YOGYAKARTA — Paniradya Kaistimewan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong generasi muda, khususnya Gen Z, untuk mengenal asal-usul dan nilai di balik predikat keistimewaan Yogyakarta.
Upaya tersebut menjadi bagian dari peringatan 14 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY (UUK DIY).
Paniradya Kaistimewan mengemas peringatan tersebut melalui rangkaian Memetri Kaistimewan.
Kegiatan ini tidak sekadar menandai perjalanan 14 tahun UUK DIY, tetapi juga mengajak masyarakat merawat nilai, budaya, pengetahuan, dan kehidupan yang menjadi bagian dari keistimewaan Yogyakarta.
Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan mengatakan, perjalanan 14 tahun UUK DIY memberikan waktu yang cukup untuk melihat perkembangan pelaksanaan keistimewaan di tengah masyarakat.
Menurutnya, keistimewaan tidak hanya berkaitan dengan kebijakan dan kelembagaan, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat merawat nilai serta budaya yang hidup di Yogyakarta.
“Memetri kami maknai sebagai upaya merawat, menjaga, dan menghidupkan sesuatu yang kita anggap bernilai,” kata Kurniawan dalam Media Gathering Memetri Keistimewaan di Omah Dhuwur Resto, Jum’at (11/9/2026).
14 Tahun Keistimewaan Mulai Menjangkau Kalurahan
Dari sisi perencanaan, perjalanan 14 tahun UUK DIY telah melewati tiga periode pembangunan jangka menengah.
Setiap periode lima tahunan menjadi bagian penting dalam mencapai visi pembangunan jangka panjang 20 tahun.
Kurniawan mengungkapkan, pelaksanaan program keistimewaan kini semakin luas.
Pemerintah tidak lagi hanya menjalankan program pada tingkat provinsi, tetapi juga mendorong pemanfaatannya hingga tingkat kalurahan.
“Kalau di perencanaan sudah tiga kali jangka menengah. Dalam periode jangka menengah, visi, misi, dan program lima tahunan menjadi bagian terpenting dari yang 20 tahun,” ujarnya.
Menurut Kurniawan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa program keistimewaan semakin dekat dengan masyarakat.
Hampir seluruh kalurahan di DIY telah memanfaatkan program yang berkaitan dengan urusan keistimewaan.
“Meski jangkauan program semakin luas, kami melihat masih ada tantangan dalam membangun pemahaman masyarakat, terutama generasi muda,” jelasnya.
Gen Z Banyak Belum Tahu Asal-Usul Jogja Istimewa
Kurniawan menilai, generasi Z perlu mendapat ruang lebih besar untuk mengenal sejarah dan alasan Yogyakarta memperoleh predikat sebagai daerah istimewa.
“Gen Z banyak yang tidak tahu asal-usul predikat istimewa,” katanya.
Karena itu, Paniradya Kaistimewan mengembangkan berbagai kegiatan yang menyasar anak muda.
Salah satunya melalui Jogja Menyapa, yang juga diarahkan untuk mengenalkan Yogyakarta kepada para pendatang agar mereka dapat memahami karakter daerah sekaligus ikut menjaga keistimewaannya.
Kurniawan melihat keberagaman masyarakat sebagai bagian penting dari kehidupan Yogyakarta.
Berbagai latar belakang masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di DIY dapat mengambil peran dalam merawat keistimewaan.
“Miniatur Indonesia ada di Jogja,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Paniradya menargetkan pengetahuan mengenai keistimewaan Yogyakarta semakin luas.
Generasi muda diharapkan tidak hanya mengetahui istilah dan lagu ‘Jogja Istimewa’, tetapi juga memahami nilai dan sejarah yang melatarbelakanginya.
Memetri Kaistimewan Dekatkan Budaya dengan Masyarakat
Untuk mencapai tujuan tersebut, Paniradya mengemas peringatan 14 tahun UUK DIY melalui berbagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tahun ini, Paniradya menggunakan tajuk ‘Memetri Kaistimewan’. Kurniawan menjelaskan istilah tersebut memiliki makna merawat, menjaga, dan menghidupkan sesuatu yang bernilai.
Tema yang diusung yakni ‘Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad’.
Tema tersebut menjadi pengingat bahwa keistimewaan harus bermuara pada kehidupan masyarakat yang semakin baik.
“Nilai keistimewaan tidak cukup hanya dipahami sebagai warisan sejarah, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku, karya, pembangunan yang memberi manfaat, serta kontribusi bersama bagi Yogyakarta,” jelas Kurniawan.
Pembukaan Memetri Kaistimewan berlangsung di Lapangan Paseban, Bantul, Sabtu (15/8/2026) lalu.
Paniradya menghadirkan berbagai kegiatan yang mempertemukan masyarakat dengan seni, budaya, teknologi, dan pembelajaran.
Jathilan dan Toneel Kaistimewan menjadi bagian dari pertunjukan budaya yang mengangkat keberagaman kabupaten dan kota di DIY.
