup sosialisasi, kunjungan rumah, pelatihan, serta pengembangan kegiatan SHG dan TAK.

Selain pasien, program tersebut juga menyasar keluarga dan kader. Sebab, tidak semua pasien mampu memahami kondisi maupun menyampaikan kebutuhan mereka secara mandiri.

“Pasien ada yang sudah bisa menangkap materi, ada yang setengah memahami, dan ada yang belum. Karena itu, pendamping keluarga diperlukan agar mereka memahami bagaimana cara mendampingi pasien,” ucapnya.

Puskesmas juga melakukan skrining kesehatan jiwa secara berkala, termasuk melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

Langkah tersebut membantu petugas memantau kondisi kesehatan masyarakat, termasuk kader yang terlibat dalam pendampingan.

Setiaji menyampaikan, kader berasal dari masyarakat setempat. Mereka ikut mendampingi pasien dan memberikan perhatian melalui interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan bersama juga memberikan manfaat bagi kader. Selain membantu pasien, para kader memperoleh kepuasan batin karena bisa melayani tetangga dan warga yang membutuhkan dukungan,” lanjutnya. 

Puskesmas Temon I Masih Membutuhkan Psikolog

Meski menunjukkan perkembangan positif, Setiaji mengakui Puskesmas Temon I masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, khususnya tenaga psikolog.

Saat ini, Puskesmas Temon I memiliki tiga dokter umum dan satu perawat yang bertugas sebagai pengelola program kesehatan jiwa.

Setiaji memaparkan, setiap Puskesmas sebenarnya memiliki program kesehatan jiwa. 

Meski demikian, belum semua fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kulon Progo memiliki psikolog.

Beberapa Puskesmas, seperti Panjatan II, Sentolo I, dan Ngalur II, sudah memiliki tenaga psikolog. 

Sementara itu, Puskesmas Temon I belum mendapatkan tenaga tersebut meskipun formasi kebutuhannya sudah tersedia.

“Kalau psikolog, idealnya satu orang di setiap Puskesmas. Kami juga menginginkan kebutuhan itu segera terpenuhi,” katanya.

Untuk pasien yang membutuhkan layanan psikologi, Puskesmas Temon I sementara mengarahkan mereka ke fasilitas kesehatan lain yang memiliki psikolog atau rumah sakit.

Namun, mekanisme rujukan tersebut membuat pasien harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mendapatkan layanan.

Keberadaan psikolog di Puskesmas lanjut Setiaji, akan membantu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mempermudah akses pasien.

Di sisi lain, ia menegaskan pasien tetap harus menjalani pengobatan sesuai jenis obat dan dosis yang dokter tentukan. 

Jika pasien mengalami kekambuhan, petugas akan melakukan penanganan dan rujukan sesuai kondisi klinisnya.

“Pengobatan harus rutin, setiap bulan sesuai jenis obat dan dosisnya. Kalau kambuh, kami lakukan rujukan, termasuk ketika pasien sudah minum obat tetapi kemudian terlewat atau berhenti mengonsumsinya,” pungkasnya. (Ken). 

Exit mobile version