PROSA.ID, Yogyakarta – Kabupaten Sleman memiliki modal besar untuk menghadapi bonus demografi.
Sebanyak 250.322 pemuda usia 18-30tahun tercatat menjadi bagian dari populasi daerah ini.
Namun, jumlah besar tersebut juga menghadirkan tantangan.
Kesehatan mental, karakter, penyalahgunaan narkotika, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja dan usaha menjadi persoalan yang perlu ditangani bersama.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman, HeruSaptono mengatakan, pemuda tidak cukup hanya dibekali kecerdasan akademik.
Menurutnya, generasi muda Sleman harus tumbuh sebagai pribadi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
“Generasi muda yang berkualitas itu diperlukan dalam membangun Sleman yang lebih baik melalui pemuda yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing,” kata Heru dalam konferensi pers di Kesbangpol Sleman, Selasa (6/10/2026).
250.322 Pemuda Sleman Jadi Potensi Bonus Demografi
Heru mengungkapkan, besarnya populasi pemuda menjadi kekuatan penting bagi masa depan Kabupaten Sleman.
Mereka diharapkan menjadi penggerak inovasi, perubahan sosial, pembangunan, hingga pertumbuhan ekonomi.
“Jumlah 250.322 jiwa itu sekitar 30 persen dari jumlah penduduk,” jelas Heru.
Potensi tersebut, kata dia, harus disiapkan sejak sekarang.
Sebab, tanpa pembinaan yang tepat, berbagai persoalan sosial dan kesehatan mental dapat menghambat produktivitas generasi muda.
“Ini yang apabila tidak kita kendalikan, bisa mengarah ke gangguan mental,” ujarnya.
Karena itu, pembangunan pemuda di Sleman diarahkan pada empat aspek utama, yakni kesehatan fisik dan mental, kecerdasan, karakter, serta daya saing.
Dispora Sleman Fokus Cegah Perilaku Negatif
Salah satu program utama Dispora Sleman adalah pembentukan karakter bagi pemuda.
Pembinaan dilakukan untuk mencegah perilaku negatif di kalangan pemuda di wilayah kapanewon dan kalurahan. Program serupa juga menyasar pelajar sekolah menengah.
Dalam pelaksanaannya, Dispora menggandeng sejumlah pihak, mulai dari BNN, Dinas Kesehatan melalui psikolog, kepolisian, praktisi, hingga Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Remaja (BPRSR).
Pendekatan yang digunakan juga tidak hanya berupa penyuluhan.
Dispora menghadirkan mantan pengguna narkotika dan zat adiktif lainnya untuk membagikan pengalaman mereka ketika keluar dari lingkungan ketergantungan.
Heru menilai, pengalaman tersebut penting karena generasi muda dapat melihat secara langsung risiko penyalahgunaan narkotika.
“Yang sudah sadar dan sudah kembali ke jalan yang benar itu kemudian kita undang sebagai narasumber untuk menjelaskan bagaimana dia bisa keluar dari lingkungan ketergantungan atau lingkungan penyalahgunaan napza,” jelasnya.
Program pembentukan karakter tersebut pada 2026 mencakup empat angkatan bagi pemuda di wilayah kapanewon/kalurahan serta tujuh angkatan bagi pemuda di sekolah menengah.
Pemuda Sleman Didorong Jadi Wirausaha
Selain karakter, kemampuan ekonomi juga menjadi perhatian Dispora Sleman.
Pemuda yang mulai merintis usaha dibekali pelatihan manajemen dan digitalisasi pemasaran.
Program tersebut digelar dalam 14 angkatan dengan 30 peserta setiap angkatan.
Perubahan perilaku konsumen membuat kemampuan pemasaran digital semakin penting bagi pelaku usaha muda.
Heru menyebut, pemuda harus memahami bagaimana membangun merek sekaligus memasarkan produknya melalui platform digital.
“Branding produk bagi generasi muda itu kalau tidak kita bekali ilmu, saya kira mereka akan kesulitan dalam hal memasarkan,” ungkapnya.