Selain itu, Paniradya juga menghadirkan senam bersama bagi lansia untuk membuka ruang partisipasi masyarakat dalam suasana yang lebih dekat.
Teknologi turut masuk dalam rangkaian kegiatan melalui VR Tata Ruang.
Media tersebut memberikan pengalaman interaktif kepada masyarakat untuk mengenal pengetahuan mengenai tata ruang dan kaitannya dengan keistimewaan.
Selain itu, masyarakat dapat mengikuti sejumlah workshop, seperti Bahasa Isyarat Indonesia, Mewiru Jarik, Membuat Dluwang, dan klinik aksara.
Paniradya juga membuka layanan kependudukan, literasi, dan kesehatan serta melibatkan pelaku UMKM.
Kehadiran UMKM diharapkan ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.
Puncak 14 Tahun UUK DIY Hadirkan Kenduri Kaistimewan
Setelah pembukaan, rangkaian Memetri Kaistimewan berlanjut hingga Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026).
Kegiatan puncak menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan 14 tahun keistimewaan sekaligus mengevaluasi tanggung jawab yang menyertainya.
Paniradya menghadirkan KenduriKaistimewan dengan sejumlah kegiatan budaya.
Rangkaian tersebut meliputi Kirab Budaya, Tari Ritual Memetri Kaistimewan, Umbul Donga, potong tumpeng, hingga Kembul Bujana Memetri Kaistimewan.
Kurniawan menilai, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal, mengalami, sekaligus menghayati praktik budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Sementara rangkaian Memetri Kaistimewan kemudian ditutup di Teras Malioboro Beskalan pada Sabtu (12/9).
Paniradya menghadirkan workshop Mewiru Jarik, Wayang Suket, dan Membuat Dluwang sebagai ruang pembelajaran budaya yang terbuka dan partisipatif.
Pada penutupan, Swaraning Kaistimewan menghadirkan beragam genre musik, mulai dari pop, keroncong, reggae, band religi, hingga musik disabilitas.
Penampilan tersebut melibatkan perwakilan kabupaten dan kota se-DIY dengan peserta lintas usia, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas.
Paniradya kemudian melakukan pembunyian otok-otok secara bersama-sama sebagai simbol berakhirnya rangkaian Memetri Kaistimewan tahun ini.
Keistimewaan Harus Terus Menjawab Kebutuhan Masyarakat
Bagi Kurniawan, berakhirnya rangkaian kegiatan bukan berarti proses memetri atau merawat keistimewaan ikut selesai.
Justru, peringatan 14 tahun UUK DIY menjadi momentum untuk melihat capaian yang telah diraih sekaligus mengidentifikasi berbagai hal yang masih perlu diperbaiki.
“Ke depan, pelaksanaan keistimewaan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Kurniawan menambahkan, kebudayaan perlu berjalan bersama pengembangan pengetahuan, penguatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik, pertanahan, tata ruang, serta berbagai bidang lain yang menjadi bagian dari kewenangan keistimewaan.
Ia menekankan pemerintah tidak dapat menjalankan proses tersebut sendirian.
Masyarakat, komunitas, pelaku budaya, pelaku usaha, akademisi, generasi muda, dan berbagai pihak lain memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan keistimewaan.
Paniradya Kaistimewan juga mengapresiasi keterlibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemda DIY, pemerintah kabupaten dan kota, komunitas, pelaku UMKM, seniman, akademisi, media, serta masyarakat dalam rangkaian kegiatan.
Dukungan juga datang dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang turut mengangkat nilai-nilai luhur sebagai fondasi keistimewaan DIY.
Kurniawan berharap, kolaborasi tersebut terus berkembang sehingga keistimewaan tidak berhenti sebagai konsep, seremoni, atau warisan sejarah.
“Penutupan ini bukan berarti proses memetri juga selesai. Justru setelah rangkaian peringatan berakhir, semangat untuk merawat keistimewaan perlu terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Ajak Masyarakat Ambil Peran
Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Kaistimewan DIY, Andreas Bagus Nugroho menambahkan, pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan keistimewaan.
Menurut Andreas, setiap pihak memiliki ruang untuk memberikan kontribusi.
Masyarakat dapat mengambil peran melalui berbagai kegiatan yang mempertemukan kebudayaan dengan kehidupan sehari-hari.
“Kolaborasi semua pihak bisa mengambil peran, bisa memberikan andil dalam peringatan tersebut,” kata Andreas.
Andreas menyampaikan, Paniradya juga mengajak masyarakat mengenal kembali berbagai bentuk kebudayaan, termasuk permainan atau mainan tradisional.
Kegiatan tersebut melibatkan komunitas seni dan masyarakat dalam proses kreatif, salah satunya melalui pembuatan wayang.
Ia berharap pendekatan berbasis pengalaman tersebut dapat membuat masyarakat semakin dekat dengan kebudayaan.
“Generasi muda pun memiliki kesempatan untuk mengenal tradisi secara langsung sekaligus memahami bahwa keistimewaan merupakan bagian dari kehidupan yang perlu terus dirawat,” pungkasnya. (Ken).

