Site icon PROSA.ID

Angkat Isu Kesurupan Massal dan Tekanan Akademik, Remaja DIY Gunakan Film untuk Kampanyekan Kesehatan Mental

Diskusi 'Ruang Aman untuk Kita' yang digelar Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) melalui Program ASIK, Sabtu (27/6/2026). (prosa/ken).

PROSA.ID, Yogyakarta – Remaja di Daerah Istimewa Yogyakarta mengambil peran sebagai penggerak kampanye kesehatan mental melalui karya film.

Mereka mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari fenomena kesurupan massal di sekolah hingga tekanan akibat tuntutan nilai akademik.

Melalui karya tersebut, mereka mengajak masyarakat melihat isu kesehatan mental dari sudut pandang yang lebih terbuka dan ilmiah.

Semangat itu mewarnai peluncuran dua film pendek Histeria Kolektif dan Di Balik Nilai Merah sekaligus Buku Saku Sehat Mental Remaja dan Orang Muda.

Kegiatan tersebut dikemas dalam acara bertajuk ‘Ruang Aman untuk Kita’  yang digelar Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) melalui Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa, Inisiatif dan Kontribusi Orang Muda) dengan dukungan CBM Global di Auditorium IFI Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan lebih dari 80 peserta.

Mereka berasal dari berbagai SMA dan SMK di DIY, Forum Anak, organisasi penyandang disabilitas, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman.

Film Menjadi Media yang Paling Dekat dengan Remaja

Project Manager Program ASIK YAKKUM, Fina Umi menjelaskan, pihaknya memilih film karena media tersebut lebih mudah menjangkau remaja dibandingkan penyampaian materi melalui buku atau literatur ilmiah.

“Tujuan utama peluncuran film ini untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental pada orang muda,” katanya.

Fina menjelaskan, para siswa menyusun sendiri ide cerita melalui diskusi mengenai persoalan yang mereka alami di sekolah maupun lingkungan sekitar.

Mereka kemudian mengembangkan hasil diskusi itu menjadi dua film dengan tema yang berbeda.

Film Histeria Kolektif mengangkat fenomena kesurupan massal yang kerap terjadi di sekolah.

Melalui pendekatan dokumenter, para pembuat film mengajak masyarakat memahami bahwa kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan hal mistis.

Akan tetapi, dapat dipicu oleh tekanan psikologis, stres, kelelahan, kepanikan yang menyebar, maupun kondisi kesehatan mental yang terganggu.

“Kami memilih isu histeria kolektif karena selama ini kesurupan massal selalu dikaitkan dengan hal gaib. Padahal belum tentu. Bisa saja berawal dari kepanikan yang menular, kelelahan, stres, overthinking, atau tekanan yang dialami siswa,” kata Bilqis dari Tim Lotus SMAN 1 Seyegan.

Sementara itu, film Di Balik Nilai Merah mengisahkan seorang siswa yang terus menerima stigma akibat nilai akademiknya rendah.

Para pembuat film mengajak guru, orang tua, dan masyarakat memahami bahwa setiap siswa memiliki latar belakang dan tantangan yang berbeda.

“Melalui film ini kami ingin mengingatkan bahwa guru tidak seharusnya menghakimi murid hanya karena nilainya jelek. Banyak siswa sebenarnya sedang berjuang menghadapi persoalannya sendiri,” ujar Riantika dari Tim Aerox SMAN 1 Seyegan.

PRYAKKUM Dorong Remaja Menjadi Agen Perubahan

Manajer Program Rehabilitasi PRYAKKUM, Christian Pramudya, menegaskan persoalan kesehatan mental remaja membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Karena itu, pihaknya mendorong remaja ikut merancang dan menjalankan kampanye kesehatan mental melalui media yang mereka kuasai.

“Kita membutuhkan partisipasi aktif orang muda. Film ini menjadi ruang bagi siswa untuk menyuarakan keresahan mereka sekaligus memberikan edukasi kepada teman-teman sebayanya,” ungkapnya.

Christian menjelaskan proses pembuatan film, mulai dari riset, penyusunan cerita, produksi hingga peluncuran, telah menjadi ruang belajar sekaligus ruang dialog bagi para siswa.

Melalui proses tersebut, mereka belajar membicarakan kesehatan mental secara terbuka sekaligus menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Ia menambahkan remaja tidak boleh hanya menjadi penerima manfaat program kesehatan mental.

“Mereka harus ikut merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan mereka,” ungkapnya.

Buku Saku Perkuat Literasi Kesehatan Mental

Selain meluncurkan film, PRYAKKUM juga meluncurkan Buku Saku Sehat Mental Remaja dan Orang Muda yang disusun bersama organisasi REMISI.

Buku tersebut memuat informasi dasar mengenai kesehatan mental, pengelolaan emosi, hubungan yang sehat, tantangan masa remaja, hingga panduan mencari bantuan profesional.

Fina mengungkapkan, buku tersebut juga membantu remaja menghindari kebiasaan melakukan self-diagnosis berdasarkan informasi media sosial.

“Sering kali remaja membaca konten di media sosial lalu langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan tertentu,” tandasnya.

Padahal diagnosis, lanjut Fina, tidak bisa dilakukan sendiri. Buku ini membantu mereka mengenali dirinya melalui informasi yang benar dan latihan refleksi diri.

“Kami juga melibatkan psikolog dalam penyusunan buku maupun proses produksi film sehingga seluruh materi tetap mengacu pada pendekatan ilmiah,” paparnya.

Kolaborasi Jadi Kunci Pencegahan

Perwakilan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman, Cahyono Setyowibowo, mengapresiasi keterlibatan siswa dalam kampanye kesehatan mental.

Ia menilai, kolaborasi antara sekolah, pemerintah, organisasi masyarakat, dan keluarga menjadi kunci menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

Ia juga menyampaikan bahwa satu dari tiga remaja saat ini mengalami gangguan kesehatan mental.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan literasi kesehatan mental sejak dini.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan PRYAKKUM dan siswa-siswi SMAN 1 Seyegan. Film ini dapat menginspirasi siswa lain agar menjadi agen perubahan dalam menyuarakan isu kesehatan mental di DIY,” imbuhnya.

Fina berharap, kedua film tersebut dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas setelah melalui proses penyempurnaan sebelum dipublikasikan.

“Kami ingin karya teman-teman muda ini menjadi media edukasi yang dapat dimanfaatkan di sekolah, komunitas, maupun ruang publik,” paparnya.

Iaberharap, semakin banyak remaja berani berbicara tentang kesehatan mental dan mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional.

Selain meluncurkan film dan buku, penyelenggara juga menghadirkan pertunjukan musik, tari, monolog bertema kesehatan mental, layanan skrining kesehatan jiwa, permainan edukatif, kegiatan kreatif, serta layanan konsultasi terapi.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut memperkuat komitmen PRYAKKUM untuk membangun ruang aman bagi remaja.

Tujuannya, agar mereka dapat berbicara, saling mendukung, dan menjaga kesehatan mental secara bersama-sama. (Ken).

Exit mobile version