Tidak berhenti pada pelatihan, Dispora Sleman juga menggelar Seleksi atau Pemilihan Juragan Muda pada 7-8 Oktober 2026.
“Sebanyak 15 pemenang akan mendapatkan apresiasi pada 28 Oktober 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda,” imbuh Heru.
Kreativitas Pemuda Disediakan Ruang
Ruang kreativitas juga menjadi bagian dari strategi pengembangan pemuda di Sleman.
Dispora akan menggelar Lomba Grafitidan Mural pada 24 Oktober 2026 di Cangkringan.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi pemuda yang memiliki minat terhadap seni visual.
Menurut Heru, bakat dan kreativitas anak muda perlu diarahkan ke ruang yang positif.
“Coret-coret di jalan kita fasilitasi dengan lomba grafiti dan mural,” ujarnya.
Selain seni visual, kreativitas musik juga mendapat ruang melalui Festival Band antarsiswa SMA, SMK, dan MA sederajat yang dijadwalkan berlangsung pada 10 dan 17 Oktober 2026.
Kepemimpinan Pemuda Terus Diperkuat
Generasi muda juga disiapkan menjadi pemimpin melalui program Pemilihan Pemuda Pelopor dan Duta Pemuda 2026.
Program tersebut diharapkan mendorong lahirnya anak muda yang tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial, tetapi juga mampu menjadi penggerak di lingkungannya.
Penguatan kapasitas juga dilakukan melalui pembinaan organisasi kepemudaan.
Sebanyak 20 angkatan mendapatkan pembinaan dengan materi kepemimpinan, public speaking, personal branding, dan kemandirian pemuda.
Dispora Sleman juga menyiapkan Temu Pemuda Kabupaten Sleman dalam empat angkatan.
“Tiga kegiatan dijadwalkan pada 20-21 Oktober, 3-4 November, serta 17-18 November 2026,” lanjut Heru.
Pramuka Jadi Bagian Pembentukan Karakter
Di sisi lain, pembentukan karakter pemuda juga dilakukan melalui penguatan kelembagaan kepramukaan.
Dispora Sleman menyelenggarakan Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar sebanyak tiga angkatan.
Masing-masing angkatan diikuti 45 peserta dengan pelaksanaan 70 jam pelajaran.
Selain itu, terdapat lomba pembina dan gugus depan berprestasi tingkat Kabupaten Sleman yang melibatkan 17 kwartir ranting.
Kegiatan kepramukaan juga akan dilanjutkan melalui Pengembaraan Akhir Tahun atau Barata yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Desember 2026 hingga 1 Januari 2027 di Lapangan Pemda Sleman.
Pemerintah, Masyarakat dan Media Harus Bergerak Bersama
Heru menegaskan, pembangunan generasi muda berkualitas tidak bisa dilakukan pemerintah seorang diri.
Pemerintah memiliki tugas menyediakan kebijakan, fasilitas, dan program. Sementara masyarakat berperan menciptakan lingkungan yang positif dan inklusif.
Di sisi lain, media memiliki posisi strategis dalam menyebarkan informasi positif dan edukatif sekaligus meningkatkan kesadaran publik.
“Generasi muda yang berkualitas itu tidak hanya ditentukan oleh pembinaannya oleh pemerintah saja. Harapannya masyarakat ikut menciptakan lingkungan yang positif dan inklusif, dan media memberitakan informasi yang positif, edukatif, dan membangun kesadaran publik,” tutur Heru.
Dengan pembinaan yang dilakukan secara bersama-sama, bonus demografi di Sleman diharapkan tidak berhenti pada besarnya jumlah penduduk usia muda.
Pemuda Sleman diharapkan tumbuh menjadi generasi yang sehat secara fisik dan mental, memiliki karakter kuat, mampu berinovasi, mandiri secara ekonomi, serta siap bersaing.
“Investasi terbaik bukan pada harta, tetapi pada generasi muda,” pungkas Heru. (Ken).

